Majalahdrise.com – D’Riser pasti sudah pada familiar deh dengan nama Abu Hurairah. Secara, banyak hadits yang kita baca, diawali dengan “diriwayatkan dari Abu Hurairah.. dst”. Wajar aja sob, soalnya, Abu Hurairah ini merupakan sahabat Rasulullah Saw yang paling banyak meriwayatkan hadits. Jumlah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra. sebanyak 5374 hadits lho!

Tau nggak sih, sebenarnya Abu Hurairah bukanlah nama asli dari sang perawi hadits ini. Nama asli beliau adalah Abdu Syams bin Shakhr ad-Dausiy, tapi setelah masuk Islam namanya diganti menjadi Abdurrahman. Abu Hurairah berarti “bapak kucing kecil”, julukan itu disematkan karena beliau sangat menyukai kucing dan sering membawa kucing kesana kemari.

Menurut al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani, Abu Hurairah masuk Islam ketika Rasulullah Saw. masih berdakwah di Makkah, melalui perantara Thufail bin Amru Ad-Dausiy Ra., salah satu pembesar kabilah bani Daus. Thufail bin Amru sendiri masuk Islam setelah bertemu Rasulullah di Makkah, kemudian berdakwah di kampung halamannya. Salah seorang yang pertama kali menyambut ajakan Thufail bin Amru ini adalah Abu Hurairah. Tapi, Abu Hurairah baru berhijrah ke Madinah pada masa peristiwa Khaibar, 7 tahun setelah Hijrah.

Persahabatan Abu Hurairah dengan Rasulullah Saw. memang relatif singkat, yaitu sekitar 4 tahun. Tapi, masa 4 tahun itu digunakan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dari Rasulullah Saw. Abu Hurairah tak pernah absen dari majelis-majelis Rasulullah. Tidak hanya belajar langsung dari sumbernya, Abu Hurairah juga merekam kata demi kata yang terucap dari mulut Nabi Saw, dan menyimpan setiap momen persoalan yang Rasulullah selesaikan.

Satu keistimewaan yang dimiliki oleh Abu Hurairah tetapi tidak dimiliki oleh sahabat yang lain adalah ingatannya yang sangat kuat. Abu Hurairah bisa mengingat semua perkataan dengan detil betapapun panjangnya. Dan ingatan itu bisa ia pertahankan hingga akhir hayatnya. Awalnya, Abu Hurairah sering lupa hafalannya, kemudian beliau mengadu kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. kemudian mendoakan Abu Hurairah, sejak saat itu beliau tak pernah lupa dengan hafalannya.

Doa Rasulullah Saw. ini semakin menambah motivasi Abu Hurairah untuk menimba Ilmu. Demi mendengarkan dan menghafal sabda-sabda Rasulullah Saw, Abu Hurairah rela menjadi Ahlu as-Shuffah (para sahabat yang hidup di beranda masjid), dalam keadaan faqir dan tak memiliki harta. Tak jarang beliau harus menanggung rasa lapar dan haus hingga beberapa hari. Meski demikian, Abu Hurairah lebih memilih untuk terus menuntut ilmu sambil mengikat batu di perutnya sebagai pengganjal rasa lapar.

Abu Hurairah berkata, “Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadis begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw.”

Abu Hurairah r.a. pernah bercerita kepada Abdullah bin Umar r.a., “Aku selalu bersama Rasulullah saw. di saat orang lain tidak berada di situ. Pekerjaanku hanyalah menghafal apa yang telah disabdakan Rasulullah saw. dan aku tidak makan selain yang diberikan Rasulullah saw. kepadaku.”

Tak hanya zuhud dan ahli beribadah, Abu Hurairah juga tidak ketinggalan melaksanakan tugas di medan pertempuran, baik pada masa Rasulullah Saw hidup maupun setelah beliau Saw. meninggal. Beberapa ekspedisi yang pernah diikuti oleh Abu Hurairah diantaranya adalah perang Khaibar dan perang di Wadi Al Qura’, ekspedisi Dzatur Riqa’, Perang Tabuk, Perang Mu’tah, Perang Riddah dan Perang Yarmuk.

Sepeninggal Rasulullah Saw., Abu Hurairah tinggal di Madinah dan mengajarkan Hadits. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Abu Hurairah sempat diangkat menjadi wali (gubernur) Bahrain, namun beliau kembali ke Madinah, dan kemudian diangkat menjadi wali Madinah pada masa Khilafah Umayyah.

Tidak hanya dikaruniai ingatan yang kuat, Allah juga menganugerahi Abu Hurairah umur yang panjang, yaitu kurang lebih 78 tahun. Abu Hurairah wafat pada tahun 681 Matau 59 H dan dimakamkan di Baqi’. Diceritakan bahwa menjelang wafat, Abu Hurairah tampak menangis. Orang-orang di sekitarnya lalu bertanya sebab ia menangis, apakah karena takut mati. Abu Hurairah menjawab, “Tidak, saya menangis karena saya tahu akan menghadapi perjalanan yang sangat jauh namun perbekalan saya sangatlah sedikit”. MasyaAllah, mudah-mudahan kita bisa meneladani Abu Hurairah Ra. []

di muat di majalah Remaja islam Drise Edisi 47