kalau pesulap butuh mantra

abracadabra untuk memunculkan

Kkelinci dari dalam topinya, tidak

dengan sekolah kami. Cukup menunggu

jarum pendek diangka 10 dan jarum

panjang diangka 12, aku bisa mendapatkan

kelas yang kosong selama 15 menit. Ya,

mantranya adalah bel istirahat pertama.

Seperti biasa, Nadine selalu

menjadi yang paling terakhir meninggalkan

kelas. Kalau ditanya kenapa, jawabnya

selalu enggak mau terjadi campur baur

dengan mereka yang berdesak-desakan di

pintu keluar.

Dialah Nadine, teman satu

kelasku, salah satu cewek jilbaber di

sekolahku. “Nanti siang, temanin aku

diskusi di rohis dulu ya sebelum pulang?

Mau enggak?” tanya Nadine.

Diskusinya anak-anak rohis?

Boleh juga tuh.

“Beneran, aku boleh ikut?” dia

mengangguk tanda setuju.

***

Laailaahaillallah…

Kumandangnya merdu,

memanggil-manggil dengan kelembutan.

Suara itu berasal dari Mushola sekolah

yang terletak di belakang principal office

room. Biasanya yang adzan itu dari anak

rohis. Kehormatan menjadi muadzin

sekolah katanya. Ahh, apalah namanya.

“Lagi bengong yah??!” kaget

seseorang dari belakangku. Kedua

tangannya mencengkram pundakku yang

spontan menegang.

“Nadine!! Aku kaget tau…” iya,

iya, dia juga tahu kok kalau aku lagi kaget

gini. Kelihatan dari wajahku yang masih

melihatnya seperti hantu yang keliaran di

siang bolong.

Sepoi-sepoi angin mengibarkan

kerudungnya yang panjang menjuntai tak

seperti kerudungku yang mungil. Kaca

matanya basah, mungkin habis terciprat air

wudhu. Biasa, dia akan selalu menjadi

reminder-ku kalau udah adzan dhuhur

kayak barusan. Ia pasti akan menjemputku

di bawah pohon perdu kesayangan kami,

Senior Garden Area.

“Iya, afwan… maaf, Raya sayang…

maafin Nadine ya…” ujarnya manja. Nadine

kadang emang suka bermanja-manja,

enggak cuma sama aku sih. Itu anak sedikit

menggemaskan, tapi lebih banyak

menyebalkannya, hehehe.

Aku berdiri dari kedudukanku.

Sembari membersihkan rok abu-abuku

yang agak kotor, aku berjalan

mendampinginya. Aku sudah tahu, dia pasti

akan memaksaku kalau aku enggak bangun

dan lekas ambil air wudhu untuk sholat

dhuhur berjamaah di Mushola. “Ayo! Entar

imamnya marah-marah tuh, makmum

setianya belum datang…” celetukku

menggodanya.

“Siapa? Kamu ya, Ray? Wahh, aku

enggak nyangka loh!!!” malah dia yang

mengejekku, lalu tertawa.

“Ehh???” aku cemberut.

“Iiih, jelek tau!! Dilarang

berwajah masam di depan saudaranya…

Sunnah Rasul.” katanya mendakwahi,

seperti biasa.

“Iya, iya, iya… mama dedeh…

niih…” sahutku sambil memamerkan

deretan putih gigiku ala iklan pasta gigi.

“Eh, awas!! Silau tau!!!”

Siang itu setelah usai sholat

dhuhur, sebenarnya pelajaran telah usai.

Namun aku ingin menemani Nadine diskusi

kerohisan sebentar di sana. Sekedar ingin

tahu, anak-anak rohis kalau rapat apa plak

mirip anak OSIS kalau lagi rapat?

“Loh? Mana anak rohis

yang cowok? Masak yang hadir

cuma yang cewek?” tanyaku

begitu melihat bilik berhijab

hijau itu hanya ada 7 orang

perempuan tulen mengenakan

seragam yang nampak seperti

daster karena disambung. Siapa

lagi? Merekalah jilbabers sekolah

kami. 6 di antaranya enggak ada

yang aku kenal. Hanya pernah

melihatnya di sekitar sekolah atau

Mushola sekolah ini.

Cewek ber-nametag Ayu

Putri menyahut tegas, “yang Ikhwan?

Mereka enggak di sini. Kami infishol,

agar tidak terjadi ikhtilat atau

bercampur baur…”

“Loh, emangnya kenapa?

Masak diskusinya di pisah? Entar gimana

koordinirnya? Apa enggak ribet tuh?”

tanyaku semakin penasaran.

“Enggak lagi Ray, malah Allah

lebih meridhoi seperti ini. Apabila kami

disatukan, akan terjadi ikhtilat, campur

baur, kitakan sebagai manusia tuh punya

naluri ketertarikan dengan lawan jenis.

Aduh, entar kasihan kan kalau ada teman

kita yang enggak bisa nahan syahwatnya…”

kata Nadine.

Aduh aku enggak ngerti, kok

rasanya jadi aneh gini ya? Ini forum diskusi

atau pesantren sih?

“Kalau pendidikan Negara ini

pakai system Islam. Kita enggak bakalan

campur baur kayak gitu, Ray…” ujar

Nadine. Keningku bersungut-sungut enggak

ngerti.

“Pendidikan Negara ini udah

terkontaminasi sama yang namanya

budaya barat. Sekuler. Agama sengaja

dipisahkan dari kehidupan! Bahkan kalau

bisa mereka mau hapusin!” kata Ratna si

kerudung abu-abu sendiri.

“Eh, kita kan masih tetap belajar

agama. Enggak dihapus 100% kok…”

“Coba deh pikirin, emang kamu

nangkep apa yang Pak Husein ajarin kalau

belajar agamanya cuma 2 jam seminggu?”

“Yaa bisa sih pelan-pelan… tapi sulit juga lah, Nad.

Pertemuan dengan durasi 2 jam seminggu itu, pelajaran yang

masuk hanya 1:10 dari standar kurikulum yang wajib siswa

kuasai. Akhirnya, dari mana siswa ngejawab soal waktu ujian

padahal pelajaran banyak yang belum diberikan, kalau bukan

dari hasil korupsi? Nyontek? Nyari bocoran soal? Mau ngemis

nilai sama Pak Husein? Mati aja sana!” semprotku mengingat

wajah killer guru agama itu dengan kumis ala Pak Raden tapi

bedanya minus blankon.

“Itu karena pendidikan Negara ini enggak

berlandaskan Islam. System Kapitalisme yang berakidah

Sekulerisme adalah pangkal kerusakannya. Sebagai bukti,

kebanyakan orang tua kenapa mereka nyekolahin anak-anak

mereka? Pasti untuk nyari ilmu, katanya. Biar bisa dapat kerja

yang bagus, biar jadi orang sukses, biar bisa beli ini beli itu.

Sadar enggak sih, pendidikan yang begitu hanya ngejurus pada

uang dan uang. Sampe-sampe, bayi aja udah tahu tuh slogan

time is money. Pendidikan itu sebenarnya hanya untuk

mewujudkan karakter bangsa, tidak tepat sebagai wadah

mencari ilmu. Ilmu bisa kita dapat darimana saja,” sahut Ayu

Putri.

“Pendidikan adalah tonggak hidup mati suatu bangsa.

Pendidikan menentukan kualitas setiap kepala. Kalau

pendidikan system Kapitalis yang dipakai. Udah kelihatan kan

hasilnya? Liberalisasi pendidikan merebak nyata. Pergaulan

bebas akibat moral yang runtuh karena kurangnya pendidikan

agama. Tikus-tikus pemerintahan yang menjamur hampir di

seluruh partai, karena tak memiliki modal kepemimpinan yang

bijaksana jujur adil amanah dan cemerlang untuk memecahkan

masalah bangsa,” Dinda si anak XI IPA 2 itu menambahkan.

“Enggak heran kalau kemudian bangsa ini dapat

predikat yang sangat memalukan sebagai Negara terkorup, dan

lain-lainnya. ‘Indonesia negeri terporno ke2 di dunia setelah

Rusia’, ‘Pemasok PSK Anak terbesar se Asia Tenggara’ dan

‘Negara dengan penularan HIV tercepat se Asia Tenggara’.

Kapitalisme telah menjadikan manusia termasuk remaja

bergelimang dalam budaya hedonis yang menghambur-hamburkan uang, waktu, tenaga secara sia-sia, bahkan

nyawapun melayang saat melakukan kemaksiatan. Itu semua

gara-gara negeri ini mengadobsi Demokrasi dari Barat, yang

hanya melihat suara terbanyak, dan modal terbesar. Rusak

1, rusak semuanya.

“Coba kalau kita pakai

kurikulum pendidikan Khilafah

yang berlandaskan dan dibangun atas dasar aqidah Islam.

Dengan seizin Allah, itu akan bisa menjadi solusi tuntas

dekadensi moral di seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia….”

jelas Nadine panjang lebar. Aku terdiam, tak berkomentar,

apalagi membantah. Karena memang benar faktanya begitu.

Kejadian seminggu lalu mencambuk batinku sebagai

seorang gadis perawan, beneran. Seorang cowok kakak kelas

menawarkan aku untuk jalan-jalan keluar malam barengnya.

Aku sama sekali enggak kenal sama dia, tapi dia ngiming-ngimingin aku duit segepok kalau aku mau diajak jalan. Hari

gini, siapa yang enggak tergiur disodorin duit? Tapi aku

menolak, entahlah, aku hanya punya firasat buruk waktu itu

atau Allah telah menolongku. Oh ya Allah,, kemarin sekolah

kami gempar dengan temuan beberapa orang senior yang

menjadi germo bagi adik-adik kelasnya. Pikiranku melayang

terus ke cowok waktu itu. Hampir harta paling berhargaku raip

diambilnya.

Aku berusaha menghilangkan ingatan itu dari kepala

ini. Keras-keras aku menggeleng, siapa tahu ingatan itu cepat

pergi.

“Heii, kenapa? Geleng-geleng, kita lagi di Mushola nih

Ray, bukan di clubbing…” tegur Nadine.

Aku memelototinya, siapa yang bilang ini di diskotik.

Tenang, aku masih sadar. “Iya, tahu…” lalu aku memerhatikan

sekeliling bilik. Hanya tinggal aku dan Nadine. Yang lainnya?

“Kita udah selesai, yuk pulang!!” katanya seolah tahu

kebingunganku.

***

 “Minggu depan kita ulangan ya!” ujar Pak Husein saat

keheningan di tengah pelajaran agamanya sedang berlangsung.

Raut mukanya selalu nampak serius. Keriput-keriput tanda

penuaan mulai bermunculan di sekitar keningnya yang datar

bak lapang bola.

Tak ada yang berani menyahut. Mereka hanya

saling pandang satu sama lain. Dua anak laki-laki di

belakangku sedang membisikan sesuatu kepada temannya

yang lain. Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan.

***

Tepat pukul 7:15 aku tiba di sekolah. Dari segala

sudut dapat kulihat wajah-wajah yang masih fresh setelah

sarapan pagi. Senyum-senyum yang menawan dengan

deretan gigi putih korban iklan pasta gigi yang ber-fluorid.

Tapi tetap saja, betapa syahdunya pagi ini.

“Raya!!!” teriak seseorang jauh di belakangku. Itu

suaranya Wisnu, cowok yang duduk di bangku belakangku.

“Ya?? Kenapa?”

“Aku ada bocoran soal buat ulangannya Pak

Husein… kamu mau enggak??? Biar ulangan kita lancar

nanti,” tanyanya sedikit memaksa.

Bumi gonjang-ganjing. Dentuman keras pertanda

akan terjadi sunami itu terdengar di telingaku. Langit laksana

ingin runtuh. Aku berada di pusat badai. Tenang di sini. Tapi

di luar sana porak-poranda. Apa yang harus aku lakukan, Ya

Allah???

“Hehh!! Bengong?! Aku kasih 10 ribu aja deh buat

kamu, Ray…” Wisnu menyodorkan kertas yang terlipat tak

rapi. Itukah bara api yang ingin dijualnya padaku?

“Emmmm… aku… aku…”

“Udah… ambil aja dulu, nanti bayarnya juga enggak

apa-apa, kita kan teman…” katanya sembari berlari menjauh.

Bara api itu telah berada di tanganku. Panas rasanya.

***

“Ulangan akan kita mulai…” tutur Pak Husein.

Aku diam saja. Pak Husein menaruh 1 demi 1 kertas

soal di meja-meja kami. Ada 40 soal pilihan ganda, dan 10

soal esai. Mudah saja bagiku untuk mengerjakannya dengan

jawaban yang sudah aku dapatkan dari Wisnu tadi. Tapi bara

api tetap saja bara api. Apa lagi kalau ini menyangkut bara

api neraka. Aku menggenggamnya. Allah melihatku.

Malaikat-malaikat mencatatnya. Pintu menuju neraka

terbuka lebar. Malaikat Malik siap menendangku ke

dalamnya. Keringat dingin mengucur di balik kerudung dan

seragamku. Ya Allah, apakah Engkau ridho? TIDAK

Kepalaku menoleh ke belakang. Menatap garang

kepada mata koruptor itu. Aku meletakkan kertas itu di

mejanya. Dia balas menatapku. “Kenapa?” tanyanya.

“Aku enggak bisa! Aku lebih takut sama Allah dan

neraka-Nya dari pada enggak lulus dari ulangan ini. Aku

enggak mau jadi generasi rusak dengan ngebeli bocoran

soalmu itu.”

“Apaan sih kamu, Ray? Di lihatin Pak Husein itu loh!!!”

bisiknya pelan.

“Apa kamu enggak sadar, kamu lagi jadi koruptor kecil

sekarang??”

Pak Husein menghampiri kami. 35 pasang mata di kelas

itu menghujam kepadaku. Tatapan yang menghakimi tepatnya.

Kecuali Nadine, ia masih dalam keseriusannya menjawab soal-soal

itu.

“Maaf Pak, saya hanya ingin berlaku jujur…” kataku pada

Pak Husein.

***

Usaha udah, tinggal tawakal aja. Bukankah hasilnya Allah

yang menentukan?

Nadine merangkul pundakku. Ia berjalan beriringan

denganku, dengan cewek-cewek jilbabers yang lain.

“Habat kamu, Ray!!!” kata Ayu Putri dengan senyumnya

yang riang.

“Hehehehee, kalau enggak gitu, kita semua bisa ketemu

di akhirat nanti di depan pintunya malaikat Malik, iya kan,

Nadine?”

Nadine mengangguk, “iya, aku juga enggak nyangka, Pak

Husein ternyata udah mengantisipasi adanya bocoran soal tadi.

Kertas-kertas kita tadi dikumpulin semua, terus diganti sama

kertas-kertas soal cadangan… untung aja…” ceritanya.

Enggak perlu curang untuk jadi yang terhebat. Itu point

yang aku dapat barusan. Orang hebat, adalah orang yang bisa

bekerja jujur. Benar kata jilbabers rohis waktu itu, gini nih akibat

system pendidikan yang hanya melihat suara terbanyak dan modal

terbesar. Rusak 1, rusak semua jadinya. Coba aja kalau system

Islam yang diterapkan di seluruh dunia. Aku pasti enggak akan

ketemu sama koruptor kecil macam Wisnu, ataupun koruptor-koruptor besar lainnya. Kayaknya yang butuh Khilafah bukan cuma

aku deh, tapi aku kamu dan mereka, kita semua butuh Khilafah

Islamiyah.

Ahh, iya, seperti kata-kata jilbabers sekolah kita. Dengan

keyakinan, pemahaman, dan azzam, yuks do the best for Islam, for

Ummah, for Allah, and make it sure, Allah SWT will do the rest.

Fighting! Allahu akbar!!!