Majalahdrise.com –  masih ingat sahabat drise yang berbagi kisahnya di negeri Panser Jerman, berikut kisahnya yang lain saat Ramadhan tiba di musim panas. Bukan cuma suhu udara yang memanggan, tapi juga lamanya waktu siang. Ketika pertama kali tiba di Jerman (sekitar tahun 2011), aku berpuasa 18 jam (fajar-maghrib) dengan suhu 29°-35°C. Tahun 2012 adalah puncaknya musim panas di jerman. Jadi masyarakat muslim d Jerman harus berpuasa 19 jam.

Godaan dan penggugur pahala puasa bukan melihat dan membayangkan makanan, tapi melihat (mau tak mau, pasti kelihatan) cewek-cewek perpakaian minim & tipis dimana-mana. Alasannya, pada suhu diatas 27° orang-orang sini sudah merasa panas dan gerah. Apalagi ketika akhirnya mencapai suhu di atas 30°, kontan setengah tubuh mereka telanjang terpampang, baik laki-laki maupun perempuan. Ya, yang laki-laki juga sama saja, mereka memakai celana pendek dengan T-shirt seadanya bahkan tak jarang membuka dada di jalan-jalan.

Dulu pas liburan summer semester di Studienkolleg tepat di bulan Ramadhan, aku mendapat jatah libur hampir 2 bulan. Aku memanfaatkan momen ini untuk nyambi bekerja selaku operasional (DJ) radio masjid Al-Falah Berlin yang telah berdiri sejak lebih dari 20 tahun lalu. Tak sekedar tempat ritual ibadah semata, bahkan sejak didirikannya, masjid ini merupakan pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan dakwah bagi masyarakat muslim Indonesia Berlin dan sekitarnya. Masjid Al Falah sendiri di bawah naungan IWKZ e.V. (Indonesisches Weisheits- & Kulturzentrum artinya pusat pengetahuan dan kebudayaan Indonesia). Ada kebanggan tersendiri sebab radio Al-Falah kala perdana mengudara di Jerman dan dapat didengar seluruh penjuru dunia termasuk di indonesia.

Tugasku selaku DJ yakni memberi prolog sekaligus memandu untuk diteruskan kepada pemateri atau ustadz yang tengah memberi tausiyahnya di mesjid Al-Falah. Setidaknya dalam sehari minimal 2 kali mengudara (sebelum maghrib dan setelah subuh) dengan durasi 2 – 3 jam sekali. Ya Allah, jika tidak teringat aku hanya hamba sahaya yang harus berjibaku menggapai ridha-Mu dalam rentang waktu, pastilah aku tinggalkan semua ini. Hidup bergulir mengukir kisah, dan kisah Ramadhanku di musim ini tak berhenti sampai disitu. Aku lanjut bekerja sebagai cleaning room di hotel bintang 4 terhitung jam 7 pagi hingga jam 16.30 petang bahkan lebih larut. Kerja saat puasa apalagi menahan haus dan lapar selama 18 jam itu rasanya ahhh….. lelahnya.

Ah Tuhanku, bolehkah aku berkeluh kesah? Sebab diri ini hanya setumpuk raga yang diselami jiwa, yang di dadanya berharap lillah di kala lelah. Selepas pulang kerja, pastinya capek, dan tambah ngos-ngosan karena harus melihat pemandangan summer yang ‘panas’ di segala tempat seperti stasiun kereta, tram, dan halte yang bertaburan aurat. Begitu sampai rumah (kala itu aku numpang di rumah seorang kawan), aku bergegas mandi agar tidak terlambat ke masjid Al Falah. Sekedar informasi, waktu maghrib di Berlin yakni sekitar 21.30 CET (Central Eropa Time) dan isya jam 22.45 CET. Bayangkan, kalau di Indonesia, jam segitu nyaris menuju tengah malam. Shalat tawarih dan tersisa sekitar 2 jam saja untuk istirahat lalu bergegas bangun sahur 03.00 CET. Ruarrrr biasa!

Dengan jadwal sepadat ini, kadang kala aku mencuri-curi waktu selepas nge-DJ kajian subuh untuk istiharat ‘tidur ayam’ sekiranya 1 jam saja. Periode bulan Ramadhan di masjid Al Falah dipenuhi nuansa ibadah. Suasana jauh lebih hidup dari hari biasa. Pengurus masjid Al Falah mengundang ustadz asli Indonesia untuk mengajar dan mengisi kajian Ramadhan. Tokoh yang diundang selalu berbeda setiap tahunnya. Maka diundanglah ustadz Hartanto Saryono pendiri Rumah Tahfidz (rumah tajwid) Indonesia. Disanalah kami diajarkan memperbaiki bacaan yang turun temurun sejak kecil, ternyata masih jauh dari kesempurnaan. Malu rasanya, rupanya bacaanku selama ini banyak yang masih belepotan. Hehe. Pada hari minggu biasanya ada TPA untuk anak-anak Indonesia yang tinggal di sekitar Berlin (kisaran umu 5-12 tahun).

Tersebab seorang pendidiknya yang harus mudik ke Indonesia, akhirnya tugas mulia itu jatuh ke pundakku yang sebenarnya belum ada apa-apanya dalam perkara agama. Senang, riang dan bernuansa spirit, itulah yang kentara kurasakan. Memoriku berlabuh, teringat pesan orang tua dan upaya mereka menanamkan perkara kalamullah ini. Teringat pula pesan baginda Rasulullah, yakni

Orang yg paling utama di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an & mengajarkannya. Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”

 Aku merasakan kehangatan ukhuwah islamiah di tempat ini, sesuatu yang dulu tak terbayangkan di benakku. Ramadhan yang begitu berkesan dan semoga hanya kebaikanlah yang datang bersamanya. Momen Idul Fitri saatnya aku kembali pulang ke Dessau (Kota kecil yang terkenal dengan arsitek dan Bauhaus yg didirikan oleh Walter Gropius 1925-1926).

Di tempat itulah aku melanjutkan misi di Studienkolleg, melanjutkan studi. Perjalanan ini ialah sekumpulan ikhtiar dari seseorang yang bercita-cita tinggi sampai ke akherat. Berharap lebih dari masa yang sebentar, berlatih mandiri memantaskan diri. Dengan elok berusaha berdiri di atas kaki sendiri, bukan hendak mangangkat tinggi dagu ini. [Seperti yang dikisahkan Muhammad Ikhsan kepada Redaktur/Alga Biru]

Di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 53