Wow, hebat, keren, kok bisa? Kata-kata itu yang selalu  keluar saat kita menyaksikan orang-orang yang kita  Wsebut luar biasa. Ketika teman kita di sekolah  mendapatkan prestasi dalam hal akademik, ketika teman kita  selalu menjadi wakil sekolah dalam ajang lomba, kita akan  bertanya kok bisa? apa bedanya kita dengan mereka?

Sesungguhnya, tidak ada yang beda. Sama-sama ciptaan  Allah kan? sama-sama makan nasi?hehe. Lalu kenapa? Kenapa kita  lebih banyak menjadi penonton daripada pemain. Lebih sering  memberikan tepuk tangan kepada teman kita yang luar biasa itu.  Kita takjub seolah-olah dia memang dilahirkan untuk seperti itu. Cobalah tanyakan pada orang-orang yang luar biasa itu. Apa  mereka hanya bersantai ria saja? Tentu saja tidak mungkin.  Secerdas apa pun seorang pelajar jika dia tidak belajar dan terus  mengulang, tidak akan mungkin bisa mendapatkan prestasi.  

Mungkin kita melihat teman kita santai-santai saja. Sebenarnya  yang kita lihat dengan mata tidak salah, karena waktu kita lihat dia  memang sedang santai, tapi waktu kita tidak bersamanya? Tidak  mungkin seorang pemain bola selincah Lionel Messi hanya santai-santai saja. Ia berlatih dan terus berlatih hingga bola menjadi  takluk ketika berada di kakinya. Lalu bagaimana dengan kita?  Oke, Jika kamu cemburu bin iri kepada orang-oang yang luar  biasa itu, artinya ada kesempatan untuk kamu seperti mereka.  Tentu saja cemburu pada prestasi-prestasi yang baik, bukan  prestasi seperti  mencontek (eh emang mencontek itu prestasi  ya?:) Rasululah SAW bersabda,

“Tidak ada hasad (iri) yang  dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang  Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan  terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan  ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.”(HR. Muslim).

Jadi jelas, kita boleh iri pada mereka yang berharta dan  membelanjakan harta itu di jalan Allah. Dan kita boleh iri pada  mereka yang punya ilmu (prestasi). Lalu untuk bisa seperti orang-orang yang luar biasa itu,  how?  Jawabannya adalah Doing Not Waiting. Meminjam lirik lagunya Zhivillia : Menunggu sesuatu yang  sangat menyebalkan bagiku saat kuharus bersabar dan bersabar  menantikan kehadiran dirimu.  Ya eyalah menunggu memang sangat menyebalkan. Karena  itu jangan menunggu. Percuma kalau menunggu saja. Karena itu  jangan menunggu.

Tapi melakukan. Katakan ini dan catat: Aku tidak menunggu harus hapal alqur’an dan hadits dulu  baru berdakwah tapi yang kulakukan adalah terus belajar dan  menyampaikan meski sedikit yang kudapatkan dari belajar.  Aku tidak menunggu nilai 100 tetapi yang kulakukan adalah  belajar dan terus belajar, mengulang dan terus mengulang ,  bertanya jika ada mata pelajaran yang tidak megerti, diskusi  dengan teman, dan sebagainya.

Aku tidak menunggu harus pandai bicara baru mau jika  disuruh pidato. Tapi yang kulakukan adalah berani untuk  berbicara di depan umum, apa pun yang terjadi. Karena waktu  tak pernah menungguku. Kesempatan takkan datang untuk  kedua kali. Kalau pun dia datang pasti bukan untukku lagi. Dengan Doing aku akan menjadi orang-orang hebat seperti  mereka. Sebab orang hebat tidak pernah menunggu tapi mereka  melakukan. Aku bisa seperti mereka. Aku bisa. Akhir tulisan ini saya tulis kembali puisi Kahlil Gibran dalam  buku Sang Nabi.

Puisi yang indah seindah prestasi-prestasi kita. Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi Serta perjalanan roh jagad ini Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim Serta keluar dari kehidupan itu sendiri Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatanNya Menuju keabadian masa (Kahlil Gibran)