Sejarah seru : Borgia dan kegilaannya | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> Sejarah seru : Borgia dan kegilaannya
Sejarah seru : Borgia dan kegilaannya

Sejarah seru : Borgia dan kegilaannya




Majalahdrise.com – Belum pernah ada mimpi buruk di  Vatikan seburuk ketika Keluarga  Borgia menggenggam kekuasaan  kepausan. Mereka tamak banget akan  kekuasaan dan nggak mau berhenti untuk  memperkaya diri sendiri dan keluarganya.  Puncak degradasi moral ini dibawa oleh  Paus Alexander VI alias Rodrigo Borgia.  Seorang Paus dari Keluarga Borgia yang  amat memalukan, dan sangat mencoreng  pamor tahta kepausan sampai sekarang. Rodrigo Lanzol dilahirkan pada 1  Januari 1431 dari Keluarga Borgia yang  sangat berkuasa. Pada abad pertengahan,  para Paus diangkat dari keluarga-keluarga  kaya dan berpengaruh di Eropa, hingga  sebenarnya terjadi persaingan diantara  keluarga-keluarga itu untuk mengangkat  orang-orangnya ke tahta kepausan.

Persaingan ini seringkali berdarah-darah.  Beberapa keluarga yang berpengaruh itu  antara lain Keluarga Medici, Barberini,  Orsini, de la Rovere, dan tentu saja Keluarga  Borgia. Perjalanan Rodrigo diawali dari  pamannya, Paus Kallistus III. Dengan nama  asli Alonso Borgia, si Tua Bangka Paus  Kallistus III mengangkat keluarga dekatnya  pada jabatan-jabatan basah dan  mentereng. Salah satunya adalah Rodrigo  yang diangkat menjadi Kardinal pada 1456.

Padahal secara tradisional seharusnya  jabatan Kardinal dipegang oleh seorang  yang sudah tua, dan Rodrigo belumlah layak  untuk itu. Orang-orang menyangka Kallistus  akan cepat mati karena sudah tua, tapi  ternyata orang tua ini masih bisa bertahan  hidup cukup lama untuk mengangkat  Rodrigo menjadi Wakil Pemimpin Gereja  pada 1457, dan jabatan ini menjadikannya  sebagai orang kedua setelah Paus sendiri.  Rodrigo tidak menyia-nyiakan kesempatan  ini, dengan jabatan ini dia mengeruk  kekayaan yang amat banyak. Setelah  menunggu  selama 34  tahun, pada 11  Agustus 1492,  akhirnya  Rodrigo  diangkat  menjadi Paus,  dengan gelar  Paus Alexander  VI. Pada 26  Agustus  diadakanlah  upacara  penobatan yang  mewah dan  megah, bahkan  dikatakan  melebihi kemegahan penobatan kaisar-kaisar  Romawi. Prosesi berjalan sepanjang 3 km  dan terdiri dari 10.000 penunggang kuda,  seluruh pegawai rumah tangga kepausan,  para duta besar negara-negara  asing dan  para kardinal yang menunggang kuda,  masing-masing dikawal oleh 12 pria dalam  rombongannya.

Rodrigo sendiri menunggang  kuda yang dihiasi dengan sebuah kanopi  yang melindunginya dari sengatan sinar  matahari bulan Agustus. Pawai itu berjalan  pelan menembus kerumunan di kedua sisi  jalan. Berbagai slogan yang beberapa  diantarnya berisi penghinaan lugas atas  Rodrigo tertempel di tiang-tiang di sisi jalan.  Udara panas dan kerumunan yang padat itu  membuat Rodrigo pingsan hingga dua kali.  Namun semua itu tidak menghalanginya  untuk berbisnis dengan jabatan yang  dipegangnya. Pada masa inilah dia membawa  kegelapan bagi Vatikan yang memang sudah  gelap. Perilaku asusila yang selama ini selalu  dilakukannya ternyata tidak pernah berhenti.  Bahkan lebih parah lagi, dia membawa  pelacur-pelacur ke dalam tempat yang  dianggap paling suci bagi orang Kristen.

Dia  sering kali mengadakan pesta-pesta asusila  yang istilahnya dilembutkan menjadi ‘Pesta  Kebun’. Ketika Rodrigo terpilih menjadi Paus  dengan jalan suap dan intimidasi, Kardinal  Giovanni de Medici yang kelak menjadi Paus  Leo X  mengatakan:  “Sekarang kita  berada dalam  kekuasaan seekor  serigala,  kemungkinan  serigala paling  serakah yang  pernah dikenal  dunia. Dan bila  kita tidak  melarikan diri, tak  dapat dihinari lagi  bahwa ia pun  akan melahap  kita semua.” Pada  menjelang akhir  hayatnya, Rodrigo mengalami pendarahan secara  rutin. Diduga dia menderita Malaria. Ada  juga yang mengatakan bahwa dia diracun.  Pada 18 Agustus 1503 dia mati dan berita  kematiannya dirahasiakan selama  beberapa hari. Kematian dan cuaca bulan  Agustus yang panas telah mengubah  jenazah Rodrigo sehingga mayatnya  menjadi sesuatu yang amat mengerikan  untuk dilihat.

Kematian Rodrigo tidak ditangisi,  bahkan kutukan dan hujatan menghujani  setelah kematiannya. Setiap Paus yang  wafat akan mendapatkan Misa Requiem  dan akan dihadiri orang ramai, tetapi misa  untuk Rodrigo hanya dihadiri 4 orang saja.  Francesco Picollomini, yang menggantikan  Rodrigo sebagai Paus Pius III, melarang  diadakannya misa-misa tambahan bagi  Rodrigo. “Merupakan penghujatan untuk  mendoakan orang yang terkutuk,” katanya. Kematiannya ini membuat sanak  keluarganya panik, sebab mereka tentunya  tidak akan bisa menikmati semua  kemewahan yang selama ini ada karena  Rodrigo masih memegang jabatannya.  Setelah terjadi penjarahan dan  perampokan dari sanak keluarganya  sendiri, berita kematian Rodrigo barulah  diumumkan.

Semua ini persis seperti apa  yang disampaikan Allah swt. dalam  Alquran, “Sesungguhnya orang-orang kafir  dari golongan ahli kitab dan musyrik berada  dalam neraka Jahanam. Merekalah seburuk-buruknya makhluk.” (Al-Bayyinah: 6) []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi 51




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

11 − one =