Majalahdrise.com – Justru Islam di Indonesia yang  moderat dengan mayoritas penduduk  muslim terbesar di dunia layak jadi kiblat  peradaban Islam.  Hello…! Yuk kita buka mata. Kondisi  Timur Tengah yang terus bergolak  sesungguhnya bukan karena faktor Islam.  Wilayah ini terus memanas karena strategi  penjajah Barat. Timur Tengah selama ini  telah menjadi arena pertarungan  kepentingan antara Inggris, Amerika, Rusia  dan Prancis. Sebagai contoh, konflik yang  sedang terjadi di Yaman sekarang ini.  Konflik tersebut sebenarnya bukanlah  konflik Syiah-Sunni, tetapi pertarungan  Amerika dengan Inggris untuk merebut kue  kekuasaan di Yaman. Karena itu mengaitkan  konflik Timur Tengah dengan sikap  keberislaman kaum Muslim di sana  merupakan tindakan naif dan diskriminatif.

Tindakan ini telah menutup mata terhadap  apa yang telah dilakukan negara-negara  penjajah di wilayah tersebut. Inget tuh! Resep Ketiga: Islam Nusantara  dijadikan tameng untuk menangkal bahaya  Islam Trans-Nasional. Nah lho, apa lagi ini?  Islam trans-nasional itu ajaran islam import  (lintas wilayah), bukan lahir dari budaya  lokal.Lucu juga ya dengernya. Emang nggak  inget, Islam yang kita anut sekarang ini kan asalnya dari Timur  Tengah. Bukan  ‘produk’ asli dalam  negeri.

Islam sampai  pada kita juga karena  jasa ‘orang luar’ yang  kita kenal sebagai  wali songo. Dan dari  dulu, karakter Islam  emang trans- nasional. Getol  didakwahkan ke  seluruh penjuru  dunia dari pusat  Daulah Islamiyah di  Madinah hingga  akhirnya menembus  wilayah Romawi,  Persia, Afrika Utara, Eropa, Asia dan  seterusnya hingga di Nusantara ini. Satu lagi, nggak ada yang salah dengan  Islam Trans-Nasional. Justru ide Islam Nusantara yang bersifat kewilayahan  terbatas itulah yang bahaya karena akan  mengerdilkan Islam itu sendiri. Padahal  ajaran islam kan rahmatan lil ‘alamain alias  rahmat bagi seluruh alam. Bukan cuman  rahmat bagi penduduk di Afrika, Eeropa,  Asia atau Nusantara. Betul?

di muar di majalah remaja islam drise edisi #49