Lion of the Dessert alias Singa Padang Pasir, itulah julukannya. Sosok ulama asal Libya komandan jempolan saat  angkat senjata Beliau adalah Omar Al- ama, tapi Mokhtar. Seorang tokoh dan figur yang memiliki semangat juang pantang menyerah, intelektual, cerdas dan berdedikasi tinggi pada agamanya. Dilahirkan tahun 1861 di kota kecil di Libya bernama Zawia Janzour.

Nama lengkapnya Omar al-Mokhtar Muhammad Farhat Abri dan Muhammad Mukmin Buhadimeh Abdullah. Beliau lahir dalam keadaan yatim piatu karena ayah dan ibunya meninggal dunia semasa dalam perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Omar kecil mendapat pendidikan awal di desanya sebelum melanjutkan di peringkat menengah di bandar alJaghbub kira-kira 500 kilometer dari ibu negara Libya, Tripoli.

Tahun 1911, kapal-kapal perang Itali berlabuh di pantai Tripoli, Libya. Mereka menginginkan kekhalifahan Turki Ustmaniyah untuk menyerahkan Tripoli kepada Italia. Kalau tidak kota itu akan dihancurkan. Menyadari bahwa tanah ini adalah tanah kaum muslimin dan tidak mau menyerahkan begitu saja pada Italia, bersama rakyat Libya, kekhalifahan menolaknya mentah–mentah permintaan itu. Konsekuensinya, negeri pizza itu mengebom kota Tripoli tiga hari tiga malam. Peristiwa ini menjadi seri perjuangan mujahidin Libya, bersama tentara Turki melawan pasukan Italia. Bagi Italia, nama Omar Al-Mokhtar adalah sejarah kelam. Bagaimana tidak?

Ia memang dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan Italia bagi rakyat Libya. Bayangkan saja, sejak negara yang terkenal dengan Menara Pisa-nya itu bercokol di bumi Libya pada Oktober 1911, tidak sebentarpun Omar Mukhtar diam. Malah ia jadi pionir untuk membakar semangat dan bara perjuangan rakyat Libya.

Pionir karena setelah kemunculannya itulah, muncul mujahid-mujahid Islam Libya lainnya seperti Ramadan As-Swaihli, Mohammad Farhat Az-Zawi, Al-Fadeel Bo-Omar, Solaiman Al-Barouni dan Silima An-Nailiah. Julukan Lion of the Dessert diperoleh Omar al-Mokhtar karena beliau master dalam strategi perang gerilya di padang pasir. Ia memanfaatkan pengetahuannya tentang peta geografi Libya,untuk memenangi pertempuran.

Terlebih pasukan Italia ‘buta’ dengan padang pasir. Beliau benar-benar memanfaatkan keterbatasan itu sebagai area menjadi sebuah titik kemenangan. Karena ia menyadari, ia bergerak dalam ruang lingkup hukum alam atau sunnatullah. “Jangan pernah melawan sunnatullah pada alam, sebab ia pasti akan mengalahkanmu. Tapi gunakanlah sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai tujuan”,kaedah indah yang dipakai imam syahid Hasan Al-Banna. Umar Mukhtar memiliki sekitar 6000 pasukan. Beliau juga membentuk pasukan elit kecil yang mempunyai mobility dan keterampilan perang yang tinggi.

Keistimewaanya, berani tampil menjemput syahid. Peperangan yang berkisar pada tahun 1923– 931, menyebabkan Italia menderita kerugian yang amat sangat. Italia kalah perang di mana-mana. Setelah mendapat laporan dari Libya, Benito Musollini turun tangan. Ia mengirim 400.000 pasukannya ke Libya. Perang menjadi sangat tidak seimbang. Ibarat David versus Goliath.

Pasukan Umar Mukhtar ‘hanya’ 10.000 orang. Sangat wajar 10.000:400.000 mengakibatkan kekalahan mujahidin Libya. Tahun 1931, Umar Mukhtar tertangkap. Di usia tuanya, tiang gantungan menjerat leher Omar Al-Mokhtar. Singa Padang Pasir itu, berpulang ke Rahmatullah, pada 16 September 1931 di Kota Solouq. Usai sudah perjuangannya melawan penjajahan Italia. Ratusan ribu rakyat Libya pun tak kuasa menahan tangisnya. Sedih karena sang teladan telah tiada. Tetapi terharu melihat sang Singa Padang Pasir tersenyum menemui Robb-nya. Mereka semua mempunyai alasan untuk menitikkan air mata kesedihan. Sebagaimana kesedihan yang dirasakan wanita-wanita Madinah ketika mendengar berita kematian Khalid bin Walid di Syam.

Sebab, orang-orang seperti itu memang layak ditangisi. Driser, semoga kita kecipratan semangat juang seorang Omar al-Mokhtar. Yang tak rela negerinya dijajah oleh musuh-musuh Islam. Tak rela hukum Islam dinistakan oleh orang-orang kafir. Dan berupaya melawan para penjajah untuk mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Ayo, kita tanamkan semangat dakwah seperti The Lion of The Dessert dengan mengenal Islam lebih dalam. Yuk! [Ridwan