By Fatih Mujahid, Redaktur Tabloid Media Umat

drise-online.com – Pembangunan Masjid al-Aqsha Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar tersendat, lantaran uang sumbangan masjid yang telah diberikan oleh sejumlah calon legislatif (Caleg) gagal di kota tersebut ditarik kembali. Muhammad Daming, bendahara Masjid al Aqsha mengaku pusing karena harus mengambalikan uang sumbangan tersebut. “Sumbangannya sudah dimasukkan ke kas dan diumumkan ke publik bahwa ada caleg yang menyumbang ke masjid. (Namun) saya heran ternyata (sumbangan) diminta kembali,” ujarnya

Biaya politik yang sangat mahal membuat para Caleg mengeluarkan banyak dana untuk melanggengkan tujuannya. Segala cara telah dilakukan memasang foto dimana-mana, melakukan serangan money politic, pencitraan dengan dalih Bansos pun digunakan untuk merebut hati masyarakat, namun mereka tetap gagal dengan meninggalkan biaya utang yang sangat besar serta malu akhirnya mereka pun jadi Gila.

Pakar Ilmu Pemerintahan Universitas Pramita Indonesia Andi Azikin menilai kerasnya kompetensi dalam pemilu membuat para Caleg melakukan segala cara untuk menang, apakah dia baru saja ikut jadi Caleg maupun yang sudah dikenal. Persaingan pun sangat ketat, sebab para Caleg tidak saja bersaing dengan Caleg Partai lain tetapi juga sesama kader Partai pun saling jegal.

“Ketika semuanya mengeluarkan uang besar, yang kalah itu pasti stres berat. Karena targetnya harus menang, dan tidak siap kalah. Itu yang menyebabkan yang kalah jadi gila,” ujarnya.

Poliklinik Kejiwaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) W.Z. Johannes Kupang, Nusa Tenggara Timur, memeriksa dua Caleg yang diduga mengalami gangguan kejiwaaan. Mereka memeriksakan kondisi kejiwaan setelah mengetahui dirinya kalah pada pemilu legislatif 9 April 2014.

Pihak rumah sakit merahasiakan identitas kedua Caleg. Dua caleg itu masing-masing mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kota Kupang dan DPRD Provinsi NTT. Keduanya diantar keluarga masing-masing ke rumah sakit.

“Suami saya terguncang karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk membiayai pencalonan, ternyata tidak terpilih,” kata istri salah satu Caleg yang menolak namanya ditulis, Sabtu, 12 April 2014.

Lain lagi dengan Witarsa, sehari pascapencoblosan lelaki ini dibawa anggota keluarganya ke sebuah padepokan di Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Caleg dari Partai Demokrat untuk Dapil Jabar X ini mengalami stres akibat perolehan suaranya sangat minim, sehingga gagal menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Padahal, modal yang dikeluarkannya sangat besar.

Pemilik Padepokan al-Bustomi, Ujang Busthomi mengatakan sudah tujuh orang Caleg yang datang di Padepokannya dan rata-rata mereka depresi tingkat rendah hingga sedang.”Mereka mengaku pusing, finansial sudah keluar besar tapi takut tak menang,” ujarnya.

Tindakan nekat dan tragis bahkan dilakukan seorang ibu muda dengan ini sial S yang gagal menjadi Caleg. Anggota sebuah partai asal kota Banjar, Jawa Barat ini memilih bunuh diri saat dia tidak berhasil menjadi calon anggota dewan.

Wanita itu mencalonkan diri untuk Dapil I kota Banjar dengan nomor urut 8. Namun saat mengetahui dia gagal, depresi dan bisikan setan membuat S bunuh diri dan mayatnya ditemukan di sebuah saung bambu di Dusun Limusnunggal, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis.

Di Bali karena gagal meraih suara, I Ketut Rai, caleg Partai Golkar nomor urut 5 menutup akses jalan di sekitar rumahnya di Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Penutupan jalan itu dilakukan dengan memasang batako di tiga tempat berbeda di sekitar rumah Ketut Rai. Akibatnya, warga, terutama tetangga Ketut Rai, kesulitan melakukan kegiatan di luar rumah.

Demokrasi bikin Gila

Pengamat Sosial Iwan Januar menilai banyaknya Caleg yang stress dan bertingkah aneh ketika gagal dalam pemilu disebabkan karena demokrasi sistem politik yang tidak manusiawi.

“Sistem ini membuat orang memuja jabatan dan materi, akhirnya mereka menjadi depresi karena besarnya modal yang telah dikeluarkan,” ujarnya.

Rincian kampanye yang menghabiskan 200 juta sampai 6 milyar rupiah, dengan biaya yang sangat besar itu memaksa para Caleg memutar otak untuk mencari dana memenuhi biaya kampanye yang sangat besar.

Kondisi ini sangat mengerikan sebab para cukong pasti akan menagih janji untuk mengembalikan modal hingga dipikiran para Caleg hanya money. Kalah jadi Gila terlilit hutang, menang jadi Gila dunia.

Driser, pesta demokrasi tahap satu telah usai. Layaknya sebuah pesta, pasca berakhir pasti banyak meninggalkan sampah. Mulai dari atribut caleg yang belum dicabut, hingga calegnya yang pada semaput. Itulah harga mahal dari sebuah demokrasi. Sistem pemerintahan buatan manusia yang bergelimang kemaksiatan dan dosa. Masih percaya demokrasi? []
di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37