Kalau ditanyakan, siapakah yang paling depan di dunia  robotika, mungkin hampir semua orang kompak menjawab:  KJepang! Nggak heran, sebab Jepang memang sudah banyak  menghasilkan robot-robot super canggih seperti Doraemon,  Astroboy, Gundam dan sebagainya. Hihi, itu mah anime dong.

Di  dunia nyata, ASIMO, AIBO dan Wakamaru merupakan contoh  pencapaian Jepang di dunia robotika. Tapi tahukah kamu, ternyata  konsep robotika sudah ada sejak zaman baheula dan dipraktekkan  oleh para ilmuwan muslim sejak 1000 tahun yang lalu! Ciyus nih! Beberapa sumber menyatakan bahwa Leonardo da Vinci  yang hidup di abad 15 masehi sebagai pelopor robotika. Padahal  jauh sebelum da Vinci, telah ada Banu Musa bersaudara (Ahmad,  Muhammad dan Hasan bin Musa bin Shakir) yang hidup di abad 9  Masehi.

Banu Musa bersaudara yang hidup di masa Khilafah  Abbasiyah ini menulis Kitab Al-Hiyal, yang dikenal juga dengan  Book of Ingenious Devices, yang membedah sekitar 100 perangkat  mekanik serta cara penggunaannya. Sebagian perangkat itu  terinspirasi dari karya ilmuwan-ilmuwan terdahulu, dan  sebagiannya adalah karya cipta mereka sendiri.

Beberapa ciptaan Banu Musa bersaudara di antaranya  adalah alat suling otomatis yang merupakan pionir mesin yang bisa  diprogram. Suara suling tersebut dihasilkan dari uap panas, yang  memainkan musik sesuai dengan pola yang bisa diatur oleh  pengguna. Tiga bersaudara ini juga merancang dan membuat  berbagai macam air mancur otomatis, yang bentuk pancaran  airnya bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk lain secara  periodik.

Ada juga perangkat otomatis lainnya seperti lampu  minyak otomatis, dan keran otomatis, kebanyakan alat-alat itu  memanfatkan tekanan air. Selain Banu Musa bersaudara, ilmuwan pelopor bidang  robotika lainnya adalah Al-Jazari (1136–1206), yang merupakan  ahli mekanika yang paling terkemuka dalam peradaban Islam.  Karya tulis beliau yang paling monumental adalah kitab Al-Jami’  Bayna ‘l-‘ilm wa-‘l-‘amal al-nafi’ fi sinat’at al-hiyal atau The Book of  Knowledge of Ingenious Mechanical Devices.  Kitab ini merupakan hasil dari  25 tahun penelitian dan praktek Al-Jazari pada berbagai perangkat mekanik.  Buku ini menjelaskan secara rinci 50 alat  yang dikelompokkan menjadi 6 kategori,  yaitu (1) Jam air dan lilin, (2) Perangkat  untuk jamuan minum (3) Perangkat  bekam dan wudhu (4) Air mancur dan  seruling otomatis (5) Mesin pompa air  (6) dan alat-alat lainya seperti kunci  kombinasi dan sebagainya.

Salah satu karya Al-Jazari  adalah jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda  untuk menggerakkan sistem mekanis secara otomatis, yang dalam  interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung  berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami  pengembangan Robot masa sekarang. Kini replika jam gajah  tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai  bentuk penghargaan atas karya besarnya.  

Jam gajah ini membuat Donald Routledge Hill, seorang  sejarawan sains dan teknologi sekaligus insinyur terkagum-kagum.  ”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu  penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi  untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin.” Hill  jugalah yang menerjemahkan kitab Al-Jazari ke dalam bahasa  Inggris. Karya Al-Jazari yang lain misalnya mesin robot berbentuk  sebuah perahu terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat  robot pemain musik; dua penabuh drum, satu pemetik harpa, dan  peniup seruling.

Robot ini diciptakan untuk menghibur para tamu  kerajaan dalam suatu acara jamuan minum. Karena prestasinya tersebut maka wajar jika Al-Jazari  dinobatkan sebagai bapak robotika, dan modern engineering,  sebab temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan  mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine,  crankshaft, suction pump, programmable automation. Bahkan  menurut Ensiklopedia Britannica, karya-karya Leonardo da Vinci  kemungkinan besar dipengaruhi oleh automata klasik buatan Al-Jazari. So, kalau masih berpikir bahwa islam itu ketinggalan jaman,  think again![]