By :As-syifa Azzahra Al-Mustanir.

 

drise-online.com – Disebuah pusat perbelanjaan, seorang ibu menggandeng anaknya, yang baru berusia 3 th. Beberapa pasang mata memperhatikannya. Selain pipinya yang tembem, gamis mungil dan kerudung mungil sebatas dadanya, menarik perhatian beberapa pengunjung Mall, apa lagi warna antara gamis dan kerudungnya senada, warna merah jambu.

“Dek, nanti didalam, dedek gak boleh lari-lari dan gak boleh pisah sama Ummi ya!” gadis kecil itu hanya mengangguk tanda dia setuju, mata beningnya mengerjap-ngerjap. Umminya mengangkat tubuh mungilnya, lalu memasukkannya kedalam trolley belanja. Sejurus kemudian seorang prempuan muda, berlalu dihadapannya dan Umminya, refleks dia bilang.

“Ummi kok keludung tante itu, ukulannya cama kaya’ punya dedek ya?” glekk. Katanya sambil menunjuk wanita tersebut,  wanita muda itu malu dibuatnya, dia mempercepat langkahnya.

“Kok dedek keludungnya halus campai dada mi, mbak itu kok endak?” katanya dengan khas cadel nya.

“Mungkin kain  mbaknya kurang, jadi dipakai seadanya” Kata ibunya sabar.

“Tapi kata Abi gak car’I (syar’i) Mi” Ibunya mengangguk dan tersenyum saja.

“Ummi kok meleka gandengan tangan, meleka udah nikah ya,?” katanya lagi sambil menunjuk sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran.

“Kata Abi kalau olang laki-laki ama pelempuan belduaan halus nikah dulu, kalau endak bica doca (bisa dosa)” Ibunya hanya tersenyum dan mengelus kepala gadis kecilnya.

“Mi’ kok tante itu bedaknya tebel? Umi kok enggak?” dia menunjuk lagi.

“Kan kata abi..bla.bla..bla..”

“Mi’ kok ada tante-tante yang pake’ kludung panjang, ada yang pake’ keludung pendek,” telunjuknya mengayun lagi.

“Kan kata Ummi harus bla..bla..bla” Ibunya hanya membatin Duuh! Jundi kecilku, dari tadi semua orang ditunjuki, udah jadi kritikus handal rupanya, bisa-bisa seisi Mall dia kritik semua.

Tapi dengan rasa sabar umminya menjawab pertanyaan ini itu dari putri kecilnya. Dari atas trolley Tak henti-hentinya telunjuknya mengayun kesana kemari, seolah Mall siang itu kedatangan seorang Hakim. Beberapa orang agak menjauh dari pasangan ibu dan anak tersebut, takut ditunjuk sebagai tersangka pelanggar hukum syari’at.

Dari arah berlawanan seorang ibu menyapa, beliau sedari tadi mendengar celotehan mulut mungil yang membuatnya gemas.

“Assalamu’alaykum adek” sapanya ramah. Seketika Umminya melempar senyuman kepada ibu tersebut.

“Wa’alaykumussalam” Umminya menyentuh lengannya, seolah memberi isayrat bahwa dia harus membalas salam “alaykumcalam” jawab gadis kecil.

“Namanya siapa dek? Kok pinter banget sih ?”Katanya sambil mencubit pipi tembemnya.

“Asyifa” Kata umminya lirih “acifa” gadis kecil mengikuti umminya.

“Wah pinternya berapa tahun bla..bla..bla..”

“Oh terima kasih bla..bla..bla..” Gadis kecil itu pun mulai kebosanan dengan topik umminya, dia menggerak-nggerakkan trolley mengisyaratkan kalau dia ingin segera beranjak pergi, tak mau kereta belanjanya berhenti. Tak cukup sampai disitu, dia pun menarik-narik lengan Umminya, dan sedikit merengek, tapi Umminya tak peduli dan terus berbincang dengan ibu-ibu yang baru dikenalnya. Kesal karena tidak dihiraukan, akhirnya dia berteriak,

“UMMIIIIII….. KATA ABI NDAK BOYEH (BOLEH) GOCIP LAMA-LAMA, AYO PIGI (PERGI)” Sontak Umminya Kaget dan bercampur malu, kini giliran dirinya yang dituding sebagai tersangka. Dia pun terkekeh dengan aksi protes jundi kecilnya itu, akhinya dia berpamitan dengan ibu-ibu tadi. Sambil mendorong kereta trolley dia pun membatin. Lagi-lagi kata Abi, kapan dia bilang kata ummi?.

Siang itu memang Mall agak ramai, maklumlah ini hari jum’at,  kaum adam muslim menunaikan ibadah mingguan, jadi momen ini di gunakan kaum hawa untuk berbelanja, maklumlah yang kerja kantor masih punya waktu panjang untuk istirahat siangnnya. Jadinya ya kaum hawa tumplek blek disini.

“Ummi itu kok ada mac-mac (mas-mas) cekolah, dicini? Mereka ndak jumatan ya ?” Telunjukknya mengarah ke segerombolan anak-anak sekolah yang duduk disebuah  food court.

“Mungkin mereka bukan muslim sayang, jadinya mereka ndak sholat” tapi sekilas Umminya melirik nama almamater yang tertera di seragam sekolah mereka. Ternyata mereka adalah murid MA (Madrasah Aliyah) yang cukup terkenal dikota Malang, salah satu diantaranya memiliki nama depan Muhammad, nah lho, apa mereka bukan muslim?

“Ummi ini udah jum’atan ya? Kok ndak kedengelan adzannya? Kok di Mall ndak ada adjan (adzan) mi?” Wah ini pertanyaan yang berat, tapi bismillah.

“Mungkin Yang punya Mall ini bukan orang muslim, jadi ndak kasih adzan pas waktunya shalat” jawabnya sabar.

“Kenapa bukan olang mucim (Muslim) mi?, kenapa harus bla..bla..bla” wah celotehnya bikin Umminya pusing tujuh keliling. Tahu gini syifa gak usah ku ajak belanja. Gumam Umminya dalam hati.

“Mi Kok malah diputelin (diputerin)  lagu olang (orang) bodo?” ya itu tadi sayang, kan yang punya mungkin bukan orang muslim. Umminya mengajari bahwa, lagu-lagu pop dan lagu-lagu selain lagu nasyid, dan lagu anak-anak adalah lagunya orang bodoh, karena liriknya menjauhkan anak-anak dari fitrahnya sebagai anak-anak dan seorang muslim sejati.

Sedari tadi Syifa sibuk menunjuk orang-orang yang lalu lalang, tak satupun orang yang lolos dari kritikan polosnya termasuk Umminya sendiri, mungkin dia heran dengan orang-orang disekitarnya, karena selama ini Ummi dan Abinya memberikan maklumat bahwa perempuan harus menutup aurat, laki-laki dan perempuan punya batas pergaulan, semua orang harus menjaga lisannya. Begitulah yang diajarkan kedua orang tuanya.

Dan ini memang pertama Kalinya Syifa diajak Umminya ke Mall, sebelum-sebelumnya belum pernah, karena Ummi dan Abinya tidak ingin dia memiliki sifat konsumerisme, sebenarnya Mall bukanlah tempat yang baik bagi anak-anak, karena terlalu sering mengajak anak ke Mall, malah menumbuhkan sifat konsumerisme, bahasa kerennya lapar mata. Karena Syifa dirasa sudah besar dan sudah mengerti bahasa kedua orang tuanya, Umminya memutuskan untuk mengikutsertakannya dalam perburuan mencari bahan pokok satu bulan.

Sampailah mereka di sebuah Hypermarket didalam Mall. Umminya sibuk mencari barang ini itu , sedangkan Syifa ngotot minta turun dari troleynya, tapi tak diijinkan sama Umminya. Akhirnya Syifa merajuk dan hampir menangis, terpaksa dia diturunkan sama Umminya, kalau sudah nangis wah bisa berabe kalau tangisannya meledak dikerumunan orang-orang yang berbelanja, bisa tambah repot nanti. Syifa turun dan menuntun troleynya. Lagi-lagi telunjukknya mengayun ayun bertanya ini itu. Akhirnya Ummu Syifa memiliki ide yang sangat cemerlang yang bisa mencegah Syifa berlari kesana kemari. Dia mengeluarkan 2 lembar brosur Hypermart yang mereka kunjungi

“Syifa bantu Ummi belanja ya” Syifa pun berteriak kegirangan “ Asyiiiiikkkk…..” dia melonjak-lonjak.

“Syifa harus cari barang yang seperti digambar ini” Katanya sambil menunjuk sebuah produk pasta gigi anak “Ini apa?”

“Pata didi (pasta gigi) dedek”

“ini?” ummi nya menunjuk lagi.

“Cucunya (Susunya) dedek”

“Kalau ini?”

“Kopinya abi”

“Pinter anak Ummi” Umminya mengelus kepala mungilnya. Dengan semangat Syifa mencari benda yang seperti gambar ditangannya. Dan anehnya dia tidak mengambil barang selain yang ditujukki Umminya, sekalipun itu ada biskuit kesukaannya.

“Mi dicini cemua halal?” Umminya menjawab dan mengangguk. Umminya mengajarinya untuk memilih makanan dan barang yang ada logo halal atau cangkang hijau bertuliskan Halal dari MUI. Syifa memperhatikan Umminya yang dari tadi memasukkan barang sekenanya kedalam trolley belanja, dia heran kenapa Umminya memasukkan barang sekenanya sedangkan  dia harus menuruti gambar yang ditangannya akhirnya proteslah dia.

“Ummi, kata Abi, Ummi cama cifa ndak boyeh ambil banyak-banyak” Umminya pun terkekeh dibuatnya, ketahuan kalau Umminya sedikit lapar mata, maklum ibu hamil nyidam ini itu. Akhirnya syifa diberi sedikit pengertian kalau, barang-barang kebutuhan satu bulan itu banyak,  bukan hanya yang ada di gambar yang dia pegang saja.

Tiba-tiba syifa berteriak “Ummi itu tante yang tadi, keludungnya ukulannya cama kaya dedek” sontak perempuan yang ditunjuknya itu menoleh, batinnya, anak siapa ini dari tadi sok jadi kritikus. Tapi ketika wanita itu menoleh kearah Ibu si anak tersebut, terkejutlah dia.

“Rani?” Teriaknnya, Ummu syifa diam sejenak, memperhatikan wanita modis tersebut, telujuknya mengacungkan kearah perempuan berkerudung hijau itu,  lalu berkata.

“Rhiema?” baru ingatlah dia dengan lesung pipit yang dimiliki wanita muda itu. mereka pun berteiak histeris dan saling berpelukan erat, tanda bahwa keduanya sudah lama sekali tidak berjumpa.

“Kamu apa kabar?”

“Baik kamu bla..bla..bla” Syifa cemberut memperhatikan Umminya, dia diacuhkan lagi, akhirnya syifa merengek lagi. Khas syifa, menarik lengan Umminya dan mengibas-ngibaskan gamis Umminya, tapi tak diperdulikan juga, akhirnya dia menggunakan jurus terakhirnya

“UMMI JANGAN GOCIP (GOSIP)” Teriaknya, kalau sudah begitu Umminya baru sadar. Syifa diangkat dan diperkenalkan dengan kawan lama Umminya, wanita muda itu mencium dan mecubit pipi tembem syifa.

“Baru satu Ran?”

“Mau dua malah..hehehe” mereka berdua terkekeh.

“Tantenya tabaluj (tabaruj)” Katanya sambil mengacungkan telunjukknya, Umminya sebenarnya segan, tapi kritikus kecilnya itu tak bisa dihentikan mengkritik ini dan itu. Rhima hanya tersenyum dan mencubit pipi syifa lagi.

“Eh kamu tahu enggak siapa Direktur Mall ini?” Tanya perempuan mudah yang bersolek berlebihan. Rani menggeleng

“Emang siapa Rim?” Rima clingukan, seolah dia mencari sesuatu, kepalanya menoleh kekiri dan kekanan, sesekali dia berjinjit. “Cari apa kamu Rim?” Ummu syifa keheranan.

“Kamu kenal kok sama dia, dan pastinya kamu kaget” Katanya tanpa menatap Rani “Nah itu dia” katanya sambil melambaikan tangan kepada seorang laki-laki berdasi dan berkemeja rapi khas seorang eksekutif.

“Hendra sini” Ketika Ummu syifa menoleh, betapa kagetnya dia siapa yang ada dihadapannya. Seseorang yang pernah ada dimasa lalunya, dan hampir menyerahkan hatinya, tapi itu dulu, dulu… sekali sebelum kekecewaan dia torehkan di hati Ummu syifa. Mereka saling melempar senyuman, tapi Ummu syifa tak terlalu menatapnya, malah menjaga jarak, karena kekecewaan demi kekecewaan terlintas satu persatu.

“Baru satu Ran?” Katanya sambil memandang syifa, saat laki-laki itu menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan syifa, tapi syifa menolak, dengan polosnya dia mengatakan.

“Kata Abi Bukan Muhlim, ndak boyeh” mereka semua terbahak dengan penolakan syifa.

“Wah pinter sekali” katanya sambil mengelus kepala syifa, tapi syifa menjauh dan merangkul Umminya, tanda bahwa dia tidak mau disentuh dan merasa tidak nyaman dengan laki-laki asing didepannya.

“Apa kabar Dhea?” Kata Rani tanpa basa-basi,. Tapi laki-laki itu hanya menunuduk dan tersenyum.

“Aku tidak jadi menikahinya” Ummu syifa terkejut dengan perkataannya, “Panjang ceritanya pokoknya” imbuhnya

Perlahan syifa berbisik “Capa mi?” dengan berbisik pula Umminya menjawab “Temen kuliah Ummi”

“Om yang punya Mall ini lho” Candanya kepada Syifa. Spontan syifa bilang.

“Omnya bukan muslim ya “ Katanya sambil mengacungkan telunjuknya. Hendra terbahak dibuatnya.

“Om muslim kok”

“Tapi ndak ada adjan dicini, ga bica cholat” katanya polos, lalu syifa menunjuk ini dan itu, sambil mengkritik satu persatu keadaan Mall yang dia sebutkan didepan umminya tadi

“Cifa ndak cuka” Laki-laki itu terkejut dan mengernyitkan keningnya. Dia menanyakan alasan gadis cilik itu.

“Cemuanya ndak menutup aulat (aurat), cemuanya ndak car’I (syar’i)” Laki-laki tersebut terkaget-kaget dibuatnya bagaimana bisa seorang anak balita, sudah tahu mana yang syar’I dan mana yang tidak. Sedangkan dia sendiri selama ini sudah mengacuhkan hukum-hukum islam yang dulu dia genggam erat-erat. Syifa mulai menunjuk-nunjuk lagi apa yang sedari tadi dia kritikan, dia utarakan semuanya.

“Cifa ndak mau kecini yagi (kesini lagi), nanti Allah ndak lidha (rihda)” Laki-laki itu hanya terdiam, dan betapa malunya dia didepan Umminya.

Tiba-tiba syifa berteriak “Ummi ayo pigi (pergi), kata Abi ndak boyeh cama laki-laki bukan muhlim” Rengeknya, suaranya yang keras, membuat beberapa orang refleks menoleh kearah ketiga orang yang berdiri itu. waduh gawat bisa jadi fitnah ini, syifa benar-benar merasa tidak nyaman dengan Hendra. Gumam Ummu syifa.

“Lho kan ada tante rima, sayang jadi Ummi kan ndak berduaan” kata perempuan yang berkerudung modis yang sedari tadi terdiam dan terkesima dengan pertemuan dua orang sahabatnya dulu, tapi syifa tetap merengek-rengek ingin segera pulang. Karena semua barang yang mereka butuhkan sudah terkumpul akhirnya Ibu dan anak tersebut memutuskan untuk pulang saja.

Dari belakang Hendra hanya bisa membatin. Andai gadis cilik itu darahku.

Ditengah perjalanan menuju pintu keluar Mall, Ummu syifa hanya terdiam dan sudah agak malas menjawab pertanyaan ini dan itu-nya syifa.

Saat keluar dari Mall Abinya Syifa menjemput mereka, sontak Syifa girang karena Abinya datang menjemputnya.

“Kok muka mu be-te gitu Mi, ada apa?” Tanya Ryan.

“Panjang ceritanya bi” Ummu syifa sudah lemas dan malas untuk menceritakannya, tapi kalau tidak diceritakan, pasti suaminya menanyakan terus. Tapi akhirnya ditengah perjalanan Ummu Syifa menceritakan semuanya. Ryan tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Rani.

“Wah jadi Syifa dari tadi menyebut ‘Kata Abi…kata Abi’  hehehe… emang dia anak cerdas siapa dulu donk Abinya”

Katanya bangga. Huh, kalau anaknya pinter aja mirip dia, giliran anaknya bandel mirip aku. Gumamnya Ummi syifa, tambah be-te dia,

“Sebenarnya aku nyuruh kamu ngajak syifa, biar dia juga bisa jadi reminder kamu mi’, sudah tahu anakmu sudah pinter, jadi jangan aneh-aneh,” katanya sambel setengah terkekeh

“Siapa yang aneh-aneh Bi, pertemuan itu kan gak sengaja” Katanya dengan wajah ditekuk.

“Lain kali ajak syifa aja Mi biar dia jadi pengawas Mall dan jadi pengawas mu juga hehehe…” Ryan terkekeh, tak henti-hentinya dia tertawa-tawa.

Tiba-tiba syifa memegang perut Umminya dan bertanya.

“Mi kok dipelut Ummi ada dedeknya? Kok bica mi?” glekk. Ryan menelan ludah dalam-dalam.

“Asyifa sayang, coba Tanya Abi, kan sudah ada Abi jadi sekarang coba Abi suruh jawab?” Kata Rani sambil tersenyum penuh kemenangan. Nah lho harus dari mana Ryan menjawab. Tapi Ryan tetap diam dan menatap lurus ke badan jalan.

“Lho Abi kok diam? Ayo jawab Bi katanya Syifa mirip abi hahaha….” Ryan terdiam dia berpura-pura sibuk dengan kemudinya. []

di muat di Majalah Remaja islam drise Edisi #37