keteguhan, kemurniaan dan politikus ulung. Itulah sekerat  hikmah yang hendak dibagikan dalam buku kisah teladan  bertajuk “Memoar Pejuang Syariah dan Khilafah”. Buku  inspiratif yang memuat 16 biografi singkat dan perjalanan orang-orang yang teguh memperjuangkan agama Allah Swt.  

Kebanyakan tokoh-tokoh yang tercatut telah wafat dalam kurun  waktu 1960-an hingga tahun 2011.  Driser, walaupun para pejuang syariah dan khilafah ini  telah wafat, kiprah mereka masih terasa kehadirannya  menggelorakan semangat dakwah Islam. Bagi kita yang baru  mengenal dakwah, buku ini jadi motivasi yang real untuk  menjaga semangat dakwah. Yup! Kisah-kisah keteguhan mereka  bukan fiksi seperti yang ada di novel-novel islami.

Mereka nyata  ada di depan mata. Sehingga pengalaman mereka bisa menjadi  cerminan dalam mengarungi terjalnya medan dakwah. Bagi yang  sudah lama terjun dalam medan dakwah, buku ini akan  menguatkan semangat pantang mundur anti futur.  Adapun ke-16 tokoh tersebut yaitu syaikh Taqiyuddin  an Nabhani, sang pendiri Hizbut Tahrir. Lingkungan beliau akrab  dengan ilmu dan pergulatan politik. Kakek beliau, Syaikh Yusuf an  Nabhani telah menempa beliau hingga kemudian mengirimnya  ke Al Azhar Kairo untuk mendalami islam.

Selain kelahiran dan  jenjang pendidikan, terlampir pula perjalanan politik syaikh Taqi.  Termasuk pula konteks hubungan beliau dengan Ikhwanul  Muslimin (jamaah islam yang populer di jamannya). Serta  pandangan beliau terhadap tokoh populer Al-Bana (sejawat  beliau yang juga memegang peranan penting di dunia islam). Ada pula profil syaikh Abdul Qadim Zallum, amir Hizbut  Tahrir kedua.

Simak sepak perjuangan Al Ustadz Hafizh Shalih  yang berdakwah di enam negara! Wow… menarik ya?! Selain  seru, tak kurang pula kisah mengharukan. Salah satunya  pendakwah yang syahid akibat rezim otoriter di Libya, wafatlah  asy syahid Muhammad Muhadzdzab Hafaf dalam keistiqomahan  dakwahnya. Subhanallah, bukan sekadar korbanan waktu,  pemikiran dan harta. Nyawa pun ia perjualbelikan di jalan Allah  Swt. Niscaya akan dibayar dengan  jannah yang abadi.

Nah… giliran muslimah  unjuk gigi. Walaupun catatan secara  spesifik tentang perjuangan para  muslimah tergolong sedikit, tapi  bukan berarti kosong. Perjuangan  indah muslimah terwakilkan dengan  hadirnya profil Ustadzah Najah as-Sabatin. Berbeda dengan tokoh  sebelumnya, tokoh ini orangnya masih  ada sampai sekarang alias masih  hidup.  Beliau gencar menyebarkan  ide di dunia maya loh… wow oh  wow… seperti apa kelanjutannya?  Rahasia! (Makanya baca aja sendiri,  ups! Heee) Akhir kata, buku ini tidak ditulis  untuk mengagungkan tokoh manapun  melebihi nabi Muhammad Saw.

Tidak pula untuk berbangga-bangga dalam kelompok (berhubung tokoh-tokoh yang ditulis  berasal dari Hizbut Tahrir). Siroh Nabawiyah, kisah sahabat dan  ulama salaf sudah selayaknya menjadi panduan umum dalam  mencontoh gerak dakwah. Buku ini hadir justru untuk  melengkapi memoar manisnya dakwah dan iman sekaligus  pemantik mesiu dakwah kebangkitan Islam. Sangat  menginspirasi dan layak dikonsumsi. Wallahu’alam. [Alga Biru]