Majalahdrise.com – Beberapa waktu yang lalu kan  sempat ramai perbincangan  masalah mutu beberapa tayangan  TV. Mulai dari proses tayangan yang gak  mendidik, lebih banyak mengekspos gaya  cowok yang keperempuan-perempuanan,  sampai lawakan yang lebih  mengedepankan olok-olokan,maupun  celaan yang dibuat-buat biar terkesan  “lucu”.

Lucu yang dipaksakan. Bahkan  sebuah stasiun TV sempat bermasalah  karena dalam tayangan lawakan di salah  satu programnya, bermuatan olok-olokan  yang dimaksudkan sebagai candaan  dengan meniru-niru cara para ustadz  menyampaikan ceramahnya. Terang aja ini  menuai protes. Masak kalimat-kalimat  nasihat dijadikan bahan olok-olokan  cuman sekedar mengharapkan kesan lucu?  Gak hanya tayangan di layar kaca  aja yang mengekspos candaan yang berisi  olok-olokan.

Dalam pergaulan sehari-hari,  bahkan udah jadi sesuatu yang biasa tuh,  saling mengolok-olok, hingga saling  memanggil dengan julukan-julukan yang  memiliki makna yang gak baik. Bahkan  udah jadi istilah keseharian dalam  pergaulan remaja.  Seolah-olah kalau gak  kayak gituh, gak gaul, gitu lho. Apa ukuran  gaul itu emang kudu saling olok ya?  Wah,ancur juga tuh. Apalagi kalau udah di  adopsi sebagai menu keseharian dalam  bergaul. Sama aja memancing pertikaian.  Hati-hati!

Islam gak mengenal Olok-olokan Dalam sebuah riwayat disebutkan  bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu  perang Tabuk), ada orang di dalam  rombongan tersebut yang berkata,

”Kami  tidak pernah melihat seperti para ahli baca  Al-Qur’an ini (yaitu Rasulullah SAW dan  para sahabat beliau), kecuali sebagai orang  yang paling buncit perutnya, yang paling  dusta ucapannya dan yang paling pengecut  tatkala bertemu dengan musuh.”

Ini  bahasa  yang dibuat berkebalikan dengan  fakta, dengan maksud sebagai bahan  candaan. Mendengar hal ini, Auf bin Malik  RA berkata kepada orang tersebut, ”Engkau  dusta, kamu ini munafik. Akan aku  laporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah  SAW.”  Maka Auf bin Malik radhiyallaahu  ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah  SAW.

Namun sebelum Auf sampai, wahyu  telah turun kepada beliau shollallohu ‘alaihi  wa sallam (tentang  peristiwa itu).  Kemudian orang  yang bersendau  gurau dengan  menjadikan  Rasulullah SAW  sebagai bahan  bercanda,  mendatangi  Rasulullah yang  saat itu sudah berada di atas untanya.  Orang tadi berkata,  ”Wahai Rosululloh, kami  tadi hanyalah bersendau  gurau, kami lakukan itu  hanyalah untuk menghilangkan kepenatan  dalam perjalanan  sebagaimana hal ini  dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam  perjalanan!” Ibnu Umar (salah  seorang sahabat Nabi  shollallohu ‘alaihi wa sallam yang  berada di dalam rombongan) bercerita,

”Sepertinya aku melihat ia berpegangan  pada tali pelana unta Rasululloh sedangkan  kakinya tersandung-sandung batu sembari  mengatakan, ‘Kami tadi hanyalah  bersendau gurau dan bermain-main saja.’

Kemudian Rasulullah berkata kepadanya  (dengan membacakan firman Allah),  ”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan  Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak  usah kamu minta maaf, karena kamu telah  kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66).

Beliau mengucapkan itu tanpa berpaling  kepada orang tersebut dan beliau juga tidak  bersabda lebih dari itu.” (HR.Ibnu Abi Hatim  dengan sanad yang hasan).  Akhlak dalam bergaul di kehidupan  sehari-hari amat di perhatikan dalam Islam,  Sob. Jadi apa yang kita gunakan buat  melengkapi urusan pergaulan kita, kudu  menjadi perhatian. Termasuk dalam  masalah olok-olokan dan gelar yang justru  bermakna  negatif.  Agama Islam  telah  mengatur  bagaimana  mempergun akan nikmat  yang agung  berupa lisan  ini.  Rasulullah  SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman  kepada Allah dan hari Akhir hendaklah ia  berkata yang baik atau diam.”. Deuh,  dalem banget ya? Sob,saat ini, emang mudah ya  kita  menemukan orang yang ngomong tapi  gak mikir dulu.

Imam Syafi’i sendiri  berkata, “apabila seseorang ingin  berbicara maka hendaklah ia  memikirkannya terlebih dahulu. Apabila  telah jelas baginya bahwa ucapannya  tersebut tidak berbahaya, maka  berbicaralah. Apabila dalam ucapan  tersebut ternyata mengandung bahaya  atau masih ragu-ragu (apakah berbahaya  atau tidak), hendaklah ia menahan  ucapannya. Jadi, harap diperhatikan ya  pemirsah sekalian, perkataan yang baik itu  akan lebih memberi kesan ketimbang  mengeluarkan olok-olokan.

Kalau gak, ya  mending diem. Ini adalah ajaran Islam  yang mengedepankan adab dalam  berinteraksi. Mengawetkan ukhuwah, dan  menjaga kelanggengan persahabatan.  Jangan hiasi persahabatan kita, dengan  ucapan kasar, cacian, makian serta olok-olokan. Inget lho,  “Seorang muslim itu  adalah seseorang yang muslim lainnya   merasa selamat dari lisan dan tangannya.”  (HR. Al-Bukhari & Abu Dawud).  [Juanmartin]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51