“Coba cerita sama Bu Husna, kenapa tadi Sandi marah-marah seperti itu..?” Setelah Sandi tampak tenang kucoba mengajaknya bicara.

“Itu lho Bu, Raihan sudah menghancurkan mainanku..! padahal aku sudah susah payah membuatnya.” Sandi lansung mencerca Raihan sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.

baca cerita sebelumnya

Pandanganku beralih pada potongan kertas origami yang tadi aku pinta untuk disusun menjadi berbagai macam bentuk. Sandi memang tergolong anak yang kreatif. Dari potongan-potongan kecil kertas orogami yang berbentuk bangun datar (segitiga, persegi, jajar genjang, dll), dia mampu menyusunnya menjadi bentuk-bentuk yang unik. Misalnya orang  yang sedang naik kuda, orang yang sedang membawa pedang, dll. Dan kini susunan-susunan unik itu telah berserakan.

“Apa benar seperti itu Raihan?”, kucoba mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya.

“Tadi saya tidak sengaja lho Bu…”, lirih Raihan berkata sambil menahan air mata.

“Tadi saya buru-buru mau wudhu, karena setelah ini kan jamnya shalat dhuha.. saya bersegera karena khawatir keburu antre..”, dia melanjutkan. Penyesalan tampak jelas dari raut wajahnya.

“Bohong! Kamu sengaja, kan?! Kamu memang ingin merusak mainanku! Aku nggak mau tau, pokoknya harus diganti.” Sandi menyahut masih dengan kemarahannya.

“Sandi, tadi kan Raihan sudah bilang..bahwa dia tidak sengaja merusakkan mainanmu..”, aku tetap berusaha menenangkannya.

“Nah, sekarang Raihan minta maaf dulu kepada Sandi. Bilang apa anak Shaleh kepada Sandi?” aku beralih bicara pada Raihan.

“Aku minta maaf ya Sandi karenatidak sengaja telah merusak mainanmu..”, ia mengusap air matanya dan mengulurkan tangan kanannya kepada Sandi untuk meminta maaf.

“Tidak mau! Aku ndak mau memaafkan”, Sandi mendekap tangannya dan memalingkan wajah.

“Sandi, anak yang pemaaf.. tadi kan Raihan sudah bilang bahwa dia tidak sengaja.. dia juga sudah minta maaf kepada Sandi kan..? kenapa Sandi tidak memafkan? Allah SWT saja mau lho mengampuni kesalahan-kesalahan hambanya yang berbuat salah.. kecuali dosa syirik, yakni orang yang mempersekutukan Allah. Kira-kira antara Sandi dengan Allah, lebih agung yang mana ya…?

“Lebih agung Allah Bu..”, dia menyahut. Kali ini dengan suara agak pelan.

“Nah, berarti kalau Allah Yang Maha Agung saja mau memaafkan hambanya yang bersalah, kira-kira Mas Sandi yang hanya sebagai manusia biasa seharusnya bagaimana ya?” aku berusaha mengajaknya berpikir supaya dia mau memaafkan temannya.

Tapi tak disangka, dia justru mengerucutkan bibir dan kembali memalingkan wajahnya.

“Mas Sandi.. kita itu sebagai manusia.. pasti pernah berbuat salah. Rasulullah saja yang seorang Nabi juga pernah kok berbuat salah.. masih ingatkan kisahnya Rasulullah yang mengabaikan Abdullah ibnu Ummi Maktum dalam surat ‘abasa? Padahal Abdullah waktu itu ingin belajar tentang Islam, tapi Rasulullah waktu itu justru bermuka masam. Lalu Allah menegur beliau dalam surat ‘Abasa. Yang kemarin ibu ceritakan itu lho.. nah, nabi saja pernah salah kok. Apalagi kita.. mas Sandi, Bu Husna, juga Mas Raihan. Pasti banyak sekali kesalahannya..entah disengaja atau tidak.. tapi setelah kita tahu kesalahan, kita wajib beristighfar dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Kita semua kan muslim.. almuslimu akhul muslim. Muslim yang satu bersaudara dengan muslim yang lain.”, terangku.

“Nah, Sandi seorang muslim kan? Maka sudah selayaknya saling memafkan saudaranya yang berbuat salah.”, aku kembali merajuk.

“Ndak mau!” dengan tegas dia menjawab. Yaa Allah.. begitu sulitnya anak ini memaafkan orang lain.

“Mas Sandi.. kenapa Mas Sandi belum bisa memaafkan Raihan?” kuajukan pertanyaan pada Sandi dengan pelan.

“Kok enak sekali lho Bu dimaafkan? Lha saya waktu berbuat salah kemarin, sama ibuku kok ndak dimaafkan..?”, dia justru balik tanya. Aku tersentak.

“Memangnya Sandi salah apa sampai ibu tidak mau memaafkan?” aku mencoba mengorek informasi dari Sandi.

“Kemarin itu saya mecahkan piring di rumah.. padahal saya ndak sengaja.. saya sudah minta maaf.. tapi ibu tidak mau memaafkan..”, Sandi berkisah dengan wajah sendu.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Seketika saya merinding mendengar jawaban Sandi.

Yaa Rabbiy..Begitu pintarnya anak meniru apa yang dia ihsas (indera). Dan tak bisa dipungkiri, orang yang paling dekat yang mereka, yang sehari-hari bertemu, dan menghabiskan waktu bersama mereka adalah orang tua mereka.. mereka benar-benar belajar dari apa yang dia lihat pada orang tuanya.. maka sungguh sangat miris jika orang tua sampai salah menanamkan karakter pada diri anak. Karena sangat mungkin karakter itu akan menjadi sifat/watak dia hingga dia dewasa.

“Sandi.. coba Bu Husna tanya, tadi sebelum berangkat, Sandi dibuatkan sarapan apa tidak sama Ibu?”

“Iya, dibuatkan sarapan.” Jawabnya.

“Tadi siapa yang ngantar Sandi ke sekolah?” tanyaku lagi.

“Ibu.” Dia menjawab dengan polos.

“Kalau yang nyetrikakan bajunya Sandi..siapa?”

“Ibu juga” jawabnya lagi.

“Tadi ibu ikut membangunkan Sandi untuk shalat subuh apa tidak?”

“Iya, ibu yang membangunkan saya”, dia kembali menjawab.

“Nah, Mas Sandi.. Bu Husna yakin, sebenarnya ibu sudah memaafkan Mas Sandi.. buktinya Ibu lah yang sudah bangunkan Mas Sandi, membuatkan sarapan, nyetrikakan baju, ngantar ke sekolah.. ibu pasti sudah memafkan kesalahan mas Sandi.. Ibu sayang sama Mas Sandi..Makanya, ibu tidak bilang bahwa beliau sudah memaafkan Mas Sandi. mungkin Ibu ingin memberi pelajaran kepada mas Sandi supaya besok lebih berhati-hati lagi.. sehingga tidak memecahkan piring lagi. ” pelan-pelan kupahamkan sambil kuusap kepalanya.

“Sekarang Mas Sandi mau ya memaafkan Raihan..?”, aku memastikan Sandi telah merubah sikapnya yang sulit memaafkan tadi.

“Iya Bu saya maafkan.” Jawabnya dengan ringan..

alhamdulillah..”.

Hff… aku menghela napas lega.

 

***

 

Kini di tepi jalan, di trotoar dekat Bundaran Sekartaji, kembali kusaksikan peristiwa yang nyaris mirip dengan kisah Sandi..  Selesai mengenakan mantel, aku segera meninggalkan tempat itu. Bismillah, ku gas pelan-pelan, menerjang guyuran hujan.

Yaa Allah, sangat mungkin orang setengah baya ini, dulunya adalah Sandi-Sandi kecil yang tak terpahamkan dengan pendidikan yang benar. Dia belajar dari apa yang dia ihsas. Dan orang-orang di sekitarnya memperlihatkan suatu teladan yang kurang tepat, kemudian membentuk karakter hingga ia dewasa seperti sekarang.

Hari ini kudapatkan pelajaran berharga. Di sekitar kita ada anak-anak yang melihat kita. Di sekitar kita ada peniru ulung yang mengamati setiap gerak-gerik kita. Di sekitar kita ada generasi umat yang mencontoh kita.. tidak peduli yang dia lihat dan dia tiru suatu kebenaran ataukah suatu kekeliruan..

Merekalah pemimpin masa depan. Sungguh dosa investasi jika kita memberikan kontribusi keburukan bagi karakter-karakter mereka di masa mendatang. Na’udzubillah min dzalik.

“rabbanaa hablana min azwajinaa wadzurriyatina qurrota a’yun, waja’alna lilmuttaqiina imaama”. Aamiin

Oleh: Kholila Djauhary

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46