Majalahdrise.com – “Ada Gadis Cantik Jadi Cleaning Service” Begitu judul berita Tribun Medan (2/2/15). Ditulis dalam berita, di antara kesibukan di Stasiun Besar Kereta Api Medan, Jl Stasiun, Medan, Sumut, Kamis (2/2/15), ada pemandangan menarik. Seorang perempuan cantik wara-wiri membersihkan area stasiun. Ya, dia memang petugas cleaning service (CS). Namanya Duma Mariana Simanjuntak (19). Telah 18 bulan ia bekerja sebagai CS di stasiun tersebut. Duma bekerja untuk membiayai kuliah. Ia saat ini tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Institut Bina Bisnis Indonesia (IBBI) Medan.

Heran, akhir-akhir ini media –tepatnya wartawan yang mungkin juga kebanyakan laki-laki– begitu centil menyajikan berita tentang si “cantik” yang menekuni pekerjaan “tidak cantik”. Tukang getuk cantik jadi trending topik. Tukang jamu cantik menghiasi halaman koran. Kali ini cleaning service cantik pun “digoda” sang kuli tinta (Padahal tepatnya, dia itu mahasiswi yang nyambi jadi cleaning service).

Para cewek cantik yang disorot media itu, memang memiliki profesi yang mungkin dalam pandangan masyarakat kebanyakan –tepatnya dalam sudut mata genit si wartawan laki-laki itu– tidak lumrah dan tidak layak dilakukan oleh si cantik.

Seolah-olah ingin mengatakan, si cantik yang kebetulan bernasib sebagai masyarakat marginal ini tidak pantas bekerja kasar. Kasihan “cuma” jadi petugas kebersihan. Bergaji kecil. Tidak bergengsi. Tidak pantas miskin. Kecantikan itu seharusnya bisa mengantarkannya pada profesi yang lebih ‘mulia.’ Lebih mentereng. Lebih nyaman kerjanya. Lebih gede gajinya.

Pandangan ini berarti juga berlaku sebaliknya, seolah-olah ingin mengatakan bahwa pekerjaan yang dianggap remeh-temeh seperti menjadi tukang jamu, jual getuk atau cleaning service itu mestinya cuma dijalani oleh mereka-mereka yang bermuka standar atau bahkan (maaf) jelek. Karena, pekerjaan kasar semacam itu nggak butuh modal kecantikan.

Maka itu, akhirnya si tukang getuk pun “diangkat” derajatnya, diorbitkan jadi artis. Penyanyi dangdut. Dandannya jadi modis. Tak lagi ndeso. Lah iya, sayang toh cantik-cantik kok cuma jadi tukang getuk. Padahal dengan kecantikannya dia bisa ngetop, banyak fans dan banyak duit. Begitu logikanya.

Jangan-jangan nanti si cleaning service juga akan di-‘naik-daunkan’. Sekali diberitakan dan rame di media, siapa tahu tiba-tiba ada produser nawari main film. Atau ngajak rekaman. Soalnya, para kapitalis di dunia hiburan itu sangat suka memanfaatkan orang mendadak ngetop kayak gitu. Biar dagangannya laris. Khas kapitalis!

 

Ukuran Relatif

Mencari berita yang unik dan eksklusif memang kerjaan wartawan. Nah, orang cantik tapi miskin itu, mungkin dikategorikan unik dalam kacamata mereka. Seakan ada kontradiksi dengan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, dengan pekerjaan kasar yang dia lakoni.

Walaupun, sejatinya ukuran cantik sendiri sangat relatif. Meskipun ada ukuran standar yang menjadi opini umum bahwa cantik itu: langsing, putih, kulit mulus, rambut legam, hidung mancung, eye cahcthing dan serba proporsional.Tapi, semua sepakat, cantik itu relatif. Tidak ada definisi baku mengenai kecantikan.

Yang menjadi pertanyaan, jika cantik tapi miskin dianggap ironi, apakah akan berlaku sebaliknya? Bagaimana jika tidak cantik, tapi nasibnya baik? ‘Jelek’ tapi kaya atau ngetop? Apakah wartawan berani membuat berita ‘jelek’ yang dipadankan dengan ‘profesi mulia nan sukses’? Misal, ada seorang perempuan yang (maaf) ‘jelek dalam standar ukuran kebanyakan’ tapi sukses menjadi pengusaha atau miliarder? Berani nggak melabelkan embel-embel ‘jelek’?

Jangan Dikotomi

Jangan-jangan wartawan itu waktu liputan sengaja nyari yang cantik-cantik saja, karena ketemu yang cantik tapi “nyeleneh” sudah bisa jadi berita. Tapi, bukankah profesi yang dijalani si cantik itu sungguh beragam? Memang sih, biasanya kalau cantik itu pekerjaannya berhubungan dengan modal kecantikannya.

Logikanya: kalau sales promotion girl cantik, itu biasa. Kalau celaning service cantik, itu luar biasa. Ya iyalah, perekrutan sales promotion girl itu memang sudah memakai saringan: hanya menerima yang cantik-cantik. Sedangkan rekrutmen cleaning service itu kan tidak mencantumkan: hanya menerima yang “jelek” atau menolak yang cantik.

Jadi, jangan mendikotomi perempuan dengan cantik atau jelek. Adillah. Tak usah kegenitan. Jutaan informasi penting yang mencerdaskan lebih inspiratif dibanding sekadar menyorot fisik perempuan.Pekerjaan wartawan itu banyak!

Eksploitasi Fisik

Di sinilah buruknya sistem sekuler-kapitalistik. Ukuran fisik tetap jadi parameter nomor satu untuk menilai seseorang. Eksploitatif! Ukuran fisik dianggap sangat penting dalam menentukan masa depan: cerah atau suram.

Perempuan dengan anugerah fisik cantik, biasanya akan bernasib baik. Mendapat pekerjaan yang baik, kedudukan terhormat, harta berlimpah, dan suami yang ganteng serta kaya raya. Dunia begitu ramah pada si cantik, sehingga mereka umumnya akan mendapatkan kemudahan-kemudahan itu.

Sebaliknya, nasib yang tidak cantik biasanya suram. Kalau ingin cemerlang, harus berusaha lebih keras lagi dibanding si cantik. Ya, kalau si cantik cukup modal tampang, si ‘biasa’ (untuk tidak menyebut jelek) ini harus menambah modal berupa: kepintaran, kecerdikan, dan kerja keras lainnya. Karena, kalau cantik tapi tidak pintar, masih bisalah hidup enak. Tapi kalau sudah ‘standar’ juga tidak pintar, kiamatlah masa depannya. Begitukah?

Islam Antidiskriminasi

Tentu jika Islam tidak mengenal dikotomi cantik dan jelek. Yang membedakan keduanya hanyalah derajat ketakwaan-Nya. Allah SWT tidak akan menghisab hamba-Nya dengan pertanyaan: kenapa kamu tidak cantik? Tapi, yang penting anugerah fisik kita itu, digunakan untuk apa. Tidak akan mendapat keberkahan hidup dan kebahagiaan akhirat jika fisik cantik justru dimanfaatkan untuk maksiat. Walau dengan motif bekerja atau apapun. Cantik tapi pamer aurat untuk menarik minat pembeli, itu dosa. Sebaliknya, jika berwajah biasa tapi jauh dari maksiat, itu lebih mulia.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47