Revolusi di Suriah emang beda banget dengan revolusi yang terjadi di  Negara-negara muslim yang lain seperti di Mesir, Libya, dan Tunisia.  RRevolusi di Suriah udah berlangsung lama dan alot kaya sendal jepit.  Seruan-seruan yang dilontarkan kaum revolusioner Suriah juga keliatan  bedanya dibanding negeri-negeri Islam lainnya yang tengah berkecamuk.

Di  Negara lain, Revolusi berhenti hanya sebatas pergantian wajah orang yang  memimpin. Partai-partai Islam pemenang pemilu pun gentar menyatakan  keinginannya menerapkan syariat Islam oleh negara. Mereka tetap tunduk  pada sistem sekular yang ada dalam bingkai sistem demokrasi. Para pemimpin kaum muslim yang lain yang naik setelah revolusi  menjalar di Timur Tengah hanya bisa bermanis muka dengan Amerika dan  Israel.

Apa yang terjadi di Suriah nggak kayak gitu. Yang terjadi di Suriah adalah  seruan penerapan syariah Islam yang nyaring terdengar di penjuru kota.  Seluruh rakyat dan angkatan perang mujahidin menggulirkan revolusi melawan  La’natullah rezim Bassar Assad. Secara tegas rakyat suriah dan para mujahidin  memperjuangkan tegaknya pemerintahan Khilafah Islamiyah yang akan  menaungi kehidupan mereka. Bukan bentuk Negara lain yang hanya membuat  sengsara. Fenomena ini membuat musuh-musuh Islam ketar-ketir. Karena  itulah mereka segera mengerahkan angkatan perangnya ke wilayah sekitar  perbatasan Suriah.

Terutama Amerika dan Rusia yang telah mengirimkan kapal  induknya di perairan Suriah dan mengirimkan ribuan tentaranya ke sana.  Mereka bersiap-siap kalau syariah dan Khilafah berhasil didirikan mereka akan  langsung menghancurkannya. Namun apapun yang mereka rencanakan,  mereka tidak akan bisa menghalangi semua kepastian dari Allah bahwa  Khilafah dan syariah pasti bakal tegak juga. “Mereka memikirkan tipu daya dan  Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”  (Qs. Al-Anfal [08]: 30). Allahu Akbar…!!! [Isa]