Rusak Satu, Rusak Semua!
By: Uni Amatullah

pelajar muslimah[Drise-#030] Kalau pesulap butuh mantra abracadabra untuk memunculkan kelinci dari dalam topinya, tidak dengan sekolah kami. Cukup menunggu jarum pendek diangka 10 dan jarum panjang diangka 12, aku bisa mendapatkan kelas yang kosong selama 15 menit. Ya, mantranya adalah bel istirahat pertama.

Seperti biasa, Nadine selalu menjadi yang paling terakhir meninggalkan kelas. Kalau ditanya kenapa, jawabnya selalu enggak mau terjadi campur baur dengan mereka yang berdesak-desakan di pintu keluar.

Dialah Nadine, teman satu kelasku, salah satu cewek jilbaber di sekolahku. “Nanti siang, temanin aku diskusi di rohis dulu ya sebelum pulang? Mau enggak?” tanya Nadine.

Diskusinya anak-anak rohis? Boleh juga tuh.

“Beneran, aku boleh ikut?” dia mengangguk tanda setuju.

***

Laailaahaillallah…

Kumandangnya merdu, memanggil-manggil dengan kelembutan. Suara itu berasal dari Mushola sekolah yang terletak di belakang principal office room. Biasanya yang adzan itu dari anak rohis. Kehormatan menjadi muadzin sekolah katanya. Ahh, apalah namanya.

“Lagi bengong yah??!” kaget seseorang dari belakangku. Kedua tangannya mencengkram pundakku yang spontan menegang.

“Nadine!! Aku kaget tau…” iya, iya, dia juga tahu kok kalau aku lagi kaget gini. Kelihatan dari wajahku yang masih melihatnya seperti hantu yang keliaran di siang bolong.

Sepoi-sepoi angin mengibarkan kerudungnya yang panjang menjuntai tak seperti kerudungku yang mungil. Kaca matanya basah, mungkin habis terciprat air wudhu. Biasa, dia akan selalu menjadi reminder-ku kalau udah adzan dhuhur kayak barusan. Ia pasti akan menjemputku di bawah pohon perdu kesayangan kami, Senior Garden Area.

“Iya, afwan… maaf, Raya sayang… maafin Nadine ya…” ujarnya manja. Nadine kadang emang suka bermanja-manja, enggak cuma sama aku sih. Itu anak sedikit menggemaskan, tapi lebih banyak menyebalkannya, hehehe.

Aku berdiri dari kedudukanku. Sembari membersihkan rok abu-abuku yang agak kotor, aku berjalan mendampinginya. Aku sudah tahu, dia pasti akan memaksaku kalau aku enggak bangun dan lekas ambil air wudhu untuk sholat dhuhur berjamaah di Mushola. “Ayo! Entar imamnya marah-marah tuh, makmum setianya belum datang…” celetukku menggodanya.

“Siapa? Kamu ya, Ray? Wahh, aku enggak nyangka loh!!!” malah dia yang mengejekku, lalu tertawa.

“Ehh???” aku cemberut.

“Iiih, jelek tau!! Dilarang berwajah masam di depan saudaranya… Sunnah Rasul.” katanya mendakwahi, seperti biasa.

“Iya, iya, iya… mama dedeh… niih…” sahutku sambil memamerkan deretan putih gigiku ala iklan pasta gigi.

“Eh, awas!! Silau tau!!!”

Siang itu setelah usai sholat dhuhur, sebenarnya pelajaran telah usai. Namun aku ingin menemani Nadine diskusi kerohisan sebentar di sana. Sekedar ingin tahu, anak-anak rohis kalau rapat apa plak mirip anak OSIS kalau lagi rapat?

“Loh? Mana anak rohis yang cowok? Masak yang hadir cuma yang cewek?” tanyaku begitu melihat bilik berhijab hijau itu hanya ada 7 orang perempuan tulen mengenakan seragam yang nampak seperti daster karena disambung. Siapa lagi? Merekalah jilbabers sekolah kami. 6 di antaranya enggak ada yang aku kenal. Hanya pernah melihatnya di sekitar sekolah atau Mushola sekolah ini.

Cewek ber-nametag Ayu Putri menyahut tegas, “yang Ikhwan? Mereka enggak di sini. Kami infishol, agar tidak terjadi ikhtilat atau bercampur baur…”

“Loh, emangnya kenapa? Masak diskusinya di pisah? Entar gimana koordinirnya? Apa enggak ribet tuh?” tanyaku semakin penasaran.

“Enggak lagi Ray, malah Allah lebih meridhoi seperti ini. Apabila kami disatukan, akan terjadi ikhtilat, campur baur, kitakan sebagai manusia tuh punya naluri ketertarikan dengan lawan jenis. Aduh, entar kasihan kan kalau ada teman kita yang enggak bisa nahan syahwatnya…” kata Nadine.

Aduh aku enggak ngerti, kok rasanya jadi aneh gini ya? Ini forum diskusi atau pesantren sih?

“Kalau pendidikan Negara ini pakai system Islam. Kita enggak bakalan campur baur kayak gitu, Ray…” ujar Nadine. Keningku bersungut-sungut enggak ngerti.

“Pendidikan Negara ini udah terkontaminasi sama yang namanya budaya barat. Sekuler. Agama sengaja dipisahkan dari kehidupan! Bahkan kalau bisa mereka mau hapusin!” kata Ratna si kerudung abu-abu sendiri.

“Eh, kita kan masih tetap belajar agama. Enggak dihapus 100% kok…”

“Coba deh pikirin, emang kamu nangkep apa yang Pak Husein ajarin kalau belajar agamanya cuma 2 jam seminggu?”

“Yaa bisa sih pelan-pelan… tapi sulit juga lah, Nad. Pertemuan dengan durasi 2 jam seminggu itu, pelajaran yang masuk hanya 1:10 dari standar kurikulum yang wajib siswa kuasai. Akhirnya, dari mana siswa ngejawab soal waktu ujian padahal pelajaran banyak yang belum diberikan, kalau bukan dari hasil korupsi? Nyontek? Nyari bocoran soal? Mau ngemis nilai sama Pak Husein? Mati aja sana!” semprotku mengingat wajah killer guru agama itu dengan kumis ala Pak Raden tapi bedanya minus blankon.

“Itu karena pendidikan Negara ini enggak berlandaskan Islam. System Kapitalisme yang berakidah Sekulerisme adalah pangkal kerusakannya. Sebagai bukti, kebanyakan orang tua kenapa mereka nyekolahin anak-anak mereka? Pasti untuk nyari ilmu, katanya. Biar bisa dapat kerja yang bagus, biar jadi orang sukses, biar bisa beli ini beli itu. Sadar enggak sih, pendidikan yang begitu hanya ngejurus pada uang dan uang. Sampe-sampe, bayi aja udah tahu tuh slogan time is money. Pendidikan itu sebenarnya hanya untuk mewujudkan karakter bangsa, tidak tepat sebagai wadah mencari ilmu. Ilmu bisa kita dapat darimana saja,” sahut Ayu Putri.

“Pendidikan adalah tonggak hidup mati suatu bangsa. Pendidikan menentukan kualitas setiap kepala. Kalau pendidikan system Kapitalis yang dipakai. Udah kelihatan kan hasilnya? Liberalisasi pendidikan merebak nyata. Pergaulan bebas akibat moral yang runtuh karena kurangnya pendidikan agama. Tikus-tikus pemerintahan yang menjamur hampir di seluruh partai, karena tak memiliki modal kepemimpinan yang bijaksana jujur adil amanah dan cemerlang untuk memecahkan masalah bangsa,” Dinda si anak XI IPA 2 itu menambahkan.

“Enggak heran kalau kemudian bangsa ini dapat predikat yang sangat memalukan sebagai Negara terkorup, dan lain-lainnya. ‘Indonesia negeri terporno ke2 di dunia setelah Rusia’, ‘Pemasok PSK Anak terbesar se Asia Tenggara’ dan ‘Negara dengan penularan HIV tercepat se Asia Tenggara’. Kapitalisme telah menjadikan manusia termasuk remaja bergelimang dalam budaya hedonis yang menghambur-hamburkan uang, waktu, tenaga secara sia-sia, bahkan nyawapun melayang saat melakukan kemaksiatan. Itu semua gara-gara negeri ini mengadobsi Demokrasi dari Barat, yang hanya melihat suara terbanyak, dan modal terbesar. Rusak 1, rusak semuanya.

“Coba kalau kita pakai kurikulum pendidikan Khilafah yang berlandaskan dan dibangun atas dasar aqidah Islam. Dengan seizin Allah, itu akan bisa menjadi solusi tuntas dekadensi moral di seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia….” jelas Nadine panjang lebar. Aku terdiam, tak berkomentar, apalagi membantah. Karena memang benar faktanya begitu.

Kejadian seminggu lalu mencambuk batinku sebagai seorang gadis perawan, beneran. Seorang cowok kakak kelas menawarkan aku untuk jalan-jalan keluar malam barengnya. Aku sama sekali enggak kenal sama dia, tapi dia ngiming-ngimingin aku duit segepok kalau aku mau diajak jalan. Hari gini, siapa yang enggak tergiur disodorin duit? Tapi aku menolak, entahlah, aku hanya punya firasat buruk waktu itu atau Allah telah menolongku. Oh ya Allah,, kemarin sekolah kami gempar dengan temuan beberapa orang senior yang menjadi germo bagi adik-adik kelasnya. Pikiranku melayang terus ke cowok waktu itu. Hampir harta paling berhargaku raip diambilnya.

Aku berusaha menghilangkan ingatan itu dari kepala ini. Keras-keras aku menggeleng, siapa tahu ingatan itu cepat pergi.

“Heii, kenapa? Geleng-geleng, kita lagi di Mushola nih Ray, bukan di clubbing…” tegur Nadine.

Aku memelototinya, siapa yang bilang ini di diskotik. Tenang, aku masih sadar. “Iya, tahu…” lalu aku memerhatikan sekeliling bilik. Hanya tinggal aku dan Nadine. Yang lainnya?

“Kita udah selesai, yuk pulang!!” katanya seolah tahu kebingunganku.

***

 “Minggu depan kita ulangan ya!” ujar Pak Husein saat keheningan di tengah pelajaran agamanya sedang berlangsung. Raut mukanya selalu nampak serius. Keriput-keriput tanda penuaan mulai bermunculan di sekitar keningnya yang datar bak lapang bola.

Tak ada yang berani menyahut. Mereka hanya saling pandang satu sama lain. Dua anak laki-laki di belakangku sedang membisikan sesuatu kepada temannya yang lain. Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan.

***

Tepat pukul 7:15 aku tiba di sekolah. Dari segala sudut dapat kulihat wajah-wajah yang masih fresh setelah sarapan pagi. Senyum-senyum yang menawan dengan deretan gigi putih korban iklan pasta gigi yang ber-fluorid. Tapi tetap saja, betapa syahdunya pagi ini.

“Raya!!!” teriak seseorang jauh di belakangku. Itu suaranya Wisnu, cowok yang duduk di bangku belakangku.

“Ya?? Kenapa?”

“Aku ada bocoran soal buat ulangannya Pak Husein… kamu mau enggak??? Biar ulangan kita lancar nanti,” tanyanya sedikit memaksa.

Bumi gonjang-ganjing. Dentuman keras pertanda akan terjadi sunami itu terdengar di telingaku. Langit laksana ingin runtuh. Aku berada di pusat badai. Tenang di sini. Tapi di luar sana porak-poranda. Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah???

“Hehh!! Bengong?! Aku kasih 10 ribu aja deh buat kamu, Ray…” Wisnu menyodorkan kertas yang terlipat tak rapi. Itukah bara api yang ingin dijualnya padaku?

“Emmmm… aku… aku…”

“Udah… ambil aja dulu, nanti bayarnya juga enggak apa-apa, kita kan teman…” katanya sembari berlari menjauh. Bara api itu telah berada di tanganku. Panas rasanya.

***

“Ulangan akan kita mulai…” tutur Pak Husein.

Aku diam saja. Pak Husein menaruh 1 demi 1 kertas soal di meja-meja kami. Ada 40 soal pilihan ganda, dan 10 soal esai. Mudah saja bagiku untuk mengerjakannya dengan jawaban yang sudah aku dapatkan dari Wisnu tadi. Tapi bara api tetap saja bara api. Apa lagi kalau ini menyangkut bara api neraka. Aku menggenggamnya. Allah melihatku. Malaikat-malaikat mencatatnya. Pintu menuju neraka terbuka lebar. Malaikat Malik siap menendangku ke dalamnya. Keringat dingin mengucur di balik kerudung dan seragamku. Ya Allah, apakah Engkau ridho? TIDAK

Kepalaku menoleh ke belakang. Menatap garang kepada mata koruptor itu. Aku meletakkan kertas itu di mejanya. Dia balas menatapku. “Kenapa?” tanyanya.

“Aku enggak bisa! Aku lebih takut sama Allah dan neraka-Nya dari pada enggak lulus dari ulangan ini. Aku enggak mau jadi generasi rusak dengan ngebeli bocoran soalmu itu.”

“Apaan sih kamu, Ray? Di lihatin Pak Husein itu loh!!!” bisiknya pelan.

“Apa kamu enggak sadar, kamu lagi jadi koruptor kecil sekarang??”

Pak Husein menghampiri kami. 35 pasang mata di kelas itu menghujam kepadaku. Tatapan yang menghakimi tepatnya. Kecuali Nadine, ia masih dalam keseriusannya menjawab soal-soal itu.

“Maaf Pak, saya hanya ingin berlaku jujur…” kataku pada Pak Husein.

***

Usaha udah, tinggal tawakal aja. Bukankah hasilnya Allah yang menentukan?

Nadine merangkul pundakku. Ia berjalan beriringan denganku, dengan cewek-cewek jilbabers yang lain.

“Habat kamu, Ray!!!” kata Ayu Putri dengan senyumnya yang riang.

“Hehehehee, kalau enggak gitu, kita semua bisa ketemu di akhirat nanti di depan pintunya malaikat Malik, iya kan, Nadine?”

Nadine mengangguk, “iya, aku juga enggak nyangka, Pak Husein ternyata udah mengantisipasi adanya bocoran soal tadi. Kertas-kertas kita tadi dikumpulin semua, terus diganti sama kertas-kertas soal cadangan… untung aja…” ceritanya.

Enggak perlu curang untuk jadi yang terhebat. Itu point yang aku dapat barusan. Orang hebat, adalah orang yang bisa bekerja jujur. Benar kata jilbabers rohis waktu itu, gini nih akibat system pendidikan yang hanya melihat suara terbanyak dan modal terbesar. Rusak 1, rusak semua jadinya. Coba aja kalau system Islam yang diterapkan di seluruh dunia. Aku pasti enggak akan ketemu sama koruptor kecil macam Wisnu, ataupun koruptor-koruptor besar lainnya. Kayaknya yang butuh Khilafah bukan cuma aku deh, tapi aku kamu dan mereka, kita semua butuh Khilafah Islamiyah.

Ahh, iya, seperti kata-kata jilbabers sekolah kita. Dengan keyakinan, pemahaman, dan azzam, yuks do the best for Islam, for Ummah, for Allah, and make it sure, Allah SWT will do the rest. Fighting! Allahu akbar!!!

***