Majalahdrise.com – Tes..tes..tes.. Mendung kian gelap. Rinai hujan semakin deras, menyerbu bagai peluru yang keluar dari selongsong senjata. Beradu dengan suara deru motor yang berlomba mempercepat laju.

Hmm.. hampir sampai Bundaran Sekartaji. Sebenarnya tinggal beberapa kilo lagi aku sampai rumah. Ingin rasanya segera sampai rumah lalu merebahkan tubuh yang sejak pagi beraktivitas nyaris tanpa henti. Tapi guyuran hujan yang semakin deras memaksaku menepi untuk mengambil mantel di jok. Bagaimanapun juga, tubuh ini adalah amanah yang harus dilindungi.

Kutepikan motor mio kesayanganku mendekati trotoar. Kebetulan di atas trotoar ada tenda biru yang biasa digunakan pelindung oleh para penjual makanan lesehan di sana. Hampir maghrib. Tapi Kota Kediri tampak sudah gelap karena tertutupi awan hitam dan curah hujan yang tinggi.

“Ciiit…..!”

Innalillahi… Belum sampai aku turun dari motor, dari arah belakang terdengar decitan nyaring dari sebuah mobil hitam yang mengerem secara mendadak. Sepertinya tadi mobil hitam tersebut berusaha menyalip sebuah mobil putih yang kini sudah berada di belakangnya. Mobil putih pun turut mengerem secara mendadak karena di depannya ada mobil hitam yang menghalangi.

Tak berapa lama, seorang laki-laki setengah baya, berperawakan tinggi besar, keluar dari mobil hitam setelah membuka payung untuk melindungi diri dari hujan yang kian deras mengguyur. Bersaing dengan gelapnya suasana, ku kernyitkan dahiku untuk menambah daya penglihatan. Wajah laki-laki tersebut tampak emosi. Dengan langkah penuh amarah ia mendatangi mobil putih yang ada di belakangnya.

Tok..tok..tok..! dengan keras dia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.

“Mas, sampeyan keluar dulu!” setengah memaksa dia menyuruh pengendara mobil putih tersebut untuk keluar dari mobil.

Si lelaki setengah baya tersebut dengan nada tegas mengajak pengendara mobil putih untuk mendekati mobil hitamnya. Lelaki pengendara mobil putih tampak lebih muda. Dengan membawa payung kecil dia mengikuti langkah lekaki separuh baya dengan tergesa.

“Hati-hati dong Mas kalau nyetir! Sampeyan apa tidak lihat..bla..bla…” sayup-sayup suara lelaki setengah baya tersebut terdengar dari tempatku berdiri. Tampaknya dia memarahi si pengendara mobil putih sambil menunjuk-nunjuk bagian mobil yang penyok.

Sambil membuka mantel untuk kukenakan, kembali aku mengernyitkan dahi. Kali ini untuk mempertajam pendengaran. Penasaran, dengan apa yang mereka bicarakan.

Sampeyan apa nggak pernah nyetir mobil?! Sampeyan tahu? Memperbaiki kerusakan seperti ini itu pakai uang yang nggak sedikit! Saya nggak mau tahu. Pokoknya sampeyan harus bertanggungjawab atas kerusakan ini!”

“Baik Pak, saya mohon maaf..bla..bla..”, pria muda, Si Pengendara mobil putih tampak tertunduk dan mengucapkan beberapa kata dengan lirih. Frekuensinya tak mampu tertangkap oleh pendengaranku yang berjarak beberapa meter dari sana.

Astaghfirullahal’adhim… tak henti aku beristighfar menyaksikan lelaki separuh baya terus mengomeli pria muda tersebut sambil menunjuk mobilnya yang sedikit penyok dan sesekali menunjuk wajah si Pria Muda. Tanpa maaf.

Memang tampaknya memang si pemuda itu yang bersalah. Namun tak adakah hati lembut yang bisa memaafkan??

Berkelebat ingatanku akan rekaman peristiwa beberapa hari yang lalu di tempat mengajar. Kejadian yang nyaris mirip dengan apa yang aku saksikan sore ini.

 

***

 

Bel istirahat baru saja berbunyi. Tepat dengan selesainya mengajarku di kelas 2 pada jam pertama.Tiba-tiba..

“Aurgh…..”, seorang siswa dengan keras berteriak. Mirip harimau yang sedang mengaum marah. Tangannya sedikit dia angkat seakan ingin menerkam seorang teman yang ada di depannya.

“Bu.. Sandi marah-marah…!”, teman yang ada di depannya pun segera berteriak melapor padaku untuk minta perlindungan.

Anak yang disebut Sandi itupun semakin mengeraskan aumannya, semakin marah.

Aku bergegas menghampiri mereka. Meninggalkan buku agenda harian anak-anak yang harus aku isi untuk catatan siswa sekaligus buku penghubung dengan orang tua siswa.

“Sandi kenapa marah-marah di depan Raihan seperti itu?” dengan lembut kuraih tangan Sandi yang sejak tadi seakan-akan ingin menerkam Raihan.

MasyaAllah… efek tayangan seri di televisi yang menggambarkan manusia setengah serigala begitu menancap dalam memori otak anak ini. Ada lagi sinetron yang hampir mirip, mempertontonkan manusia setengah harimau. Beberapa hari lalu Sandi memang bercerita bahwa dia sering melihat tayangan tersebut. Hmm.. Lembaga sensor film memang tidak bisa bekerja secara optimal dalam sistem kapitalis-sekuler yang rusak seperti ini. Yang dipentingkan adalah keuntungan. Tanpa melihat nasib para penonton yang notabennya (kebanyakan) adalah generasi masa depan.

“Anak shaleh itu selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.. Coba Sandi tarik nafas dulu.. emosinya ditahan.. Ke sini Anak Shaleh, minum dulu..!” pelan-pelan kuredam emosi Sandi dan kuajak duduk untuk minum air putih yang dia bawa dari rumah.

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46