“Pertanyaan sy yang belum kejawab sampe skarang, kenapa ya kaum alay (dan juga gak sedikit akhwat) klo foto suka narsis, pipi ditembem-tembemin, mulut di moncong-moncongin, dan fotonya dengan kamera hp kurang lebih 45 derajat di atas kepala. Kira2 kenapa ya?”

itu tadi salah satu status Mas Luky Rouf (Inspirator #NikahMulia) di akun Facebook. Hemm… sering liat yang kaya  gitu kaga? Yup, remaja alay dengan segala pernak pernik dan gaya. Pajang foto narsis dan update status yang ngga penting.

Secara langsung emang ngga bikin rugi siapa-siapa. Tapi buat kita yang udah terlanjur nge-friend sama alay mania, lama-kelamaan bisa terinfeksi gaya alay juga loh. Capek deh! Selain gaya alay, yang juga mewabah yaitu gaya hidup ‘selfish’ .

Apakah itu ? Selfish adalah perbuatan/pikiran yang mementingkan kepentingan/keinginan diri sendiri diatas kepentingan yang lain.  Aksi selfish itu kaya gimana sih? Ya, macemmacem. Mulai dari yang sederhana sampai taraf parah.

Update status yang isinya gundah gulana sampai nyerobot jalan busway dengan  alasan pengen nyampe tepat waktu. Ye,,,,  emangnya  orang lain pengen telat?! Atau pas kita nonton TV bareng di rumah, tapi channel  harus nurutin kemauan kita, padahal TV ditonton bareng-bareng. Itu namanya egois.  Sikap selfish bikin kepekaan hati hilang,  kepedulian minim. Sadar atau ngga sadar,  bisa jadi kita udah nerapin selfish.

Jangan egois dan merasa masalah hidup kita jadi yang ‘Maha Besar’ sehingga kita tanpa ragu menyerobot jalan pintas demi urusan kita sendiri.Say no to be selfish! Selflove Selflove… apa pula nih? Kalau kita search di google, singkat cerita, selflove ini definisinya hampir sama alias mirip dengan selfish, hanya saja selflove itu dalam tataran hal-hal positif dan yang alamiah tersimpan sebagai potensi manusia.

Selflove yaitu rasa ingin melindungi diri sekaligus menghormati diri sendiri. Emang benar, sebelum kita paham bagaimana menghargai orang lain, kita lebih dulu hargai diri sendiri. Kita sukses dan kita berbagi sukses tersebut kepada orang lain.

Terlepas adanya perbedaan style antara selfish dan selflove, ternyata Islam punya gagasan yang jauh lebih tokcer. Islam memotivasi umatnya untuk menghargai diri, menghargai orang lain, bahkan mendahului kepentingan orang lain semata-mata untuk mengharap balas dari Allah SWT.

Sebab di dalam Islam diajarkan, “Barang siapa yang meringankan urusan saudaran maka Allah SWT akan meringankan urusannya kelak di akhirat.” Melalui konsep seperti ini, wajar  seorang muslim sejati berlomba-lomba dalam berbuat baik.

Tangannya ringan untuk membantu. Simak kisah sahabat Rasulullah berikut. “Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat sampai kepadanya, ia berkata, “Hendak kemana engkau?” Orang itu berkata, “aku hendak mengunjungi saudaraku di kota ini.” Malaikat berkata, “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?” Ia berkata, “Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.” Malaikat itu berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah.”

Wow dahsyat!!! Empati tanpa pandang bulu dan materi. Kisah sahabat tersebut jangan hanya jadi kisah untuk dikagumi, melainkan bisa diteladani di jaman ini. Mulai dari yang kecil, mulai dari saat ini. Jangan pakai nanti, jangan pakai tapi. Kerjakan saja, rasakan keberkahannya. Yakin deh!!![Alga Biru]

Human instinct

syaikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Nidzham Islam (aturan hidup dalam Islam) membahas seputar naluri/instinct/gharizah yang ada dalam  diri manusia. Salah satunya adalah Naluri Mempertahankan Diri (Gharizah Baqa’). Maksudnya naluri mempertahankan diri. Dengan adanya naluri ini manusia bisa mempertahankan diri suatu ancaman yang menerpa dirinya. Naluri ini mewujud dalam rasa marah, takut, kesal, malu, ingin dihormati, ingin dihargai, dan sebagainya. Nah, selfish boleh dibilang ekspresi dari naluri mempertahankan diri. Pengen eksis dan diakui. Jadinya selalu ngomongin soal  AKU. Seolah dirinya penting untuk jadi pusar perhatian. Padahal, sejatinya hidup itu nggak melulu tentang AKU. Karena  kita makhluk sosial yang memerlukan orang lain dan otomatis juga harus perhatian pada orang lain dan lingkungan sekitar. Inilah yang diajarkan dalam Islam. Ekspresi naluri  mempertahankan diri dalam islam justru diwujudkan salah satunya dengan eksis dalam kepedulian dengan kehadiran orang lain dan lingkungan. Terjun dalam aktifitas dakwah sehingga dikenal penduduk langit dan bumi. Kalo  tetep ngotot bertingkah selfish, itu meniru budaya sekuler Barat. Muslimah, pastinya anti selfish![]