Rakyat udah jenuh dengan berondongan masalah yang bikin  hidup nelangsa. Pemerintah kita yang sekuler bukannya  Rnggak peduli dengan nasib rakyatnya yang senen kemis.  

Tapi kayanya negara keteteran buat nyari jalan keluar. Gimana  nggak, belon kelar satu masalah, eh temen-temennya udah nggak  sabar pengen ikut ngerecokin. Menjelang pilkada, para politisi  berlomba-lomba ngegombalin rakyat kalo mereka punya cara jitu  buat beresin masalah kemiskinan, pendidikan, atau sembako.  Padahal tiap pilkada, menu yang sama juga diobral di depan  rakyat. Hasilnya, cuman ganti pemimpin dan ganti kebijakan.  Masalahnya? Teuteup!  

Bukannya ikut ngegombal kalo Islam punya resep mujarab  untuk beresin urusan umat. Syariah Islam siap menjawab masalah  yang disodorkan sistem kapitalis sekuler. Karena Islam juga punya  aturan politik, sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, pertahanan,  atau keamanan yang nggak kalah komplitnya dengan aturan  shalat, zakat, puasa, atau ibadah haji. Semuanya bisa diterapkan  dimana saja dan kapan saja asalkan negaranya, Khilafah Islamiyah.  Eits, Khilafah Islamiyah, apaan tuh?!

Runtuhnya Khilafah Terakhir Khilafah adalah bentuk sistem pemerintahan Islam. Kepala  negaranya dikenal dengan sebutan khalifah. Khilafah atau khalifah  berasal dari kata dasar ‘khulafa’ yang artinya pengganti.  Maksudnya, pengganti Rasulullah saw dalam memimpin urusan  umat. Seperti yang dilakukan Abu Bakar, Umar bin Khattab,  Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib yang silih berganti  memimpin umat pasca Rasul saw wafat.

Kepemimpinan empat  shahabat ini yang populer dengan julukan Khulafaur Rasyidin.  Estafet kepemimpinan umat Islam terus bergulir sepanjang  tahun selama kurang lebih 14 abad. Setelah masa Khulafaur  Rasyidin berakhir, dilanjutkan para khalifah di masa dinasti  Umayyah mulai dari Muawiyyah bin Abi Sufyan hingga Marwan  bin Muhammad. Kemudian diteruskan para khalifah di masa  dinasti Abbasiyah mulai dari Abul Abbas as Safah hingga Al  Mutawakkil Alallah.

Dan berakhir di masa dinasti Utsmaniyah dari  Sultan Salim I hingga Sultan Abdul Madjid Kan II.  Sedih deh kalo kita inget saat-saat terakhir menjelang  keruntuhan Khilafah. Awalnya, Inggris berhasil menduduki  Istambul, Turki pada perang Dunia I (1914 M).

Lalu seorang agen  Inggris keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika, Mustafa Kemal  Pasha, ditugaskan untuk menjalankan agenda Inggris di Turki  sebagaimana tercantum dalam “pernyataan Curzon”, yaitu:  penghapusan Khilafah secara total, pengusiran khalifah sampai  keluar batas-batas negara, penyitaan kekayaan khalifah, dan  pernyataan sekularisasi negara. Pernyatan ini merupakan syarat  yang harus dipenuhi Turki untuk mendapatkan kemerdekaannya  dari Inggris.  

Mayoritas anggota Majelis Nasional Turki yang berpusat di  Ankara dengan tegas menentang apa yang tercantum dalam  pernyataan Curzon. Tapi mereka diancam Kemal akan dibunuh  dan dihukum gantung. Akhirnya Majelis Raya Nasional menggelar  sidang pada tanggal 01 Maret 1924 selama tiga hari untuk  mensikapi adanya dualisme pemerintahan di Ankara dan Istambul.  

Terjadi perdebatan alot dan sengit karena Mustafa Kemal sebagai  pimpinan majelis terang-terangan hendak menghapus  kekhilafahan Islam yang dipimpin Khalifah Abdul Majid II di  Istambul.  Dan tepat pada pagi hari tanggal 03 Maret 1924 atau 28 rajab  1342 H, Majelis Nasional mengumumkan telah menyetujui  penghapusan khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan  negara. Malamnya, Khalifah Abdul Majid II diusir dari rumah  kediamannya atas perintah Mustafa Kemal.

Khalifah dipaksa  masuk mobil dan dibawa melintasi perbatasan negara menuju  Swiss. Kemudian diturunkan dengan dibekali satu kopor berisi  beberapa potong pakaian dan sejumlah uang. Dengan demikian, Mustafa Kemal telah berhasil memenuhi  persyaratan Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, untuk  mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Turki. Di Gedung Parlemen Inggris, Curzon menyatakan, “…Turki telah dihancurkan  dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah  menghancurkan kekuatan spiritual mereka, yaitu Khilafah dan  Islam…” Driser, pasca runtuhnya Khilafah umat Islam bagai anak ayam  kehilangan induknya. Mencar-mencar gak karuan.

Tak ada lagi  yang melindungi umat Islam dan kaum Muslimin. Akibatnya,  negeri-negeri Islam terpecah belah. Kaum Muslimin dizhalimi.  Rasulullah saw dihina. Ajaran Islam diinjak-injak. Masihkah kita  cuek dengan kondisi ini? Jangan dong! Tiada Kemuliaan Tanpa Khilafah Rahasia kejayaan Islam selama berabad-abad terletak di  pundak seorang Khalifah yang menerapkan syariah Islam secara  total. Musuh-musuh Islam boleh aja berkoar-koar kalo khilafah  Islam itu kuno, bar-bar, diskriminatif, melanggar HAM atau cap  negatif lain yang menyudutkan.

Tapi kenyataannya, itu semua  omong kosong. Justru yang terjadi, Khilafah konsisten  menjalankan fungsinya untuk memelihara dan menjaga kehidupan  manusia. Diantaranya:  

Pertama, melaksanakan penertiban (law on order). Islam  punya aturan lengkap dan tokcer untuk menjaga ketertiban  masyarakat. Mulai dari hukuman qishas, jinayat, ta’zir, dan  mukholafat. Semuanya diterapkan tanpa kecuali alias nggak  pandang bulu. Suatu saat diajukan seorang pencuri wanita kepada  Rasulullah saw untuk diadili dan dijatuhi hukuman had/potong  tangan.

Usamah bin Zaid memohon keringanan hukuman kepada  Rasulullah. Beliau berkata: ”Apakah kamu mengajukan keringanan  terhadap salah satu hukuman dari Allah? Demi Allah, kalau saja  Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akan ku potong  tangannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, mengusahakan kesejahteraan  dan kemakmuran  rakyat. Kehidupan layak bagi rakyat, jadi harga mati yang mesti  diperjuangkan oleh seorang khalifah. Prinsipnya, khalifah yang  pertama kali merasakan kelaparan sebelum rakyatnya dan paling  buncit merasakan kenyang setelah rakyatnya. Biar kas negara  tetep terisi, Islam nggak akan pernah ngasih celah bagi pemilik  modal untuk menguasai minyak bumi, gas bumi, atau emas yang  jadi milik umum. Semua kekayaan alam itu dikelola negara dan  hasilnya untuk kepentingan rakyat.  

Ketiga, menegakkan keadilan. Islam nggak pernah memaksa  tiap orang untuk masuk Islam. Itu artinya, siapa saja boleh tinggal  menetap di dalam negara Khilafah meskipun ia non muslim.  Asalkan dia mau ngikutin aturan Islam yang diterapkan negara  diluar ritual ibadahnya.

Dan yang pasti, nggak ada diskriminasi  terhadap penganut agama lain (kafir dzimmi). Harta dan darah  mereka terjaga sama seperti kaum Muslim. Rasulullah saw.  bersabda: “Siapa saja yang membunuh kafir mu’ahad (yang  mengadakan perjanjian dengan Daulah Islamiyah, red.), dia tidak  akan mencium wangi surga, padahal sesungguhnya wangi surga  itu sudah bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR al-Bukhari).

Keempat, menyebarkan Islam. Khilafah jadi ujung tombak penyebaran Islam ke seluruh dunia. Bukan untuk sok jago atau  nguras kekayaan alam negeri orang, tapi semata-mata untuk  mengajak dengan damai setiap manusia masuk Islam atau hidup  dalam aturan Islam. Allah swt berfirman: Dan kami tidak  mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya  sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi  peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui. (QS.  Saba’ [34]: 28)

Driser, kalo Khilafah Islam berdiri lagi, pastinya kehidupan  masyarakat akan jauh lebih baik dan penuh berkah. Dijamin!  Allah Swt yang Jamin Coy! Driser, kerinduan kita akan hadirnya kembali Kekhilafahan  dijamin nggak akan bertepuk sebelah tangan. Apalagi sekedar  angan-angan yang mengisi dunia khayal kita tentang negeri  impian.

Sebab Allah swt ngasih kabar baik dalam firman-Nya: Dan  Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara  kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia  sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka  bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum  mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi  mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia  benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka  dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap  menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu  apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah  (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nûr [24]: 55)

Lalu Rasulullah saw menegaskan dalam sabdanya: “Di  tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia  tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak  mengangkatnya.  Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti  manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.   Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak  mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang  zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu  Dia  akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.   Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang  menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.   

Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj  kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan al-Bazar). Dua dalil di atas cukup bagi kita untuk menyakinkan kalo  Kekhilafahan pasti datang lagi. Orang bule bilang, just a matter of  time. Ini bukan ramalan lho. Tapi janji Allah swt dan rasul-Nya  yang pasti terjadi walaupun musuh-musuh Islam nggak ridho.  

Driser, kini saatnya bagi kita untuk menyambut kabar  gembira akan kembalinya kekhilafahan dengan ikut aktif dalam  barisan dakwah Islam. Mari kita sama-sama hadir dan  meramaikan Muktamar Khilafah 2013/1434 H di berbagai kota di  seluruh Nusantara. Dari Ambon hingga Papua. Puncaknya tanggal  02 Juni 2013 di Gelora Bung Karno Jakarta. Ayo kita buktikan  bahwa remaja juga melek khilafah. Yuk daftar! [341]