sidang Majelis Umum PBB, Kamis, 30 November 2012 dengan  suara mayoritas mensahkan peningkatan status Palestina di  PBB dari “kesatuan” jadi “negara non-anggota” sebagai  S bentuk pengakuan simbolis dan tersirat badan dunia itu  terhadap negara Palestina.

Katanya sih ini kabar gembira buat umat  Islam sedunia. Lantaran penyelesaian konflik Palestina Israel seolah  ada kemajuan dengan pengakuan dua negara merdeka di Palestina  (two state solution) seperti yang diusulkan oleh Amerika.  Padahal, nggak semulia itu niatan PBB dan negara adidaya  untuk mengakhiri krisis Palestina.

Gimanapun juga, Palestina nggak  akan pernah merdeka bin berdaulat selama bangsa kera zionis  Israel masih bercokol di sana. Karena inti masalah Palestina adalah  perampasan wilayah oleh bangsa zionis Yahudi. Bangsa tak  diundang yang urat malunya udah putus. Gimana nggak, kaum  zionis narsis itu dengan seenaknya mengusir pemilik rumah,  merampas harta bendanya, bahkan mengakui kalo tanah Palestina  adalah miliknya.

 Idih, gak malu apa ngaku-aku tanah milik orang? Kemuliaan Negeri Palestina Konflik berkepanjangan di jalur Gaza dan sekitarnya selalu  memicu solidaritas muslim sedunia. Mulai dari pengiriman bantuan  obat, makanan, kemanusiaan, hingga relawan jihad. Penggalangan  aksi solidaritas gencar digelar karena tanah Palestina memiliki  status yang cukup istimewa dalam sejarah Islam. Mau tahu atau  mau tahu banget? Berikut diantaranya:  

  1. Di Palestina ada Masjid al Aqsha al Mubarak. Masjid al Aqsha merupakan qiblat pertama kaum muslimin sebelum dialihkan ke Ka’bah. Disunnahkan untuk pergi dan mengunjungi masjid al-Aqsha. Shalat di dalamnya dilipatgandakan  sampai 500 kali shalat di masjid lain. Rasulullah saw bersabda,  “Shalat di Masjidil Haram sebanding dengan 100 ribu kali shalat,  dan shalat di masjid saya sebanding dengan 1000 kali shalat, dan  shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) sebanding dengan 500 kali  shalat.”  
  2. Palestina adalah tanah yang diberkati Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini sesuai dengan apa  yang ditegaskan dalam al Quran  al Karim. “Maha Suci Allah, yang  telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil  Aqsha yang telah Kami berkahi  sekelilingnya agar Kami  perlihatkan kepadanya  sebagian tanda-tanda  kebesaran Kami. Sesungguhnya  Dia adalah Maha Mendengar  lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Israa’: 1)
  3. Palestina adalah tanah suci. Ini berdasarkan nash al Quran, di mana Allah swt  berfirman lewat lisan Nabi Musa  ‘alaihis salam,  Artinya: “Hai  kaumku, masuklah ke tanah suci  (Palestina) yang telah ditentukan  Allah bagimu, dan janganlah  kamu lari kebelakang (karena  kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang  yang merugi.”
  4. Palestina adalah tempat isra’nya Nabi Muhammad saw. Allah swt telah memilih Palestina sebagai tempat isra’nya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu  bermi’raj ke langit. Dengan peristiwa ini Allah memuliakan dan  mengagungkan Masjidil Aqsha dan tanah Palestina, dengan  menjadikan Baitul Maqdis sebagai pintu menuju langit. Di  Masjidil Aqsha Allah kumpulkan para nabi bersama Nabi  Muhammad saw untuk shalat berjama’ah yang diimami oleh  beliau.  

Drise, demikian beberapa kemuliaan yang Allah berikan  pada negeri Palestina. Kebangetan kalo ada umat Islam yang  nggak peduli dengan krisis Palestina. Diragukan tuh  keislamannya.  Asal-Muasal Konflik Palestina Palestina berada di bawah kekuasaan Islam saat Umar bin  Khathab ra berhasil menaklukkannya pada tahun 15 H dan  menerima (kunci)-nya dari Uskup Agung Saphranius. Mereka  menyepakati perjanjian masyhur, yaitu perjanjian Umariyah, yang  di antara isinya (atas permintaan orang Nasrani yang tinggal di  sana) adalah:

“Tidak boleh satu orang Yahudi pun untuk tinggal  di daerah Palestina”. Catet tuh! Pada masa pemerintahan khilafah Abdul Hamid, kaum  Yahudi yang nggak punya tempat tinggal (idih, kayak gelandangan  aja…) berusaha menjadikan Palestina sebagai tempat mukimnya.  Dengan bantuan Inggris, mereka berupaya memicu timbulnya  krisis keuangan di Negara Khilafah Ustmaniyah.

Lalu Hertzl,  pemimpin senior Yahudi saat itu (1901 M), menawarkan  sejumlah uang kepada Khalifah untuk memulihkan ekonomi  Daulah Khilafah. Tapi dengan syarat, kaum Yahudi dibolehkan  tinggal di Palestina.  Namun, Khalifah Abdul Hamid  dengan tegas menolak tawaran Hertz.  Beliau menjawab: “Sungguh aku tidak  bisa melepaskan bumi Palestina walau  hanya sejengkal. Bumi itu bukan  milikku, melainkan milik umat Islam.  

Bangsaku telah berjihad dalam  mempertahankan bumi tersebut dan  telah menyiraminya dengan darah-darah mereka. Lalu Yahudi itu  meminta untuk orang-orang mereka,  dan jika negara Khilafah suatu hari  hancur, maka sungguh mereka pada  saat itu akan dapat mengambil  Palestina secara cuma-cuma. Namun,  selama aku masih hidup,  tertanamnya pisau bedah pada  tubuhku lebih ringan bagiku daripada menyaksikan Palestina  terlepas dari Negara Khilafah, dan hal itu tidak akan pernah terjadi.  Sungguh aku tidak akan setuju untuk mencabik-cabik tubuh kita  sendiri, padahal kita masih hidup.” Pada tahun 1917 (menjelang runtuhnya Khilafah Utsmaniyah)  dalam perang dunia I, Inggris berhasil menduduki Palestina. Lalu  Inggris menetapkan sebuah Perjanjian Balfour.

 Isinya, Inggris  menjanjikan kepada Yahudi untuk dapat menduduki Palestina dan  mendirikan negara bagi mereka di sana.  Usai perang dunia II, PBB seolah mengamini rencana Inggris  dengan mengeluarkan resolusi No. 181 tanggal 29/10/1947. Isi  resolusi itu, menetapkan pembagian daerah Palestina menjadi dua,  antara penduduknya dan kaum pendatang yang merampasnya. Lalu  Inggris merekayasa perang antara para penguasa Arab yang  menjadi bonekanya, dengan Yahudi sebagai bentuk penolakan  pendirian negara Yahudi di Palestina. Padahal hasil akhirnya sudah  ditentukan oleh Inggris. Yahudi sebagai pemenang sehingga bisa  mendeklarasikan negaranya pada tanggal 05 Mei 1948 dengan  menguasai sebagian besar wilayah Palestina.

 Sialnya, PBB yang katanya penjaga perdamaian dunia malah  memasukkan negara penjajah Israel sebagai anggota PBB pada  tanggal 18 Maret 1949. Nggak heran kalo Israel makin belagu  karena dilindungi oleh AS, Inggris, dan PBB. Huh, beraninya pake  bodyguard! Solusi Tuntas Hanya Dengan Islam! Gemes juga ngeliat konflik di jalur Gaza yang makin banyak  makan korban jiwa. Untuk kesekian kalinya Palestina berurai darah  dan air mata. Sejak 1946 hingga 2012, hujan mesiu dan desingan  peluru tak berhenti berburu mangsa. Saling bersahutan dengan  jeritan wanita yang diperkosa, pria dewasa yang tak bersenjata,  hingga anak dan balita yang meregang nyawa. Sampai kapankah  noda ini akan sirna? Bagaimana solusi total masalah Palestina? Dan  kepada siapakah ummat Islam bisa berharap?  Kepada PBB? Mustahil! Karena justru PBB adalah organisasi  yang melegalisasi pengakuan terhadap negara Israel. Coba cek,  sampai sekarang PBB nggak pernah ngasih sanksi kejahatan perang  yang telah dilakukan oleh AS dan Israel. Kepada AS?, No Way!

Karena negeri Paman Sam yang selama  ini menganak emaskan dan getol kirim bantuan baik secara fisik  dan pengaruh pada Israel. Obama dalam pidatonya di AIPAC  dengan jelas menyampaikan “Saya berjanji kepada Anda, bahwa  saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas  apapun, untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel, tapi juga  menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan  mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu”, dia pun  menjamin dana 50 juta dolar AS untuk membantu persenjataan  Israel.  Kepada organisasi HAM dan Demokrasi? Omong Kosong!  

Karena HAM dan Demokrasi adalah alat barat yang berstandar  ganda dan hanya digunakan untuk menyudutkan kaum muslim.  HAM ada ketika iraq dilengserkan untuk kepentingan minyak AS,  tetapi HAM hilang ketika ribuan muslim Palestina dibantai.  Demokrasi didengungkan dalam pemilihan presiden AS tetapi  bisu saat ummat Islam menginginkan dipimpin oleh sistem Islam. Kepada OKI (Organisasi Konferensi Islam)? Kacrut!

Karena  OKI hanya terdiri dari pengecut-pengecut yang berkumpul karena  ada kepentingan selain Islam dan sudah menjadi rahasia umum  bahwa mereka hanyalah boneka yang digerakkan AS. Arab Saudi  tidak pernah menggunakan perlengkapan senjatanya yang  bejibun untuk membela Palestina. Mesir malah menutup pintu  Rafah yang berhubungan langsung dengan Gaza serta  menangkapi aktivis Islam yang membela saudara mereka di  Palestina. Catet ya, masalah Palestina akan tuntas jika dan hanya jika  bangsa Zionis Yahudi angkat kaki dari bumi Palestina. Untuk itu,  cuma ada dua solusi paling jitu yang ditawarkan Islam.  Pertama, Jihad. Hanya jihad bahasa yang dimengerti oleh  kaum zionis.

Bukan meja perundingan, resolusi PBB, atau  gencatan senjata. Karena semua itu hanya akan menjadikan  bangsa kera itu makin belagu. Allah swt berfirman: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi  kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena  sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang  melampaui batas. (QS. Al-Baqarah [2]: 190) Kedua, Khilafah selaku Kepemimpinan Global bagi Kaum  Muslim. Khilafah-lah yang akan memimpin dan mengkomandoi  1,5 milyar kaum muslim di seluruh dunia untuk berjihad. Yang  akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan  tanah kaum muslim. Rosulullah SAW bersabda:  “Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat al-Khilafah telah  turun di bumi yang disucikan (al-quds) maka akan reda  kegoncangan, huru-hara dan perkara-perkara besar.” (HR. Hakim  dgn isnad shohih).

Nah driser, udah jelas dong hanya jihad dan khilafah yang  akan menyelesaikan krisis Palestina. Bukan yang lain. Coret dah  pilihan PBB, AS, Gencatan Senjata, Two State Nation atau OKI  dalam penawaran solusi. Mari arahkan perjuangan kita sama-sama menuju tegaknya kembali khilafah Khilafah Islam yang telah  dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Gak pake lama ya.  Berangkaat…! [341, dari berbagai sumber]