PROSTITUSI ARTIS EPISODE 3 | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Digital >> PROSTITUSI ARTIS EPISODE 3
PROSTITUSI ARTIS EPISODE 3

PROSTITUSI ARTIS EPISODE 3




Majalahdrise.com –  Gemes. Berita “seksi” terus aja jadi trending topic. Lagi-lagi soal prostitusi artis. Kali ini melibatkan Nikita Mirzani dan Puty Revita yang diduga nyambi jadi pezina komersial. Tapi, si duo artis –yang entah “prestasi” keartisannya apa– itu malah dibebaskan. Cuma ditanya-tanya di Dinas Sosial, habis itu dilepas. Sedangkan dua mucikarinya, Onet dan Ferry sampai tulisan ini dibuat, udah status tersangka. Kita sih gak kaget. Dunia artis emang dekat dengan pergaulan bebas, gaya hidup permisif dan hedonis.

Aktivitas mereka juga nggak jauh-jauh dari hiburan malam. Remang-remang. Bahkan lembah hitam. Emang nggak semua begitu, tapi yang gitu hampir semua. Ini aja baru episode tiga. Sekadar mengingatkan, episode 1 waktu mucikari Robby Abbas ketangkep lagi menjual Amel Alvi. Lalu model pria dewasa Anggita Sari yang kepergok melayani hidung belang di Surabaya. Otak mereka udah diracuni dengan ideologi kapitalisme yang menuhankan materi.

Merasa bahagia kalo punya banyak harta. Apalagi di dunia hiburan. Penampilan nomor satu. Harta pun diburu. Barang musti branded. Pamer foto liburan ke ujung dunia. Nah, untuk membiayai hidupnya yang supermahal itulah, menjual diripun dilakukan. Bayangin aja, konon tarifnya sekali melayani pelanggan bisa mencapai Rp. 65 juta. Wow! Jangan tergiur ya, dear! Amit-amit. Zina itu termasuk dosa besar. Sangat besar. Para wanita yang menjual diri itu, mungkin mereguk kesenangan sesaat di dunia. Tapi kelak di neraka, bakal abadi. Mereka akan digantung bagian dadanya. Na’uzubillahi minzalik.

Tak Pernah Mati

Prostitusi emang nggak pernah mati. Gitu kata yang pesimis. Habis, nggak ada yang bener-bener serius memberantas prostitusi. Cuma dikiiit banget, yang punya nyali menutupnya. Tepatnya, yang masih punya setitik iman. Seperti Walikota Surabaya yang menutup pusat pelacuran terbesar di Asia Tenggara, Gang Dolly. Lalu Pemkot Jambi menutup lokalisasi perzinaan Payo Sigadung (arrahmah.com). Zaman dulu, tahun 1970, lokalisasi pertama di Jakarta, Kramat Tunggak resmi berdiri. Lalu 1999 lokasi itu bisa ditutup. Artinya, sebenernya kalo pemerintah niat, pelacuran itu bisa diberantas. Minimal nggak dilegalisasi. Namun begitu, prostitusi bisa tuntas dibabat jika diterapkan sistem Islam. Soalnya, hanya sistem Islam yang bakal ngasih sanksi berat pada pelaku zina dan semua yang terlibat di dalamnya.

Hukum Sekuler

Saat ini, orang berzina nggak akan dihukum. Menurut hukum sekuler yang tercantum dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), kedua pezina nggak bisa dipidana kecuali ada yang melaporkan. Yaitu, pihak yang merasa dirugikan. Misal suami atau istri pasangan yang berzina itu. Jadi kalau suka sama suka, ya ga dihukum. Apalagi kalau yang berzina samasama belum nikah, ga ada hukuman sama sekali. Bebas bas bas. Makanya, pasangan pacaran yang kebablasan zina, nggak dihukum, kan? Malah kebanyakan dikawinkan. Hadeuh!

Demikian pula pelacur, dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dikategorikan korban. Walaupun aslinya secara sah dan meyakinkan, sadar sesadarsadarnya emang niat menjual diri. Mereka nggak dihukum. Makanya, kalo ada kasus pelacuran, yang ditangkap polisi hanya mucikarinya. Ancaman hukumannya juga ringan. Seperti mucikari kasus Amel Alvi kemarin, yakni Robby Abbas, hanya divonis 1 tahun 5 bulan. Bagaimana dengan pemakai jasa atau pelanggan para pelacur itu? Hohoho…aman damai sentosa. Tidak ada delik hukum apapun yang bisa menyentuhnya. Bebas bas bas. Walaupun menurut UU Trafficking katanya bisa dihukum, tapi faktanya belum pernah ada yang dihukum.

Islam Solusinya

 Dalam memberantas kemaksiatan, hukum Islam jelas, tegas, ringkas, preventif dan solutif. Orang berzina, jika sudah menikah dirajam sampai mati. Jadi cukup sekali dia berzina, kan. Udah, langsung dimatikan aja. Biar nggak keenakan terus menerus berzina. Yang akhirnya merebak seks bebas dan penyakit menular seksual. Selesai. Efeknya, orang lain yang mau zina keder. Mikir-mikir dong. Emang mau nyari mati? Nah, kalo belum pernah nikah, okelah nggak langsung dimatikan. Dihukum cambuk aja 100 kali, lalu diasingkan. Dikasih kesempatan tobat.

Maklum, belum pernah merasakan, jadi mungkin memang pas khilaf. Tapi dengan dicambuk di depan umum dan diasingkan, mosok nggak kapok? Kebangetan. Untuk kasus pelacuran, ya sama, dihukumi berzina. Karena kan suka sama suka, walaupun berbayar. Yang cewek suka karena dapat duit, yg cowok suka karena tersalurkan syahwatnya. Ya udah, hukumi sebagai pelaku zina. Dua-duanya: pelacur dan pelanggannya. Mucikarinya?

Sebagai orang yang memperlicin kemaksiatan, dihukum juga dong. Bisa dipenjara 5 tahun dan dijilid. Negara juga kudu membubarkan tempattempat perzinaan. Lebih dari itu, juga musti mencegah mencuatnya syahwat di ruang publik. Negara wajib membredel mediamedia yang menjadikan kepornoan. Mencegah tayangan-tayangan yang mengarahkan pada seks bebas. Melarang warganya mengumbar syahwat.

So, jelas, kan, bagaimana bedanya cara pandang sekuler dan Islam terhadap persoalan prostitusi ini. Sudah waktunya hukum sekuler kapitalis direvisi, diganti dengan hukum berbasis Islam. Bahkan bukan hanya UU-nya, juga sistemnya secara menyeluruh. Apalagi mayoritas umat ini adalah muslim. Wajar saja, kan, kalau maunya diatur dengan ideologi Islam? Katanya mau mati dalam keadaan Islam. Tapi waktu hidup kok menolak diatur dengan aturan Islam? Mikir!(*)

Di muat di majalh remaja islam drise edisi 53




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × four =