SEJARAH SERU : HILANGNYA SUMUR ZAMZAM | Majalah Remaja Islam DRise
Monday, September 25th, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Tafakoor >> SEJARAH SERU : HILANGNYA SUMUR ZAMZAM

SEJARAH SERU : HILANGNYA SUMUR ZAMZAM




Majalahdrise.com – Semua orang pasti tahu Sumur Zamzam. Sebuah sumber air pemberian Allah swt. yang sejak ribuan tahun lalu selalu mengalir dan nggak pernah kering. Sumber air yang luar biasa banget ini sudah diminum oleh jutaan bahkan mungkin milyaran orang, dan nggak abis-abis. Tapi tahukan D’Riser bahwa Sumur Zamzam dahulu bukan seperti apa yang kita lihat sekarang ini?

Bahkan pernah terjadi bahwa Sumur Zamzam ini hilang dari peradaban umat manusia. Nah lho! Zaman dahulu kala, ribuan tahun lalu, jauh sebelum masa Nabi Muhammad saw., lembah Mekah adalah tempat yang gersang dan sepi. Tak ada satu pun orang yang mau tinggal di sana. Sebagaimana dikisahkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya, datanglah Nabi Ibrahim as. bersama istrinya, Hajar, dan putranya yang masih bayi, Ismail.

Sesampainya di lembah itu, Ibrahim menurunkan Hajar dan Ismail dengan penuh kesedihan dan sambil menangis, kemudian berpaling dan hendak pergi. Hajar takut dan tidak mengerti tentang mengapa suaminya tega meninggalkannya di tempat yang amat sunyi itu.

“Mengapa kami ditinggalkan di sini?” Tanya Hajar sambil menarik-narik lengan baju Ibrahim, sementara tangannya yang lain menggendong Ismail. Ibrahim tidak sanggup menjawab dan hanya menangis. Hajar terus mengikuti suaminya yang hendak pergi dan terus bertanya, namun tak kunjung mendapat jawaban. Tetapi Hajar tahu bahwa suaminya adalah seorang nabi, maka dia pun bertanya seperti ini. “Apakah semua ini perintah Allah kepadamu?”

Ibrahim tak sanggup bersuara, dan hanya mengangguk pelan. Saat mendapat jawaban seperti itu, Hajar melepaskan pegangan tangannya kepada lengan baju Ibrahim, kemudian berkata,

“Kalau begitu, Allah takkan menelantarkan kami.”

Hajar pun melepaskan pegangan tangannya pada lengan baju Ibrahim, kemudian melepas suaminya pergi. Sebuah pertunjukan kepasrahan, kesabaran, dan keikhlasan yang tiada bandingannya. Singkat cerita, Allah pun menolong Hajar dan Ismail dengan memancarkan Sumur Zamzam (beberapa riwayat menyebutkan air itu terpancar karena kepak sayap Jibril di atas pasir). Saat air itu memancar, Hajar segera membendungnya sambil berkata

“zamzam… zamzam…”, yang artinya

“berkumpullah… berkumpullah,” dari bahasa Babilonia kuno.

Memancarnya air itu membawa kebahagiaan. Tak lama kemudian, datanglah rombongan Bani Jurhum yang berasal dari Yaman. Mereka hendak pindah ke negeri Syam karena tempat tinggal mereka tepatnya di negeri Saba telah berubah menjadi gersang. Ketika mereka melewati Mekah dan bertemu dengan Hajar dan Ismail beserta sumur Zamzam, mereka tidak jadi ke negeri Syam, tetapi malah tinggal di Mekah. Terbentuklah perkampungan awal Bani Jurhum di Mekah. Bani Jurhum ini orangnya santun dan sopan-sopan. Hajar dan Ismail pun tinggal bersama-sama mereka.

Waktu pun berlalu, Ismail tumbuh makin dewasa dan Mekah semakin ramai. Ismail pun diangkat menjadi nabi dan menikah dengan gadis dari Bani Jurhum. Ismail pun mendakwahkan tauhid kepada Bani Jurhum dan seluruh penduduk Mekah hingga mereka semuanya beriman. Saat itu tak ada yang menyembah berhala, hanya Allah swt. Ketika Ibrahim datang ke Mekah, Allah memerintahkan ayah dan anak itu untuk membangun kembali Ka’bah yang dahulu pernah dibangun oleh kakek moyang manusia, Adam as.

Sepeninggal para nabi itu, Bani Jurhum dan seluruh penduduk Mekah tetap menyembah Allah swt. Waktu pun berlalu, datanglah serangan dari sebuah kabilah Arab yang ganas, Bani Khuza’ah. Mereka tertarik dengan kota Mekah dan Sumur Zamzam dan mereka tertarik untuk menguasainya. Bani Khuza’ah ini berasal dari Yaman juga, hanya saja karakter mereka buas dan ganas. Mereka juga tidak menyembah Allah swt. Mereka pun menyerang Bani Jurhum dan kota Mekah, hingga mereka berhasil menguasai kota suci itu.

Saat keadaan makin genting, dan Bani Jurhum merasa bahwa mereka akan kalah, mereka menimbun Sumur Zamzam agar Bani Khuza’ah tidak bisa mengambil airnya. Sumur Zamzam pun menghilang. Ratusan tahun kemudian, Sumur Zamzam berhasil ditemukan kembali oleh seorang lelaki yang kemudian menjadi penguasa kota itu, dia adalah kakek Nabi Muhammad saw. sendiri, Abdul Muthallib.[]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 54




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

seven − 1 =