Turut menghebohkan Peringatan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Komite Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dan perusahaan sponsor menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN), 1-7 Desember 2013. Namun belum genap sepekan berjalan, kampanye kondomisasi berdalih safe-sex itu dihentikan setelah menuai gelombang protes dari berbagai pihak.

Saat menemui pendemo dari Front Pembela Islam, Staf Khusus Bidang Politik Kebijakan Kesehatan Kemenkes, Bambang Sulistomo, mengatakan, “Pekan Kondom Nasional ini bukanlah kegiatan dari Kementerian Kesehatan melainkan dari pihak swasta. Kemarin sudah dihentikan,” ujar Bambang lewat pengeras suara di hadapan laskar FPI. Ia juga membantah ada pembagian kondom pada pelajar dan pemuda seperti yang dituduhkan FPI. Pembagian kondom hanya pada pria yang beresiko tinggi di pelabuhan, terminal dan lokalisasi.

Namun, tidak butuh IQ tinggi-tinggi untuk menilai pernyataan Kemenkes itu sebagai sekadar cuci tangan. Sebab, PKN sudah menjadi program pemerintah sejak 2009. PKN 2013 pun sudah dipublikasikan oleh Kemenkes sejak sebulan sebelumnya.

Kondomisasi, termasuk lewat PKN, merupakan strategi penanggulangan HIV/AIDS yang diadopsi dari UNAIDS dan WHO sejak 1994. Programnya antara lain: kondomisasi dan pembagian jarum suntik steril. Kondomisasi dikampanyekan sebagai sarana safe-sex (seks yang aman) dengan dual protection yakni melindungi dari kehamilan tak diinginkan sekaligus dari infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.

Kampanye kondom juga dilakukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis di tengah-tengah masyarakat seperti mal-mal dan supermarket. Bahkan sempat juga digulirkan Program ATM (Anjungan Tunai Mandiri) kondom. Cukup dengan memasukkan 3 koin lima ratus perak, maka akan keluar 3 boks kondom dengan 3 rasa.

PKN di Amerika dimulai tahun 1978, menyasar mahasiswa University of California, Berkeley, Amerika. Dalam kurun 1980-1990, barulah PKN menyebar ke acara kampus lokal di universitas, sekolah tinggi, organisasi AIDS, dan organisasi keluarga berencana dan apotek .

Tapi, PKN Amerika mendapatkan penolakan luas. Misalnya pada 1995, Christian Ministries mensponsori serangkaian iklan di berbagai kampus-kampus untuk mendorong pernikahan sebagai satu-satunya cara yang tepat untuk seks sehat. Misalnya iklan berbunyi: “Cinta atau Lateks?”, dan “Siapa butuh kondom jika Anda memiliki komitmen?” dibagikan untuk melawan kegiatan PKN ini.

Seperti dikutip Prof Dadang Hawari (2006), H Jaffe (1995) dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (USCDC: United State Center of Diseases Control), menyebutkan, evaluasi PKN yang dilakukan pada 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS malah menjadi peringkat nomor 1 di AS, menggeser penyakit jantung dan kanker.

Kemenkes bisa saja berkilah PKN tidak bagi-bagi kondom. Tapi faktanya, di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan, DKT yang memproduksi kondom Sutra dan Fiesta menyediakan board bertulisakan AIDS berukuran 3×2 meter yang dirangkai dari kotak-kotak kondom. Pengunjung yang berminat dipersilakan untuk mengambil kotak-kotak kondom tersebut. Namun, DKT mengatakan kegiatan ini bukan untuk menganjurkan seks bebas.

“Ini bukan media penyebaran seks bebas. Karena kalau kondom nggak ada apakah seks bebas akan berkhenti juga? Kan enggak,” kata Todd Callahan, Country Manager DKT Indonesia dalam peluncuran PKN di Citos, Jakarta Selatan, Minggu (1/12/2013). Ini juga pernyataan bohong, karena pesan kampanye kondomisasi adalah “Silakan melakukan hubungan seks bebas dengan siapa saja, asal memakai kondom.”

Di Amerika Serikat, PKN biasanya digeber pada momentum seperti Hari Valentine. Akibatnya, kampanye kondom justru semakin meningkatkan pergaulan seks bebas. Hal ini diungkapkan Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998).

Efektivitas kondom sebagai alat pencegah penularan HIV/AIDS pun sudah banyak terbantahkan. Seperti dikemukakan Prof Dadang Hawari (2002), efektivitas kondom diragukan (Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima, 1993); HIV masih dapat menembus kondom (Penelitian Carey [1992] dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA); Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom (Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995). Maka, jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan (V Cline, profesor psikologi dan Universitas Utah, AS, 1995).

Akhirnya, terang-benderang bahwa PKN tak lebih dari program pengasongan kondom impor. Data bisnis menunjukkan, setiap tahun Indonesia membutuhkan 190 juta kondom. Negeri ini sudah memiliki pabrik kondom di Banjaran Bandung yang dikelola BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia. Pabrik kondom terbesar di Asia Tenggara itu mampu memproduksi sekitar 129 juta kondom pertahun. Anehnya, kondom Artika dengan 5 varian keluaran RNI hanya menguasai pangsa pasar 2%. Sedang 98% pasar kondom dikuasai oleh merek asing seperti Durex, Fiesta, dan Sutra.

Driser, sudah jelas gimana bobroknya negara kita dengan program kondom nasional. Menteri kesehatan yang berotak mesum itu jadi dalang dibalik kampanye pemerintah untuk mensponsori gaya hidup hewan, seks bebas. Nggak bisa dipungkiri lagi kalo aturan kapitalis yang dipake pemerintah buat ngatur rakyatnya, aktif memfasilitasi kemaksiatan merajalela. Akibatnya kesengsaraan dan musibah akan terus mendera. Satu-satunya cara menghentikan wabah virus HIV/AIDS yang menular via seks bebas adalah diterapkannya syariah Islam oleh negara. Agar pelaku seks bebas kapok dengan hukuman rajam atau jilid. Masih percaya ama aturan kapitalis yang bikin rakyat sengsara? Apa kata dunia![]