drise-online.com – Dunia digital, sudah menjadi bagian yang terpisahkan dari keseharian kita. Terutama remaja yang paling doyan berselancar di dunia maya. Biar makin eksis dan trendi. Tak ayal, tuntutan untuk selalu keep in touch dengan dunia digital menjadikan gadget smartphone dan kaumnya sebagai kebutuhan hidup. Tak lagi sekedar aksesoris atau pelengkap hidup.

Walhasil, tak ada waktu tanpa kehadiran smartphone. Lagi nunggu antrian di bank, asyik chatting online. Ada jam pelajaran kosong, khusyu main subway surf, hay day, atau tebak gambar. Sesaat setlah kaki menginjak dalam gerbong kereta, langsung keluarkan ponsel android lalu terhanyut berselancar di dunia maya. Bahkan lagi rapat osis, kumpul bareng shoib gank, atau diskusi kelompok, remaja gadget mania asyik dengan dunianya sendiri. Boro-boro ngobrol dan bertukar pikiran. Yang ada, malah cekikian gak karuan.

Giliran ponsel, gadget, tablet, atau smargphonenya hilang, panik nggak ketulungan. Badan keringetan kaya lagi nahan kebelet pengen BAB. Wajahnya gelisah kaya ibu-ibu mau lahiran. Kerjaannya mondar-mandir kaya setrikaan. Kalo kamu ngerasa kaya gitu, hati-hati ah. Itu tandanya kamu terjangkit virus nomophobia. Apaan tuh?!

Nomophobia (no mobile phone phobia) adalah istilah baru, yang berarti ketakutan akan dipisahkannya pengguna dengan gadget kesayangannya. Istilah ini diperkenalkan oleh peneliti dari Inggris.

Di luar negeri sudah banyak penelitian mengenai nomophobia. Yang paling banyak dikutip adalah penelitian oleh securenvoy, sebuah perusahaan IT di Inggris. Menurut penelitian mereka, dari 1.000 responden yang menjawab polling mereka, sekitar 66 persen memiliki rasa takut kehilangan atau terpisah dari ponsel mereka.

Survei yang tak kalah menarik dilakukan oleh Chicago Tribune, di Amerika Serikat, dimana lebih dari 40 persen responden menyatakan ‘lebih baik tidak gosok gigi selama seminggu daripada pergi tanpa smartphone’.

Ada juga survei yang dilakukan oleh 11Mark, yang menyatakan bahwa 75 persen responden menggunakan smartphone di kamar mandi. Namun, tidak hanya Amerika Serikat dan Inggris saja yang terkena gangguan mental ini, namun juga Australia.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Cisco di Australia, 9 dari 10 orang berusia dibawah 30 tahun mengakui mengalami nomophobia. Survei tersebut dilakukan terhadap 3800 pemakai smartphone.

Nomophobia nggak bisa dipandang sebelah mata. Bahayanya bisa fatal. Pengidapnya akan mengalami social disorder alias males ngumpul dan berinteraksi dengan orang lain. Lantaran asyik dengan dunia dan gadgetnya. Seperti apa social disorder, simak nih!

  1. Komunikasi antar manusia secara tatap muka jadi makin jarang.
  2. Lebih suka berkomunikasi via gadget (email, chatting, Twitter, Facebook), daripada tatap muka langsung.
  3. Orang jadi jarang mengamati lingkungan sekitar, karena lebih tenggelam dengan gadgetnya. Akibatnya, rasa peduli pada sekitar berkurang, justru lebih mempedulikan isu-isu di socmed dari gadgetnya.
  4. Manusia dapat saja teralineasi oleh mesin. Masih ingat film wall-e dimana robot melayani manusia yang menjadi pemalas? Pada saat itu, manusia akan menjadi apatis dan anti sosial.

Ngeri juga ya akibat nomophobia. Lantas gimana cara ngatasinya?

Pertama, disiplin dengan gadget. Ada waktunya kita ‘pacaran’ dengan gadget. Ada waktunya, kita injakkan kaki di dunia nyata. Ngumpul bareng keluarga atau sahabat. Sterilkan gadget dalam pertemuan, rapat, ngumpul bareng yang menuntut kita untuk berinteraksi satu sama lain.

Kedua, pahami kalo gadget itu ciptaan manusia. Taro di tangan kita, bukan di hati kita. Ciee…! Jangan sampai kita diperbudak dan dikendalikan waktu kita oleh sebatang tablet.

Ketiga, banyakin aktifitas sosial. Seperti ngaji, ikut seminar, hiking, outdoor, olahraga, atau turun ke jalan dalam aksi damai protes kebijakan pemerintah yang bikin rakyat sengsara.

Kalo ketergantungan dengan gadget udah makin parah, alamat jadi pasien psikiater tuh. Makanya, sebelum itu terjadi, kendalikan gadgetmu. Jadikan gadget sebagai media mendulang ilmu dan pahala. Jangan sampai bikin hati dan mata kita buta. Tetap kita harus utamakan dunia nyata. Karena disini kita hidup. So, nomophobia? Nggak kelees…![341]

 

BOX: TANDA-TANDA NOMOPHOBIA

Berikut adalah tanda-tanda bahwa Anda termasuk nomophobic:

  1. Mimpi kehilangan ponsel. Apakah kamu sering mendapat mimpi buruk kehilangan ponsel lalu terbangun panik demi memastikan barang tersebut masih ada?
  2. Tidur dengan ponsel. Nggak bisa tidur tanpa meletakkan ponsel di bawah atau sebelah bantal.
  3. Terserang panik lebay bila tidak bisa menemukan ponsel. Kaya orang jantungan.
  4. Membawa ponsel ke kamar mandi. Khawatir ada update status temen yang kelewat di kasih tanda jempol atau di retweet. Hadeuh..!
  5. Mood jelek saat baterai ponsel menipis. Uring-uringan nggak jelas saat baterai ponselnya hampir habis. Mereka menjadi depresi dan kesal karena panik ponselnya akan kehabisan baterai.
  6. Flight mode. Apakah Anda termasuk orang yang segera menyalakan ponsel saat pesawat mendarat? Ini menunjukkan bahwa Anda tidak tenang saat tidak terhubung dengan ponsel.

Kalo tanda-tanda ada empat saja yang kamu rasain, hati-hati ah. Sebaiknya segera panggil psikiater. Nah lho! []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38