Zaman dahulu kala, pada abad 9 masehi seorang lelaki paruh baya “nekat” melompat dari menara masjid di Cordova. Ups, ini bukan upaya bunuh diri karena putus cinta lho, tapi untuk membuktikan bahwa manusia pun bisa terbang melayang di udara. Peristiwa ini menurut sejarawan Phillip K Hitti merupakan percobaan ilmiah yang pertama kali yang dilakukan manusia untuk terbang.

Dialah Abbas ibnu Firnas, sang penerbang pertama, bukan Wright bersaudara, atau Leonardo da Vinci. Nama lengkapnya adalah Abbas AbulQasim ibnu Firnas Ibnu Wirdas al-Takurini,  lahir di kota Izn-Rand Onda, Andalusia (sekarang Ronda, Spanyol) pada tahun 810 masehi. Sebagaimana banyak ilmuwan  Muslim di zamannya, Ibnu Firnas adalah seorang polymath, yaitu ilmuwan yang  menguasai sejumlah bidang ilmu yang  berbeda-beda. Beberapa bidang ilmu yang  ditekuni Ibnu Firnas diantaranya kimia, fisika,  kedokteran, astronomi, sastra, dan juga  musik. Jadi bisa dibilang Ibnu Firnas adalah seorang tukang insinyur serba bisa.

Beberapa temuan Ibnu Firnas diantaranya adalah jam air (jam yang dikendalikan oleh aliran air yang stabil) yang disebut Al-Maqata, mekanisme untuk memproduksi gelas tak berwarna, lensa baca, alat pemotong batu kristal, berbagai planisphere (alat untuk  mengetahui bintang dan rasi bintang pada waktu tertentu) yang terbuat dari gelas, dan alat untuk simulasi pergerakan planet dan bintang. Konon di rumahnya terdapat kamar dimana orang bisa melihat bintang, awan, bahkan petir, yang dihasilkan oleh mekanisme yang terdapat di ruang bawah tanah rumahnya.

Tetapi dari sekian banyak penemuan Ibnu Firnas, yang dianggap paling spektakuler dan fenomenal adalah alat terbang buatannya. Ujicoba penerbangan pertamanya adalah ketika ia melompat dari sebuah menara masjid di Cordova pada tahun 852 masehi. Alat yang dipakai Ibnu Firnas dalam percobaan tersebut adalah semacam jubah longgar, yang dilengkapi dengan kerangka yang terbuat dari kayu, sehingga membentuk sayap. Ujicoba ini juga disaksikan oleh warga Cordova yang penasaran dengan penemuan baru Ibnu Firnas.

Sayangnya alat yang digunakan dalam percobaan ini kurang berhasil membuat Ibnu Firnas terbang melayang, tetapi, jubah yang dipakainya ternyata memperlambat laju jatuhnya Ibnu Firnas, sehingga ia hanya cedera ringan. Jubah inilah yang menjadi cikal bakal parasut. Ujicoba penerbangan Ibnu Firnas berikutnya tercatat pada tahun 875 masehi, dan dilakukan dari menara di gunung Jabal al’Arus dekat Cordoba dan disaksikan banyak  orang yang antusias dengan percobaan- percobaan Ibnu Firnas selama itu. Kali ini Ibnu Firnas menggunakan sebuah alat yang menyerupai layang gantung atau gantole yang dikendarai sendiri oleh ibnu Firnas, padahal usianya waktu itu sudah 65 tahun! Tidak heran jika banyak penonton yang mengkhawatirkan keselamatannya, bahkan sebagian menyangka Ibnu Firnas sudah gila.

Peristiwa ini direkam oleh sejarawan asal maroko, Ahmad Muhammad Al-Maqqari, yang menyebutkan bahwa berdasarkan testimoni dari beberapa penulis yang terpercaya yang mengaksikan langsung percobaan tersebut, Ibnu Firnas berhasil terbang dan menempuh jarak menempuh jarak terbang yang cukup signifikan, bahkan berhasil kembali ke tempat asalnya meluncur.

Sayangnya proses pendaratannya kurang mulus sehingga Ibnu Firnas mengalami cedera parah di punggungnya. Walaupun Ini adalah percobaan terkahir Ibnu Firnas dalam penerbangan, namun ibnu Firnas terus berkarya dalam bidang lain, sampai wafatnya 12 tahun kemudian pada tahun 887 masehi. Usaha Ibnu Firnas dalam penerbangan bukanlah usaha ilmuwan Muslim yang terakhir.

Pada tahun 1630-1632 M, Hezarfen Ahmad Celebi di Turki berhasil menyeberangi selat Bosporus di Istanbul. Ahmad melompat dari menara Galata yang tingginya 55 meter dan berhasil terbang dengan pesawat layangnya sejauh kira-kira 3 kilometer serta mendarat dengan selamat. Di Eropa, percobaan seperti yang dilakukan Ibnu Firnas baru dilakukan sekitar  135 tahun kemudian oleh Eilmer of Malmesbury, seorang rahib dari Inggris.

Menurut catatan sejarah Eilmer yang menggunakan alat yang mirip dengan Ibnu Firnas melompat dari menara gereja dan berhasil meluncur sejauh 201 meter selama 15 detik, tapi gagal mendarat sehingga kedua kakinya patah. Menurut sejarawan Lynn Townsend White, Jr., aksi Eilmer ini diduga terinspirasi dari kabar percobaan Ibnu Firnas, yang didengarnya dari Pasukan Salib.  

Ujicoba penerbangan berikutnya dilakukan oleh Leonardo da Vinci (1452-1519) dari Italia dan Otto Lilienthal (1848-1896) dari Jerman, hingga pada tahun 1900 Wilber dan Oliver Wright menyempurnakan bentuk sayap dan menambahkan mesin pada bangun pesawat dan berhasil terbang. Tapi dunia tidak akan lupa pada jasa Abbas ibnu Firnas, sang penerbang pertama. Karena jasanya itu, NASA menamai sebuah kawah di bulan dengan nama Ibnu Firnas Crater. Keren![Isaak]