Remaja Broken Home Don’t Break Your Future! | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Bukamata >> Remaja Broken Home Don’t Break Your Future!

Remaja Broken Home Don’t Break Your Future!




Majalahdrise.com – S.S. Benyamin Lumy, seorang pakar psikologi mengatakan “Perhatian terbesar dan hadiah terbaik kepada anak bukan dengan memberikan materi, tetapi dengan meluangkan waktu untuk selalu dekat dengan mereka.” Catet tuh!

Andai nasihatnya S.S Benyamin Luly di atas dipake oleh para orang tua, tentu suasana baiti jannati alias rumahku surgaku tak hanya di lisan. Suasana rumah yang nyaman, asyik, seru, dan anti bete hadir dalam setiap keluarga. Pastinya bikin betah dong. Bukan lantaran perabotannya yang serba mewah bin lux, tapi lebih pada perasaan hati para penghuninya. Nyess!

Namun apa jadinya kalo nasihat di atas berubah seratus delapan puluh derajat. Jadilah baiti naari alias rumahku nerakaku. Wadoh! Cilaka dua belas. Bukan kenyamanan dan ketentraman yang kita dapatkan, tapi kegelisahan yang terus menghantui. Diam di rumah serasa di dalam pemandian sauna. Gerah. Baru aja nginjek keset depan pintu, bawaannya pengen balik kanan bubar jalan. Segitunya!

 

Gara-Gara Broken Home

Bayangin aja, gimana rasanya kalo di dalam rumah setiap hari kita disajikan pementasan orang tua yang cekcok. Adik kakak yang doyan mengumbar emosi. Perhatian orang tua digantikan uang saku dan materi yang berkecukupan. Kasih sayang adik kakak tenggelam dalam teriakan. Dijamin deh, penghuninya terutama remaja ogah berlama-lama tinggal di rumah. Pengennya segera hangout. Kemana aja yang penting cabut dari rumah. Ikut kemana angin berhembus!

Masih mending kalo hembusan angin membawa remaja ke mushola atau tempat pengajian biar selamat dari godaan setan. Lha kalo hembusan angin ternyata malah meninabobokan remaja dalam kesenangan dunia, bisa berabe urusannya. Karena nggak punya pendirian, kecebur dalam got kemaksiatan. Bisa jadi pelaku atau korban. Mulai dari nyicipin narkoba, pelaku kriminal amatiran, hingga pergaulan bebas yang menyesatkan. Tidurnya beralaskan trotoar beratapkan langit ditemani gemuruh halilintar yang menggelegar. Inikah potret remaja broken home?

Remaja broken home beda dengan kaum gepeng alias gelandangan pengem

Broken Home MAJALAH REMAJA | TABLOID | BACAAN | ISLAM | TRENDI | GAUL | MUSLIM | DAKWAH | ONLINE | ANAK | MUDA | CERPEN ISLAM | SMART| HTTP://MajalahDrise.Com

is yang homeless (tak punya rumah). Gepeng jelas-jelas gak punya rumah permanen, yang ada cuman gubuk derita di kolong jembatan atau bantaran kali. Sementara remaja broken home punya rumah, tap suasananya bikin gak betah. Secara fisik, penampilannya keliatan rapi. Namun secara psikis, cacat. Kurang perhatian dan kasih sayang. Walhasil, tak sedikit remaja broken home yang terhanyut dalam kasus kriminal sebagai pelarian. Hati-hati!

Di Kabupaten Tulungagung, kasus pencabulan terus mengalami peningkatan. Mulai Januari – Mei 2014 mencapai 11 kasus. Sialnya, mayoritas korban pencabulan merupakan anak dibawah umur dan masih berstatus pelajar. Mereka umumnya berasal dari keluarga yang berantakan atau broken home. (memokediri.com, 5 Juni 2014)

Sementara di Kota Serambi Mekkah, Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan pergaulan bebas kalangan remaja di daerahnya kini memprihatinkankarena juga melibatkan kalangan pelajar. Illiza mengatakan, pihaknya mendapatkan sumber langsung dari sosok pelajar yang pernah terlibat dalam seks bebas. Remaja atau pelajar yang terlibat dalam seks bebas itu dari keluarga “broken home” dan berasal dari luar Banda Aceh.(Waspada.co.id, 22/03/2013)

Kejadian yang menimpa pemudi asal Kota Salatiga yakni RDA (27) dapat menjadi pelajaran bagi para orang tua. Akibat perceraian kedua orang tuanya, membuat RDA kehilangan pegangan dan akhirnya memutuskan menjadi kurir narkoba.“Saya dari keluarga broken home dan sudah dua bulan menjadi pengedar,” imbuh RDA saat dimintai keterangan, Senin (11/8).(Suaramerdeka.com, 12/08/2014)

Sebut saja namanya Saras (16), siswi SMA swasta di Surabaya yang terjerumus pelacuran. Tanpa bimbingan langsung dari orang tua (broken home), pergaulan Sarah tak terkontrol. Mulailah dia berkenalan dengan rokok, minuman keras, bahkan obat-obatan terlarang. Nggak ketinggalan, pergaulan bebas.

Kisah Angel (bukan nama sebenarnya) tak kalah mengejutkan. Dia mengaku mengenal narkoba sejak kelas IV SD.Segala polemik hidup perempuan yang sekarang duduk di bangku SMA kelas X inisejatinya berawal dari lingkungan keluarga yang sangat tidak kondusif (keluarga broken home).

KisahSaras dan Angel di atas bukan fiksi atau penggalan sinetron, melainkan nyata, ada di tengah-tengah kita. Mereka adalah anak-anak korban trafficking yang sedang ditangani oleh Yayasan Hot Line Surabaya dan Yayasan Hot Line Pendidikan Jawa Timur (Jawa Pos, 11/2/2012).

 

Ada Apa dengan Broken Home?

Istilah Broken home identik dengan kehidupan keluarga yang berantakan. Minim belaian kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anak. Yang ada, cuman pertengkaran dan keributan yang bikin tetangga nggak nyaman. Ust. Iwan Januar, spesialis islamic parenting bilang, “Broken home itu remaja yang gagal mendapatkan perhatian, pendidikan dan kasih sayang di rumah. Ini bisa menimpa remaja mana saja, bukan Cuma remaja yang orang tuanya bercerai, tapi remaja yang kedua atau salah satu orang tuanya tidak memberikan tiga faktor itu pada anak-anaknya”.

Kondisi broken home sering memaksa remaja untuk cabut dari rumah. Cari tempat lain yang bisa bikin dirinya nyaman. Entah itu kehidupan jalanan atau ngumpul bareng dengan kawan sepermainan. Padahal, usia remaja paling rentan dengan pengaruh negatif lingkungan. Disinilah pentingnya peran keluarga sebagai pembentuk karakter anak yang akan menjaga masa depannya. Karena idealnya, di rumah remaja bisa mendapatkan gemblengan kedisplinan, kasih sayang dan kemandirian dari kedua orang tua.Lah kalo remaja ngerasa nggak dapat apa-apa dalam orangtuanya, bisa fatal akibatnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan di University of California, Los Angeles setelah mempelajari masalah dalam (kurang lebih) 2000 keluarga. Hasilnya, membuktikan bahwa anak kerap menjadi korban dalam pertikaian rumah tangga.Efek pertikaian ini, biasanya akan membuat si anak cenderung melakukan hal-hal negatif diluar kebiasaannya. Ketidakstabilan emosiyang disebabkan, akan membuat si anak mencoba menggunakan obat-obatan terlarang, mengonsumsi alkohol hingga melakukan seks bebas.

Seorang anak yang terus-menerus melihat pertengkaran orangtuanya, bisa menderita kelainan secara psikis dan gangguan perilaku, saat berhubungan dengan orang lain.Profesor Kelly Musick, sekaligus penulis buku “Are Both Parents Always Better than One? Parental Conflict and Young Adult Well-Being”, mengungkap bahwa seorang anakyang terlahir dan besar dalam keluarga penuh konflik, cenderung menjadi bodoh secara akademis, dan tak sedikit juga yang akhirnya putus sekolah. Ironisnya, dalam usia belia, mereka sudah mencoba untuk merokok, minum alkohol dan melakukan penyimpangan secara seksual.

         Seperti apa masalah yang bakal dihadapi oleh remaja korban keluarga broken home, berikut diantaranya:

  1. Psychological disorder (Gangguan Psikologis).

Nggak bisa ditutupi kalo remaja broken home bakal mengalami gangguan secara psikologis. Meskipun kebutuhan secara fisik terpenuhi dengan baikatau malah berlebihan, namun perkembangan jiwa anak kurang baik saat kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi. Remaja broken home memiliki kecenderungan agresif, introvert, menolak untuk berkomitmen, labil, tempramen, emosional, sensitif, apatis, dan lain-lain. Bawaannya sewot mulu. Hati-hati ah!

  1. Academic problem (masalah akademik).

Dorongan untuk berprestasi terbesar bagi remaja adalah keluarga. Itu kalo keluarganya nyaman kaya keluarga cemara. Nah ceritanya lain kalo ternyata fungsi keluarga sebagai tempat bernaung berantakan. Remaja broken home akan cenderung menjadi pemalas dan memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Seperti hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh Aji Baroto terhadap buku pribadi siswa dan penyebaran angket untuk mengungkap motivasi belajar siswa. Kesimpulannya, motivasi belajar siswa dari keluarga broken home lebih rendah daripada motivasi belajar siswa dari keluarga utuh. Catet tuh!

  1. Behavioral problem (perilaku menyimpang).

Remaja broken home biasanya kurang dapet perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Akibatnya, doi punya self esteem dan self confident rendah, konsep dirinya pun negatif. Begitu di luar (rumah), anak semacam over kompensasi alias lebay bombay, mencari pengakuan dan penghargaan diri dari lingkungan sekitarnya. Sehingga doi punya kecenderungan untuk melakukan perilaku-perilaku menyimpang seperti bullying, memberontak, bersikap apatis terhadap lingkungan, bersikap destruktif  terhadap diri dan lingkungannya. Dia tunjukkin kekecewaannya dengan mulai merokok, minum minuman keras, judi, hingga free sex(seks bebas). Mereka ngelakuin nakal tersebut tanpa pernah tahu apa yang baik dan yang buruk. Persis seperti seorang anak kecil yang menangis dan butuh pelukan ibunya, tapi dia tidak mendapatkannya, rungsing bin rewel jadinya. Makanya remaja broken home bakal ngasih apresiasi kepada siapapun yang mau ‘memeluknya’, dan sialnya wujud si ibu itu didaulatkan pada ‘narkoba’ dan ’seks bebas’. Ngeri cuy!

 

Keluarga ‘Broken Home’ Produk Kehidupan Sekuler

Keluarga broken home bisa disebabkan banyak hal. Salah satunya akibat perceraian yang dialami orang tua yang menggerus kasih sayang dan perhatian pada anak. Seperti yang menimpa banyak keluargadi negeri kita.

Angka perceraian di Indonesia terbilang sangat tinggi, bahkan saat ini telah mencapai rekor tertinggi di Asia Pasifik. Berdasarkan data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-Indonesia, ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian pertahun.

Data yang dilansir Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (MA) menyebutkan, dari 285.184 perkara perceraian, sebanyak 67.891 kasus karena masalah ekonomi.Tingginya beban hidup apalagi pasca kenaikan BBM yang zhalim untuk kesekian kalinya, bikin emosi juga ikut naik. Suami istri gampang terpancing pertengkaran perkara keuangan. Dari mulai uang belanja yang makin menggila hingga kebutuhan sekolah anak yang mendesak. Penghasilan pas-pasan sementara kebutuhan terus merangkak naik tak kenal kasihan. Kalo istri ikut mencari nafkah, perhatian dan kasih sayang untuk anak terlalaikan. Anak-anak yang jadi korban.

Di urutan kedua, pemicu perceraian adalah perselingkuhan sebanyak 20.199 kasus. Di era digital saat ini, gampang sekali orang selingkuh dua lingkuh. Lantaran batas pergaulan laki dan perempuan udah bias. Bahkan cenderung bebas. Ditambah lagi, cara berpakaian kaum hawa yang sering mengundang jakun pria naik turun. Setan pun teriak kegirangan. Terus ngomporin biar terjadi perselingkuhan. Ujung –ujungnya, gugat cerai diajukan. Lagi-lagi anak yang jadi korban.

Kondisi rumah tangga yang nggak harmonis sangat mungkin terjadi di tengah kehidupan sekuler kaya sekarang ini. Gaya hidup hedonis yang memuja syahwat kerap menyapa pria dan wanita. Gak lagi ngeliat sudah berkeluarga atau masih jomblo. Kalo nafsu sudah di ubun-ubun, segala cara dijabanin. Udah lupa dengan statusnya sebagai kepala rumah tangga.

Aturan sekuler kapitalis yang diterapkan negara untuk ngatur rakyatnya, secara tidak langsung membidani lahirnya keluarga broken home. Kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi seperti BBM merembet pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi ini memaksa istri untuk ikut banting tulang mencari nafkah. Bukan demi mengejar karir atau melepaskan ketergantungan pada suami. Tapi lebih karena tuntutan ekonomi. Kasih sayang dan perhatian untuk anak pun terpangkas. Phew!

 

Don’t Break Your Future!

Broken home bisa menimpa siapa aja. Mungkin dengan tingkatan yang berbeda-beda. Yang parah, harus terima kenyataan kalo orangtunya berpisah. Yang mendingan, mungkin keharmonisan keluarga masih bisa diselamatkan. Kalo diantara kita ada yang ngalamin, keep cool, calm and confident. Tetap tenang dan yakin kalo Allah sedang ngasih ujian. Jangan sampai kita jadi korban atau memperparah keadaan. Hadapi dan cari solusi. Itu baru remaja muslim sejati.

Agar kita siap hadapi keadaan yang terburuk di keluarga kita, berikut beberapa tipsnya. Cekidot!

1) Jaga hati. Remaja broken home biasanya sedih bin kecewa dengan keluarga tercintanya yang berantakan. Akibatnya, dia ngerasa sendiri di tengah keramaian. Tak ada lagi orang yang mencintainya. Tak ada harapan untuk jalanin hidup ke depannya. Akibatnya bisa dengan mudah tergoda setan untuk lari dari kenyataan dan terjerumus dalam jurang kemaksiatan.Tenang bro!

Ingat, Allah selalu bersama kita. Dalam situasi apapun, mengingat Allah akan membuat kita lebih tenang.Ambil wudhu, shalat sunnah dua rakaat lalu berdoa Agar Allah tunjukkan jalan keluar terbaik buat keluarga kita.

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Kalo udah tenang, segera temui orang sholeh. Sahabat dekat atau ustadz yang bisa dimintai nasihat. Agar ketemu solusi demi menjaga diri dan keluarga bisa kembali harmonis.

2) Jaga hubungan. Remaja broken home ngerasa nggak ada yang perlu dihargai dan dapat dipercaya dalam hidupnya. Karena orang tua yang katanya sayang sama anak, malah bikin suasana rumah nggak enak. Kekecewaan bisa bikin remaja anti sosial. Nggak peduli terhadap orang lain.

Don’t worried be happy. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Termasuk juga orang tua. Kalo kita sayang sama mereka, bukan membencinya. Justru mendekati, ngobrol dari hati ke hati dan cari solusi. Biar masalah yang dihadapi, bisa segera diatasi.

Kita masih punya masa depan yang patut kita perjuangkan. Dan itu perlu dukungan banyak pihak untuk meraihnya. Jangan sampe gara-gara broken home kita merusak hubungan dengan orang-orang terdekat. Padahal mereka itulah yang bakal membantu wujudkan impian mulia kita. So, tetap jaga hubungan dengan sahabat atau kerabat agar kita tetap kuat meski berada dalam situasi yang gawat.

3) Jaga iman. Remaja broken home mudah terbawa emosi dan terkadang mikirnya cetek. Yang ada dikepalanya cuman kesenangan sesaat untuk melupakan masalahnya. Nggak peduli dengan orang lain dan masa depannya. Udah siap-siap aja jadi pengikut setan. Hush!

Setan itu paling pinter memalingkan kita dari cara berpikir jernih kalo lagi galau. Makanya kita mesti getolin ibadah dan berdoa biar tahan godaan setan. Dalam hal ini Rasulullah saw mengajarkan kepada kita doanya,”Allahumma inni audzubika minal ajzi wal kasal wal jubni wal haromi wa audzubika min fitnatil mahya wal mamat wa audzubika min adzabil qobri, artinya; “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kerentaan. Aku berlindung kepada-mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (HR. Bukhori)

4) Jaga kegiatan. Remaja broken home gampang aja ngikutin kegiatan yang melenakan. Awalnya sih cuman sekedar melepas stress alias biar pikiran relaks. Tapi endingnya suka kebablasan. Malah jadi kebiasaan dan melalaikan kewajiban.

Biar nggak terlena, harus ada yang mengingatkan. Bergaul dengan teman-teman yang soleh bisa jadi pilihan. Mereka yang akan menjaga diri kita dari melalaikan kewajiban. Sabda Rasulullah saw,”Seseorang itu tergantung dari (kualitas) agama kawan karibnya maka seseorang diantara kamu melihat siapa yang menjadi kawan karibnya.” (HR. Abu Daud)

Tak lupa, jadikan pengajian sebagai kegiatan yang diutamakan selain kegiatan lain yang bisa mengasah kemampuan. Dalam pengajian, kita akan mendapatkan pencerahan, solusi atas permasalahan, dan petunjuk untuk menyelesaikan. Sehingga kita nyadar kalo keluarga broken home itu akibat dari rusaknya lingkungan sekitar kita. Gaya hidup sekuler telah menjadikan para orang tua menjadi Ayah dan Ibu ‘sampingan’. Rumah hanya sekedar persinggahan setelah beraktifitas seharian. Komunikasi dengan buah hati sekedar formalitas biar keliatan ada perhatian. Padahal yang dibutuhkan oleh anak adalah kehadiran mereka sebagai sahabat. Tempat berbagi suka dan duka.

So, don’t break your future walau kita dianggap remaja broken home. Buang saja label ‘remaja broken home’ ke tempat sampah terdekat. Tanamkan pada diri, gimanapun keadaan keluarga, tetap harus dicintai bukan dijauhi. Kabur dari rumah hanya menambah masalah. Kita adalah remaja perindu surga. Dan selama di dunia, baiti jannati. Rumahku surgaku. #YukNgaji dan Tetap semangat! [@Hafidz341]

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 × 5 =