drise-online.com – D’Riser, kalau kamu punya ayah-ibu beda agama, kira-kira gimana rasanya? Kalau ayah kamu ngajak ke gereja, ibu ngajak ke masjid, kamu ikut yang mana? Bingung kan? Pastinya. Apalagi kalau kamu sendiri yang ngalami, nikah dengan pasangan beda agama.

Nah, isu nikah beda agama ini kemarin sempet santer tuh di media-media. Pemicunya, ada lima WNI yang mengajukan judicial review UU Perkawinan yang menyatakan perkawinan beda agama tidak sah. Mereka menilai Pasal 2 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang dinilai berpotensi merugikan hak konstitusional mereka. Hal ini karena para pemuda itu ingin perkawinannya kelak sah walau ada kemungkinan pasangan mereka berbeda agama (detik.com, 04/09/14).

Tentu saja, sebagai umat muslim kita menolak keras jika pernikahan beda agama dibolehkan. Islam jelas-jelas melarang pernikahan beda agama, dimana laki-lakinya nonmuslim dan perempuannya muslim. Kenapa? Bahaya! Agama akan semakin tersingkirkan dari kancah kehidupan. Sekarang saja, diantara hukum-hukum syariat Islam yang masih diterapkan salah satunya ya cuma hukum perkawinan ini. Lah kalau nikah udah nggak lagi berlandaskan agama, terus apa peran agama? Terus nanti nikahnya pake tata cara apa? Akad ijab-qabul nggak bakal kepake lagi? Habis deh!

Orang yang mau nikah bakal serampangan banget nyari pasangan. Soalnya nggak perlu mikir landasan agama, kan? Wong beda agama bisa nikah, ya udah main tubruk aja siapapun dengan alasan udah kadung cinta. Padahal, kalo itu dilakukan oleh seorang muslim, pastinya pernikahannya nggak sah alias zina.Nauduzibillah min dzalik.

Bahaya lainnya, jelas negara ini akan semakin sekuler dan liberal. Kalau sampai nikah beda agama dibolehkan, nanti bakal muncul pula tuntutan nyeleneh lainnya. Misalnya agar nikah sesama jenis juga dibolehkan. Iya dong, supaya para penggemar sesama jenis itu tidak terzalimi hak konsitusinya. Begitu alasannya. Gawat!

 

Fakta Bukan Alasan

Memang, dunia ini sekarang begitu global. Nggak ada sekat-sekat lagi. Pergaulan makin tanpa batas, menembus dinding agama, ras, golongan, suku bangsa, bahasa dan negara. Banyak perempuan Indonesia yang nikah dengan pria beda agama, misalnya bule-bule asli Barat sono. Konon, karena orang Barat emang demen ama perempuan pribumi yang berkulit eksotis (halah..!).

Sebaliknya, perempuan Indonesia begitu bangga bila menikah dengan pria-pria berkulit pucat dan berambut pirang itu. Selain ganteng, biasanya juga tajir. Makanya, nggak mikirin lagi soal agama. Asal merasa klik, suka sama suka, langsung aja nikah.

Ini karena proses pencarian pasangannya menggunakan cara-cara sekuler, yakni pacaran. Fakta seperti ini nggak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan nikah beda agama. Seharusnya, kalau dia muslim yang takwa, sejak dari awal pencarian jodoh emang hanya membuka diri untuk menjalin interaksi dengan penganut agama yang sama saja. Hanya mau taaruf dengan yang seagama. Jadi, peluang untuk mendapatkan jodoh dengan orang yang beda agama udah tertutup dengan sendirinya.

Mungkin ada yang berdalih, “udah takdir gue dapat jodoh beda agama.” No, jangan berlindung di balik takdir. Sebab, ikhtiar pencarian pasangan hidup itu adalah wilayah yang dikuasai manusia, dimana sejak awal manusia bisa menentukan pilihannya sendiri.

Terlebih lagi Islam mengajarkan agar memilih pasangan berdasarkan agamanya. Itu syarat paling utama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah karena agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim). Ingat tuh, rugi. Ruginya dunia-akhirat. Betul?!

 

Konsekuensi Akhirat

D’Riser, nikah itu bukan hanya buat kesenangan duniawi semata, tapi juga akhirat. Nikah itu fase hidup yang agung. Konsekuensi dari sebuah pernikahan bernilai pahala dan dosa. Sampai-sampai Islam mengatakan, menikah itu adalah menyempurnakan separuh dari diin (agama). Kenapa? Sebab banyak banget syariat Islam yang baru bisa ditegakkan di tengah-tengah rumah tangga.

Semisal, bagi suami, dia baru dapet pahala kalau kerja buat nafkahi istri-anak. Beda konsekuensinya waktu kerja buat makan dia sendiri saat bujangan. Demikian pula buat seorang istri, dia bakal dapet pahala jika melakukan pekerjaan rumah tangga, mengurus suami dan anak-anaknya. Beda waktu gadis dulu.

Makanya, Islam pun mengatur hal-hal detail tentang kerumah-tanggaan dengan syariatnya, demi keharmonisan keluarga, kelanggengan dan kebahagiaan bersama. Misal, ketika sepasang suami istri hendak memadu kasih (hush…jangan dibayangkan, ya!), ada doanya. Nah kalo beda agama, apa lantas nggak pake doa?

Terus kalo udah punya anak, mau diajari agama apa anaknya? Diajari kedua agama orangtuanya? Kalo iya, justru ini bahaya selanjutnya. Yakni, proses pemurtadan. Ya, nikah beda agama bakal membuka peluang besar-besaran untuk terjadinya pemurtadan. Kalau nggak pasangannya yang berhasil diseret ke agama bukan Islam (ingat kasus Asmirandah), paling tidak anak-anaknya kelak.

So, intinya, akan jadi masalah kalau pasangan nikah beda agama. Nanti biduk rumah tangga ini mau dilabuhkan ke mana? Ibarat naik sebuah kapal, nahkoda dan seluruh penumpang musti sepakat tuh kapal mau dijalankan sampai ke mana? Nah kalau nggak satu visi, gimana kapal bisa sampai tujuan?

Makanya #YukNgaji!

Setiap muslim yang saleh, pastinya pengin dong kelak menjadi imam sholat bagi istri dan anak-anaknya. Demikian pula seorang muslimah yang salehah, pasti bangga banget kalau bisa diimami suami tercintanya. Habis itu cium tangannya, doa dan tadarus bersama. Keindahan ini nggak bakal terwujud kalau nikah tanpa landasan agama.

So, kalo ada orang yang maksain diri nikah dengan pasangan yang beda agama, bisa dipastikan dia belum paham agamanya sendiri. Belum saleh-salehah. Belum kaffah. Belum ngaji. Dijamin pula, orang seperti itu pasti nikahnya hanya sekadar nafsu, yang disembunyikan dalam tameng cinta. Makanya, kamu jangan sampai seperti itu. Ya, kamu..!#YukNgaji..![Asri]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40