The First chemists | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> The First chemists
The First chemists

The First chemists




majalahdrise.com – Alkimia (alchemy) diperkirakan lahir di  daerah Cina, pada abad ke 4  sebelum Masehi, yang tujuan  utamanya yaitu membuat ramuan yang  bisa memperpanjang usia. Nggak heran,  praktek kimia kuno ini diliputi dengan sihir  dan takhayul.

Pada periode awal ini, ide-ide  dan resep-resep alkimia terinspirasi dari  sains Yunani kuno, agama-agama pagan,  dongeng-dongeng, serta berhubungan  dengan astrologi dan  klenik. Teori-teori yang menjadi landasan  alkimia kuno diantaranya adalah beberapa  kepercayaan seperti bahwa segala materi  terdiri dari 4 elemen: air, api, bumi dan  udara.

Yup, kepercayaan yang kembali  populer gara-gara serial Avatar Aang ini  ternyata pertama kali dikemukakan oleh  Aristoteles (384 – 322 SM). Juga bahwa  emas adalah logam paling “mulia” dan  “murni”;  bahwa transmutasi dari logam  satu menjadi logam lainnya dimungkinkan  dengan mengubah komposisi campuran  dari 4 elemen dasar; Serta kepercayaan  terhadap batu bertuah (sorcerer  stone) yang esensial dalam proses  transmutasi logam menjadi emas;  dsb.

Kepercayaan-kepercayaan ini  kemudian mendorong  dilakukannya berbagai macam  eksperimen yang menghasilkan  berbagai teknik dalam pembuatan  gelas, pengolahan kulit, logam,  bahkan obat-obatan. Namun, cita-cita utama para alchemist ini, yaitu  membuat ramuan awet muda dan transmutasi belerang menjadi emas  ternyata tak pernah kesampaian. Sampai  sekarang.

Nah kemudian datanglah masanya  ilmuwan-ilmuwan Islam. Mereka  menyingkirkan segala jenis khurafat dan  takhayul dalam ilmu pengetahuan dan  mengecam percampur adukan antara klenik  dan sains. Misalnya Al-Kindi yang mengkritik  eksperimen transmutasi dalam  Kitab at-tanbih ‘al khata’ al-kimiyyawiyyin (peringatan  kepada para alkimiawan).

Kemudian Ibnu  Khaldun dalam kitab Muqaddimahnya juga  mengecam praktek penipuan para  alkimiawan yang memoles perhiasan perak  dengan lapisan emas tipis. Para ilmuwan  Islam inilah penarik batas yang  membedakan alkimia –yang sarat dengan  klenik- dengan ilmu kimia modern yang  murni sains.

Salah satu bapak dari ilmu kimia  modern adalah Jabir ibnu Hayyan atau  Geber (722-815). Karya-karyanya  diantaranya adalah Al Khawass al-kabir (Buku  Besar Sifat Kimia), al-Mawazin (berat dan timbangan), al-Mizaj (Kombinasi kimia) dan  al-Asbagh (pewarna). Jabir juga memelopori  dasar-dasar operasi kimia seperti sublimasi,  liquifasi, sublimasi, oksidasi, amalgamasi,  kristalisasi, distilasi, evaporasi dan filtrasi.

Ia  juga membedakan berbagai macam asam,  membuat tinta yang bisa terbaca dalam  gelap, teknik glazur untuk keramik dan  teknik-teknik lainnya. Setelah Jabir lahirlah Al-Kindi (801–873)  yang mengabdi di istana khalifah al-Ma’mun  dan al-Mu’tashim (dari dinasti Abbasiyah).

Karyanya dalam bidang kimia adalah Kitab  kimiya’ al-‘itr (kimia parfum), yang berisi  lebih dari 100 resep minyak wangi, salep, air  aromatik dan pengganti atau imitasi dari  obat-obatan yang mahal harganya. Satu lagi ilmuwan yang sangat  berperan dalam pengembangan ilmu kimia  adalah Muhammad ibn Zakariya Al-Razi  yang di Barat dikenal dengan nama Rhazes.  Dialah yang pertama kali menuliskan rincian  berbagai proses kimia seperti kalsinasi (al-tasywiya). Pelarutan atau solusi (al-tahlil),  sublimasi (al-tas’id), amalgamasi (al-talghim),  cerasi (al-tasymi), dan metode untuk  mengubah substansi menjadi pasta atau  padatan lunak. Al-Razi juga yang pertama  kali menyaring minyak bumi sehingga  menjadi minyak tanah, dan bahkan  menciptakan sabun batangan pertama di  dunia.

Selain al-Razi, kimiawan  Islam lainnya adalah al-Majriti  dari Madrid (950-1007), yang  dikenal dengan karyanya yaitu  kitab Rutbat Al-Hakim, yang  diantaranya membahas formula  dan petunjuk-petunjuk  pemurnian logam mulia. Al-Majriti jugalah yang pertama kali  mencetuskan teori konservasi  massa, 8 abad sebelum Lavoisier.

Terkait ilmu kimia ini, sejarawan Will  Durant menulis dalam The Story of  Civilization IV: The Age of Faith: “Kimia adalah  ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh  kaum muslim; yang dalam bidang ini, ketika  orang-orang Yunani tidak memiliki pengalaman  industri dan hanya memberikan hipotesis yang  samar-samar, para ilmuwan muslim  mengantar pada pengamatan teliti, eksperimen  terkontrol, dan catatan yang hati-hati.

Mereka  menemukan dan memberi nama alembic (al-anbiq), menganalisis substansi yang tak  terhitung banyaknya, membedakan alkali dan  asam, menyelidiki kemiripannya, mempelajari  dan memproduksi ratusan jenis obat.  Alkimia  yang diwarisi kaum Muslim dari Mesir,  menyumbangkan untuk kimia ribuan  penemuan insidental, dari metodenya, yang  paling ilmiah dari seluruh kegiatan di zaman  pertengahan”. Hebat ya guys?

Mungkin inilah  hikmahnya mengapa Al-Qur’an mengajak  manusia untuk berfikir, merenungi segala  ciptaan Allah di alam semesta, serta  melarang untuk bergelut dalam perkara yang  gaib, apalagi mempercayai takhayul dan  mempraktekkan sihir. Bisa-bisa waktu  berabad-abad terbuang hanya untuk  mengejar khayalan semacam immortal potion  & sorcerer stone. Gaje![Ishak]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

13 − six =