drise-online.com – “Makan batu saja kamu dengan anak-anakmu itu.” Suara keras yang menyayat hati itu terdengar sampai telingaku. Ku lihat wajah emak tertunduk tanpa meneteskan air mata, berbalik arah dan memegang pundakku mengajak pergi dari rumah Bulekku itu. Aku di saat itu yang berdiri di samping emak hanya bisa terdiam terpaku memandang wajah Bulekku tanpa ekspresi. Di pintu dapur Bulekku tetap berdiri memperhatikanku yang tak mau di ajak pulang emak. “Faqih ayo pulang Nak!” Kata emak dengan suara basah menahan tangis. Aku tak mau beranjak dari tempatku berdiri. “Eh eh eh,,,Kenapa kamu terus memandang saya? Dasar anak ndak sopan. Didik anakmu itu! Makanya, kasih makan anak jangan sama beras utangan.” Omel Bulek Wiji dengan mengacung-acungkan jari telunjuknya kearahku dan emak. Akupun tersenyum dan menghampiri bulek wiji. Sedangkan emak tidak menahanku. “Kata emak, Faqih harus berbicara yang sopan dengan orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Karena itu dapat menyelamatkan kita dari rendahnya harga diri.” Kataku dengan tidak melepas seyuman dari bibirku. Emakpun mengajakku pulang.

Saat itu usiaku kelas satu MTs. Emak memang tidak pernah menyekolahkan anak-anaknya di sekolah umum. Semua itu emak lakukan agar anak-anaknya mendapat pendidikan agama. Meskipun aku bukanlah santri yang menetap seperti teman-temanku. Itu karena rumahku dekat dengan sekolahku. Dua tahun yang lalu Bapak meninggal. Jadi, dengan susah payah emak menghidupi sendiri ketiga anaknya dengan menjadi buruh cuci. Dari rumah ke rumah, emak menawarkan jasanya. Biasanya pakaian-pakaian kotor itu emak bawa pulang. Setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk membantu emak.

Malam ini seperti malam-malam biasanya. Dengan perut tanpa isi aku berusaha memejamkan mata. Aku memang terbiasa seperti ini. Tapi masalahnya hari ini aku puasa daud dan hanya berbuka dengan air putih saja. Ku lihat zahwa dan hudzaifah tertidur pulas. Tiba-tiba kata-kata bulek terngiang-ngiang di telingaku.padahal semua itu sudah berlalu tiga tahun yang lalu. “Astagfirlah” kataku lirih dan langsung beranjak berdiri untuk mengambil air wudhu. Setibanya di pintu dapur ku lihat emak masih mencuci sambil menangis. Di saat itulah batinku bergejolak. Rasa laparku terasa hilang terbawa oleh air mata emak. Dalam batinku aku mengatakan “Aku akan selalu berusaha membahagiakan emak dunia akhirat.” Akupun menghampiri emak. Ku peluk tubuh emak yang kurus dan kukatakan kepada emak. “Mak, suatu saat nanti Allah pasti mengangkat derajat Kita di dunia dan akhirat. Aku yakin, aku yakin mak.” Dan emak mengamini perkataanku. Di malam itu aku dan emak mencuci baju dan berbincang-bincang.

“Mak, Faqih pengen mondok tahfidz qur’an mak.” Kataku dengan mengucek baju. Emakpun hanya tersenyum. “Doakan Emak dapat uang ya qih. Insyaallah kamu bisa mondok tapi sabar ya qih.” Kata emak. “Emak jangan khawatir, ustadz Zakariya bilang akan membiayai penuh semua kebutuhanku sampai lulus Aliyah Mak.” Emakpun bersyukur dan mendo’akan Aku Agar menjadi seorang hafidz.

***

Tiga tahun telah berlalu. Aku rindu dengan adik-adikku dan terutama emak. Kuputuskan untuk mengirim surat yang kutitipkan Fardan agar menyampaikan suratku untuk emak. Dan tak lupa kuselipkan uang sebesar dua juta didalamnya. Setiap liburan memang aku tidak pernah pulang karena keterbatasan uang yang kumiliki. Ustadz Zakariya memang sering menjengukku dan memberi uang. Tapi uang itu selalu kukumpulkan selama tiga tahun ini untuk ku berikan emak saat pulang nanti. Aku dan teman-temanku yang tidak pulang ketika libur semester selalu mengadakan kegiatan untuk berdakwah di kampung-kampung atas nama Pesantren. Dan Alhamdulillah, berkat kegiatan ini aku sudah terbiasa untuk berceramah dan memberi sedikit motivasi kepada remaja-remaja yang sekolah di sekolah umum dengan menggunakan fasilitas Pesantren. Aku juga sering ikut lomba tahfidz qur’an mewakili Pesantren. Alhamdulillah, lima kali mengikuti perlombaan, tiga kali aku mendapat juara satu. Dan hadiahnya adalah uang delapan ratus ribu bagi juara satu. Dan lagi-lagi uang itu kutabung untuk emak. Alhamdulillah, aku sudah dinyatakan lulus dari Pesantren karena lulus ujian tiga puluh juz.

“Faqih, kamu sudah siap?” Tanya ustadz Zakariya. Dengan mantap kuanggukan kepalaku dan tersenyum. Seperti biasa, ustadz zakariya selalu menemaniku dalam perlombaan. Perlombaan kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Karena hanya tiga orang yang akan dipilih untuk diberi kesempatan kuliyah dimanapun dan harus siap untuk berdakwah dimanapun. Sekarang adalah giliranku. Aku tidak perduli menang atau kalah, yang kufikirkan hanyalah menjalaninya dengan baik. Alhamdulillah semua peserta sudah di uji dan sekarang tinggal menunggu pengumuman. Dua orang telah disebut, Aku hanya tertunduk pasrah. Ustadz zakariya menepuk bahuku sambil tersenyum tanda menenangkanku. “Muhammad Faqih.” Akupun mendongakkan kepala. Aku? Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Ustadz zakariya merangkulku tanda meyakinkanku bahwa benar apa yang telah kudengar. Teman-temankupun bertubrukan memelukku. Akupun menangis dan sujud syukur tanda syukurku atas karunia-Nya untukku.

Setelah perlombaan itu, ustadz zakariya mengantarkanku pulang. Pulang kerumah kampung halamanku. Ku ketuk pintu rumah dengan sedikit ragu. Ku lihat ke arah ustadz zakariya dan beliau hanya menepuk pundakku tanda aku harus sedikit bersabar menunggu. “Ceklek, ceklek.” Suara kunci pintu terbuka. Dan ternyata yang membuka adalah emak. Dengan bercucuran air mata, kupeluk tubuh emak yang sekarang bertambah gemuk. Kebahagiaan menyelimuti malam kami. Emak bercerita, uang yang ku kirim dijadikan modal zahwa untuk membeli kerudung. Dan kerudung itu zahwa tawarkan kepada teman-temannya sampai mereka berlangganan. Lagi-lagi Ustadz zakariya menawarkan toko untuk disewakan. Dan akhirnya dari uang hasil toko emak gunakan untuk sehari-hari dan sedikit merenovasi rumah.

Kurebahkan badanku di malam ini dengan penuh senyuman tanpa perut kosong. Alhamdulillah ya Allah, kau tambahkan nikmat kami dikala kami bersyukur. Yakinlah, disaat cobaan menerka, seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anak-anaknya. Sayangilah ibumu, selagi Ia berada disisimu.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39