hari itu Nusaibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said  tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar  Hsuara gemuruh serangan tentara  musuh di sekitar  Gunung Uhud.Dengan bergegas, Nusaibah membangunkan  Suaminya dengan halus dan lembut lalu mengingatkan akan  datangnya serangan musuh. Said segera bangkit dan mengenakan  pakaian perangnya.

Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nusaibah  menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said. “Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum  menang….”  Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah ditemani kedua  anaknya, Amar (15 thn) dan adiknya Saad (13 thn).

Tak lama  datang seorang pengendara kuda yang memberitahukan berita  suka akan syahidnya Said. Nusaibah tertunduk sebentar, “*Inna  lillah*…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima  kasih, ya Allah.” Nusaibah memanggil Amar memintanya ikut bertempur  bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi. Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi.  

Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan  kepadaku untuk membela agama Allah.” Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi  seorang utusan pasukan islam kembali datang dan mengabarkan  berita suka akan syahidnya Amar. “Apakah Engkau bersedih?”  tanya utusan.

Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira.  Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan? Saad  masih kanak-kanak.” Mendengar itu, Saad menyela, “Ibu, jangan remehkan aku.  Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra  seorang ayah yang gagah berani.

” Di arena pertempuran, pemuda berusia 13 tahun itu telah  banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga  akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah    menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan  menyerukan, “Allahu akbar!” Nusaibah merasa tidak punya apa-apa lagi untuk membela  Rasulullah. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah  tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini.  Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.

” Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau  perempuan, ya Ibu….” Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena  aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga  melalui jihad?” Rasulullah pun berkata dengan senyum kepada Nusaibah  yang datang mengutarakan keinginannya.

 “Nusaibah yang  dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat  senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan  rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang  bertempur.” Nusaibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan  berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.  Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu  saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang  prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba menggelinding di  belakangnya kepala seorang tentara Islam terbabat senjata orang  kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.  Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat  keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak bisa  menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya  pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai  singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit  menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga  seorang kafir mengendap dari belakang dan membabat putus  lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Dan tertinggal oleh  pasukan.  Tak lama, Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi  kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu  menemukan seonggok tubuh Nusaibah yang dikenalinya  bergerak-gerak dengan payah. Nusaibah samar-sama  memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan  Rasulullah? Selamatkah beliau?” “Beliau tidak kurang suatu apapun…” “Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan  senjatamu kepadaku….”

 “Engkau masih luka parah, Nusaibah….” “Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?” Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu  menuju  ke pertempuran. Banyak musuh yang  dijung kirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah  buntung, akhirnya tak urung juga lehernya  terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas  pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya. Tiba-tiba langit berubah hitam mendung.

Padahal  tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.  Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat  langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para  malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun  menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.” Driser di hari Ibu ini, Nusaibah layak kita sejajarkan dengan  Siti Aisyah atau Siti Khadijah sebagai teladan muslimah. Seorang  Ibu sejati tidak hanya memikirkan kesuksesan anaknya di dunia,  tapi juga tempat kembalinya di akhirat. Seorang ibu sejati tidak  hanya berkutat ngurus rumah, tapi juga siap membela rasulullah  dan ambil bagian dalam dakwah. Seperti Nusaibah. [341]