goooooooolll….!!!” teriakan  komentator dari stadion  Gmemancing sorak-sorai dan  keramaian para bola mania di rumah,  lapangan, sampe cafe-cafe yang  menggelar acara nonton bareng. Yup,  pastinya bukan lagi pada nonton idol-idolan dong.

Tapi tingkah polah 22  orang yang berebut 1 bola. It’s soccer  time! Kayaknya semua orang  sepakat, bahwa sepakbola merupakan  permainan dan olahraga paling populer  sejagat. Kalau dijumlah-jamleh,  penggemar sepakbola di seluruh dunia  terhitung sebanyak 3,5 milyar orang.  Nggak heran juga sih, dalam satu  pertandingan saja, permainan yang di  Amerika disebut soccer dan di Inggris  disebut football ini selalu menyedot  puluhan sampai ratusan ribu penonton.  Menurut situs resmi FIFA,  permainan sepakbola ini sejarahnya  bisa dilacak sampai zaman Dinasti Han  di Cina, yaitu sekitar abad 3 sampai 2  sebelum masehi. 

Permainan ini disebut  cuju (bukan SuJu ya!) dan sangat  populer di kalangan militer dan  bangsawan. Pada zaman dinasti Song  (960-1279), cuju sudah dimainkan oleh  semua kalangan, bahkan sudah dikenal  adanya pemain cuju profesional. Era  persepakbolaan modern dimulai  dengan dibentuknya Football  Association di Inggris tahun 1863.  Sepakbola ala Inggris itu kemudian  menyebar di koloni-koloni jajahan  Inggris dan negeri-negeri yang  terpengaruh budaya Inggris. Sebagai salah satu bentuk  olahraga, sepakbola sangat bermanfaat  untuk kesehatan.

Menurut hasil riset  yang dipublikasikan dalam  “Scandinavian Journal of Science and  Medicine in Sports”, sepakbola yang  dilakukan 2-3 jam per minggu dapat  meningkatkan ketahanan jantung, otot  tulang belakang dan metabolisme  tubuh. Permainan yang cocok buat  semua umur ini juga direkomendasikan  bagi penderita hipertensi.

Selain  manfaat medis, sepakbola juga  mempunyai manfaat sosiologis dan  psikologis lho, diantaranya melatih  teamwork dan empati sesama anggota  tim. Serunya bermain sepakbola juga  baik untuk mengobati depresi. Jadi  buat yang stress, sepakbola patut  dicoba. Selain sisi positif, ternyata  sepakbola juga seringkali digunakan  sebagai ajang berjudi dan taruhan.  Mulai dari yang ecek-ecek, sampai judi  kelas kakap. Perjudian ini bahkan  sempat dilegalkan pemerintah kita  pada tahun 1985 dengan diresmikan  dan diedarkannya Kupon Undian  Berhadiah Porkas Sepak Bola. Kupon  tebakan Menang-Seri-Kalah ini  diterbitkan seminggu sekali oleh  Departemen Sosial, yang konon  keuntungannya mencapai 1 Milyar per  minggu! Duit haram tuh!  

Walaupun sekarang porkas  sudah punah, tapi judi sepakbola itu  sendiri masih eksis. Coba saja ketik  keyword “judi bola” atau “taruhan  bola” di google, dijamin halaman  pertama alias ‘pej-wan’ dihiasi  oleh urutan situs judi bola yang  beroperasi terang-terangan.  Bahkan bandar-bandar judi bola  yang besar jadi sponsor resmi klub-klub sepakbola ternama. Sebut saja  Bwin, 888.com, Mansion, dan  SBOBet. Keuntungan menggiurkan  dari bisnis judi ini nggak jarang  menimbulkan konflik kepentingan  di tubuh asosiasi persepakbolaan.  Pertandingan pun diintervensi,  mulai dari menyuap wasit, sampai  pengaturan skor pertandingan.  

Nggak jarang juga sepakbola dijadikan  tunggangan demi kepentingan  kampanye dan politik.  Selain judi dan skandal politik,  hal negatif lain yang sering jadi sorotan  adalah fanatisme suporter klub  sepakbola yang ekstrim. Fanatisme  buta ini seringkali menyebabkan  bentrok antar suporter yang bisa  meluas hingga keluar stadion. Seperti  kelakuan kaum hooligan, fans fanatik  Inggris yang hampir selalu menyulut  kerusuh di setiap pertandingan.

Apalagi  kalau kesebelasan yang mereka jagokan  kalah. Karena itulah suporter bola di  manapun yang suka mengacau disebut  hooligan.  Ekstrimisme kaum hooligan  bukan cuma soal sepakbola, beberapa  ada yang beraliran anarkis, rasis dan  neo-Nazi. Liputan investigasi Harian  The Sun mengungkap rencana yob  (hooligan) Ukraina untuk melakukan  kerusuhan dalam laga lawan Inggris di  Piala Eropa 2012. Para yob ini dilatih ala  militer oleh kelompok ekstrim ‘The  Patriot of Ukraine’ supaya lihai dalam  membuat kerusuhan. Dalam video yang  direkam diam-diam oleh tim The Sun,  tampak para pemuda & pemudi yang  berlatih melempar pisau dan  menggunakan senjata api seperti dalam  perang sungguhan. Paraahh! Bukan cuma di luar negeri,  budaya rusuh juga sering mewarnai  pertandingan bola di negeri mayoritas  muslim ini.

Mulai dari level kampung  sampai liga resmi nan bergengsi.  Kayaknya kalau nggak rusuh, nggak  rame!  Padahal Rasulullah Saw  melarang fanatisme kelompok  (‘ashabiyah) dengan keras. “… Dan  barangsiapa berperang di bawah panji  ‘ashabiyyah, marah karena  ‘ashabiyyah, atau menyeru kepada  ‘ashabiyyah, atau menolong kerabat  (dalam kedzaliman), kemudia ia  terbunuh, maka matinya adalah mati  jahiliyyah…” [HR. Imam Muslim]

Driser, kita musti hati-hati dengan  sepakbola. Jangan sampai permainan  yang hukumnya mubah ini malah  menyeret kita kedalam maksiat. Ujung-ujungnya melenakan dan mengalihkan  umat Islam dari kewajibannya untuk  berdakwah memperjuangkan dan  melaksanakan syari’at Alloh. Carefull  guys![Ihsan]