drise-online.com – pernah bertanya siapa pioner kuliner? Ketika penduduk di berbagai daerah di luar jazirah Arab masuk Islam sejak abad ke 7 M, kaum Muslimin menemukan berbagai macam buah dan sayuran yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan bagi kaum muslimin untuk menanam kembali tanaman dan pepohonan berbuah tersebut di wilayah mereka dengan iklim yang berbeda, sehingga mendorong terjadinya revolusi pertanian Islam.

Misalnya gula. Sebelum mengenal gula, manusia menggunakan madu sebagai pemanis makanan. Ketika Daulah Abbasiyah menaklukkan wilayah utara India pada kisaran abad 750 M, mereka membawa pulang pohon tebu dan membudidayakannya secara besar-besaran sehingga tersebar di seluruh wilayah kaum Muslimin, termasuk Andalusia (sebagian Spanyol) dan Afrika Utara. Sementara, orang Eropa utara baru mengenal “madu yang tumbuh di pohon tanpa lebah” ini 400 tahun kemudian, yang dibawa pulang oleh Pasukan Salib. Tau nggak, kata “sugar” itu sendiri berasal dari bahasa India “sakkara”, dan kata “candy” berasal dari bahasa Arab untuk gula yaitu “qand”. Ketika Salahudin al-Ayyubi menaklukkan kembali Asia Barat dari Pasukan Salib, mereka mencoba menumbuhkan tebu di kampung mereka di Eropa Utara, tapi gagal. Karena itulah harga gula di Eropa ketika itu sangat mahal sekali, dan hanya orang kaya saja yang mampu membelinya.

Seiring dengan revolusi agrikultur tersebut, para ilmuwan dan ahli pengobatan Muslim pun meneliti berbagai macam herbal dan rempah-rempah yang belum dikenal sebelumnya, sehingga bisa dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan, mereka menjadi otoritas utama dalam menentukan apa yang dimakan dan kapan waktu memakannya. Beberapa karya penting ilmuwan tersebut misalnya kitab Al-Hawi (tentang pengobatan) karya Muhammad bin Zakariya ar-Razi (865-925); Al-Qanun fi t-Tibb (tentang pengobatan) karya Ibnu Sina (980-1037); Khalq al-Janin wa Tadbir al-Hibala (gizi untuk janin dan ibu hamil) karya Ibnu Sa’id al-Qurthubi (abad 10 M); dan kitab al-Aghdia (tentang nutrisi) karya Abu Marwan Ibnu Zuhr (1092-1161).

Jadi, dalam peradaban Islam, seni masak memasak nggak berkembang secara random bin acak, melainkan sebuah ilmu tersendiri, yang berdasarkan pada penelitian medis yang cermat serta masukan dari para ahli gizi. Bahan-bahan terbaik dipilih dan diramu menjadi masakan yang selanjutnya disebar luaskan kepada masyarakat. Sehingga, masyarakat memasak makanan yang bukan cuma lezat, tapi juga bergizi tinggi bahkan punya efek terapis untuk memperkuat daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan. Ini baru maknyos!

Seiring dengan bertambahnya resep-resep masakan, para penulis pun mengumpulkannya ke dalam kitab-kitab resep. Beberapa kitab resep yang terkenal misalnya: Kanz al-fawâ’id fi tanwî ‘al-mawâ’id (Anonim, dari Mesir abad 10 M);   Fadhalât al-khiwân fi atayyibat di-ta’âm wa-‘l-‘alwân (Ibnu Razin Attujîbî, Andalusia abad 12 M); at-tabîkh fi al-Maghrib wa-‘l-Andalus(Anonim, Maroko abad 12 M); Kitab at-tabîkh (Mohammed al-Baghdadi, Irak abad 13 M); Kitab at-tabîkh (Ibn al-Warraq Sayyâr, Irak abad 13 M); Tadhkira (Dawud al-Antaki,Suriah abad 13 M); Wasla ‘l-habib fi wasf al-tayyibât wa-t-tibb (Ibn’ Adim, Suriah abad 13 M).

Sehingga, untuk pertama kalinya dalam sejarah, makanan yang dahulu hanya tersedia di dalam istana kerajaan, dalam peradaban Islam makanan itu (beserta cara memasaknya) bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Pada abad 13 M, buku-buku pengobatan dan resep-resep kaum Muslimin itu menarik perhatian bangsa Eropa untuk mempelajarinya. Kota Ferrara, Salerno, Montpellier dan Paris menjadi pusat pembelajaran karya medis peradaban Islam. Permintaan untuk masakan-masakan khas Muslim dan rempah-rempah pun meningkat.

Kitab-kitab pengobatan dan masakan karya ilmuwan-ilmuwan Islam tadi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan lagi ke dalam bahasa-bahasa daerah di Eropa untuk kepentingan para tabib dan juru masak. Misalnya buku Tacuinum Sanitatis adalah terjemahan dari kitab Taqwim al-Sihha (Pemeliharaan Kesehatan, abad 11 M) karya Ibnu Butlan, yang isinya banyak disalin, bahkan salinannya pun diplagiasi di berbagai negara.

Bukan cuma cara memasak, urutan penyajian hidangan ala kaum Muslimin pun juga dicontek; salad atau sup sebagai hidangan utama lalu diakhiri dengan hidangan penutup (dessert), berasal dari anjuran Ar-Razi dan ibnu Zuhri. Sementara itu kaum aristokrat Eropa, umumnya mereka benci sayuran, dan santapan mereka sebagian besar terdiri dari daging. Akibatnya banyak di antara mereka yang menderita asam urat (gout).

Nah D’Riser, itulah beberapa warisan peradaban Islam dalam dunia kuliner. Bukan sekedar enak bin kenyang, Kaum Muslimin dibiasakan untuk memperhatikan bahan-bahan dan cara masak agar makanan yang dihasilkan senantiasa halalanthayyiban. Sebuah kutipan dari sabda Rasulullah Saw “untuk jasadmu ada hak atasmu” (HR Bukhari), menuntun kita untuk menyantap makanan yang baik bagi tubuh, dan menghindari konsumsi makanan yang berbahaya bagi kesehatan. Ajaran Islam memang keren! [Ishak, dari berbagai sumber]

 

BOX

Beberapa masakan yang berakar dari peradaban kaum Muslimin.

  1. Beberapa penggunaan pasta dicatat oleh seorang petualang, Ibnu Bakri (11 M). Bahan pembuat pasta adalah gandum jenis durum, yang dibawa oleh kaum Muslimin ke Sicily dan Spanyol abad 10 M.
  2. Es Krim. Kata ‘cassata‘ dalam bahasa Italia untuk es krim berasal dari bahasa Arab ‘qashda‘ (krim). Pengawas pasar pada abad ke-12 di Sevilla, Ibnu Abdun, mencatat adanya penjualan qashda. Pada waktu itu teknik pengawetan dan penyimpanan es sudah bukan hal ajaib lagi di negeri Muslim.
  3. Nah, ini yang ironis. Hari ini Perancis-lah yang terkenal dengan kue-kuenya, padahal, abad 14 M, kue-kue adalah barang baru sampai-sampai sang raja menugaskan prajurit berjaga di toko tempat kue-kue itu pertama kali dijual.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi #40