Driser sekalian, ternyata berjuang itu tidak selalu  dengan pedang. Di dunia multimedia seperti saat ini,  Dberjuang dengan pedang bisa dibilang sudah  ketinggalan pamor. Sekarang saatnya pena bicara, alias  berjuang dengan kekuatan kata-kata dalam tulisan. Sederetan nama berhasil dilahirkan oleh generasi  Islam. Sebut saja Imam Syafi’I yang banyak menghabiskan  waktu untuk belajar dan menulis.

Yaqut al-Hamawy  mengatakan, jumlah kitab yang ditulis oleh Imam Syafi’I  mencapai 174 kitab, yang judulnya disebutkan oleh Ibnu An-Nadim dalam al-Fahrasat. Ada pula Ibnu Khaldun dengan  karyanya yang terkenal berjudul Muqaddimah pada abad 14  Masehi.

Nggak cuman penulis-penulis ikhwan saja yang  menguasai berbagai bidang ilmu. Dunia Islam juga ngasih  kebebasan pendidikan kepada wanitanya. Sehingga muncul  banyak penulis-penulis muslimah yang menyumbangkan  keahlian untuk kemaslahatan umat Islam. Mereka  diantaranya adalah Shifa binti abdullah seorang ahli medis  dan terampil dalam bidang administrasi publik. Sutayta Al  Mahamli yang berasal dari keluarga berpendidikan tinggi  Baghdad. Sutayta menguasai banyak bidang ilmu matematika,  hisab, Aljabar, sastra Islam, Hadist dan hukum.

Saat ini kita juga mengenal banyak penulis  muslimah bertaburan. Mereka bukan sekedar “menulis”  apalagi curhat cengeng lewat tulisan. Yang mereka tularkan  berupa semangat juang dalam dakwah. Isinya sarat dengan  muatan Islam dengan gaya bahasa yang enak untuk dicerna.  Ada Mbak Asri Supatmiati yang malang melintang di dunia  tulis menulis. Karya-karyanya yaitu The World of Me (GIP  2005), Cewek Buka-bukaan (Mizan), Cewek Ngomongin Virgin  (GIP 2007), Maried, Siap Apa Pengin (Al Azhar), Bersiap Jadi  Ibu (Al-azhar), dan yang terbaru antologi Indahnya Romantika  Ibu Ideologis (Al Azhar).

Dari dunia fiksi kita mengenal Yuni Astuti (nama  pena-nya: Asya Mujahidah) dengan novel karyanya Kunang-kunang Tanpa Cahaya, antologi IRII, antologi “rumahku,  rumahmu juga sayang”. Bagaimana sih awal mula Yuni Astuti  dalam sepak terjangnya di dunia tulisan? Bermula dari  kebiasaan, karena ditugaskan mengarang oleh bu guru, ehh  jadi hobi dan ga bisa ninggalin. Ilmu tentang menulis akhirnya  ia dapatkan saat SMA, dengan mengikuti FLP dan aktif di  Rumah Dunia terutama ikut kelas menulisnya. Muslimah  perlu banget berperan dalam dunia menulis, karena cuma  muslimah yang mengerti seperti apa siiih muslimah itu.  

Kartini bisa terkenal dan fenomenal juga karena beliau  menuangkan idenya lewat tulisan. Dakwah bil qolam jelas  sangat penting. Imam syafi’i bisa terus berdakwah meski  sudah meninggal. Jadi, tulisan bisa mengabadikan dakwah  kita. Itu juga akan menjadi amalan yang tiada terputus.  Demikian ungkap Yuni panjang lebar. Keunikan dari berjuang lewat tulisan, kita bisa  menulis di mana saja dan kapan saja. Sehingga, ini bisa  dilakukan tanpa harus repot-repot keluar rumah kaya orang  kantoran. Kita bisa menghasilkan karya besar sembari  melakukan hal lain yang kita sukai. Nah, nikmat banget ya jadi  penulis Islam ideologis. Dunia dan akhirat berjalan harmonis.  

So, perempuan tetap bisa berkarya dan berjuang meski dari  dalam rumahnya. Ingat lho, karya yang kita tulis jangkauannya  lebih luas dan umurnya bisa lebih lama dari umur kita sendiri.  Bahkan andai kata penulisnya telah tiada, orang-orang tetap  bisa mengenang melalui tulisannya. Keep writing, ukhti! [Alga