penulis wanita

Minder jadi penulis wanita karena tidak berpendidikan tinggi? Bukan lagi zamannya. Lingkungan hari ini memang begitu berpihak pada gelar, status pendidikan. Tetapi pahamilah, asal kita memiliki keinginan kuat dan usaha yang keras yang tak pernah mati dayanya, sesungguhnya kita sudah tentu jauh lebih hebat dari siapa pun. Inilah diantara hikmah yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup seorang penulis wanita nasrani.

Dia adalah Agatha Christie, penulis kisah detektif yang santun dan paling terkenal di Inggris setelah Shakespeare seperti diumumkan oleh UNESCO. Saat membaca biografinya di buku “Tanpa Sekolah Tapi Sukses” (Agatha adalah orang pertama yang dibahas di buku ini) tergambar bahwa kesuksesan memang tidak membutuhkan syarat-syarat yang diberlakukan oleh lingkungan.

Agatha Christie tidak pernah sekolah sama sekali di masa hidupnya. Tetapi ia bisa menghasilkan karya tulis yang dicetak hampir satu milyar eksemplar dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa. Bahkan di dalam biografinya tertulis, jika seluruh bukunya dicetak dan ditumpuk menjadi satu maka akan mencapai 20.000 tumpuk buku yang tingginya menyamai menara eiffel di Perancis. Atau mencapai 3.400 tumpuk buku yang tingginya sama dengan puncak everest (puncak gunung tertinggi di dunia). Ciyus?!

Ibunya berperan begitu penting untuk hidupnya. Semenjak kecil, ia selalu diarahkan bagaimana menuangkan isi pikiran dan perasaannya lewat sebuah tulisan. Bahkan di saat ia sakit sekali pun. Meski Agatha bilang ia yakin tidak bisa menulis, Ibunya bilang cobalah dan kau akan mengetahui hasilnya. Dan benarlah, Agatha terus menulis karena ia menyukainya dan bukan lagi terpikir untuk sebuah nobel atau penghargaan lainnya. Hanya menulis aktivitas yang paling dicintainya. Seolah-olah versi sukses yang ada di dalam kepalanya adalah tatkala ia mampu merdeka melakukan apa yang paling diinginkannya di dunia ini.

Mungkin karena memang lingkungannya yang menjadikan Agatha penulis produktif. Menurut suami dari pernikahan keduanya, setelah dibuatkan ruangan kecil khusus di pojok rumah untuk Agatha, semenjak pagi Agatha duduk hanya untuk menulis. Dan hasilnya, 6 novel rampung di satu musim. Itu dilakukannya karena ia ingin melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Driser, tidak dapat melanjutkan sekolah bukan sebuah masalah besar. Itu bisa kita lakukan di lain waktu jika memang ilmu di sekolah tetap ingin kita rasakan. Nggak perlu meratapi, tapi justru mesti kita tanya pada diri sendiri. Sukses seperti apa yang ingin kita wujudkan untuk usia, hidup, agama dan ummat ini?

Seperti apa pun kondisi lingkungan di sekitar kita, cobalah untuk terus menuangkan dengan berani ide-ide yang ada di kepala. Bebas mengeksplorasi lingkungan yang kita sukai dan yakini, lewat tulisan sehingga orang lain bisa ikut merasakan kebaikan yang kita hasilkan. Menulislah. Menulis bukan untuk sementara melainkan selamanya. Cintai menulis. Bukan kalimat paksaan tetapi kampanye besar-besaran. Sungguh menulislah. Apalagi menulis adalah salah satu media yang cukup efektif untuk menunaikan kewajiban dakwah.

Maka menulislah. Jadilah penulis perempuan yang tidak kalah dengan penulis-penulis sekular. Dunia ini butuh sekali para penulis hebat yang menyebarkan syi’ar Islam. Islam membutuhkan orang-orang yang tidak lagi sungkan untuk menyebarkan keimanan dan pemahaman Al-Qur’an. Kelak karya tulis sekular tidak akan lebih dari sekedar bangkai. Karena Khilafah tidak akan membiarkan tulisan yang membahayakan ‘aqidah dan mental kaum Muslimin. Tulisan adalah sebuah perlawanan. Terlebih, penamu adalah nyawa keduamu! [Hikari]

Box: Kimi to Itsumademo Ikiyou (And Live Forever With You)

Hanya ingin berbagi, bahwa menulis adalah aktivitas yang paling menyenangkan di dunia. Saya menulis setiap hari (baik berupa pemanasan, latihan sungguh-sungguh, notes kecil, hingga kelak Insyaa ALLAH lahir buku-buku yang berguna untuk manusia lain di dunia ini, aamiin), D’Riser?

 

[checklist]

  • Banyak orang yang D’Rise temui dari berbagai kalangan, berkata ingin menjadi penulis. Tapi merasa begitu sulit. Alasannya beragam. Yang paling banyak karena over paranoid. Saran D’Rise, menulislah apa pun tentang kebaikan (dakwah). Lupakan untuk mengikuti gaya orang lain. Lihat dan menyimak, tapi kamu tetap kamu, orang lain tetap orang lain. Percayalah pada dirimu sendiri. Karena pembaca harus ikut mau penulis. Selalu begitu aturannya.
  • Jangan hanya berkata mau tetapi tidak melakukan. Lakukan dengan santai tetapi serius. Jika ingin pelan-pelan, itu pun boleh. Pilihan. D’Riser mau yang mana?
  • Berpikirlah, kenapa aku harus menulis? Maka jawabannya adalah hanya akan selalu, iya aku harus menulis. Silahkan coba untuk merenungkan.
  • Apa pun kesibukan yang ada hari ini, sempatkanlah untuk menulis. Karena setiap hari, selalu ada cerita yang menarik tentunya, mengakulah. So, kemas dengan hikmah untuk menghasilkan pahala.

[/checklist]

 

 

Hmm! Jadi, wahai kaum perempuan dan D’Riser yang membaca ini, mengingat potensi dan kewajiban untuk melawan kondisi hari ini dengan karya, relakah untuk diam pada akhirnya? D’Rise yakin nuranimu menolak. Berontak. []