The Most Decisive Battle | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> The Most >> The Most Decisive Battle

The Most Decisive Battle




Drise-online.com – Ngomong-ngomong soal perang dahsyat, mungkin yang terpikir adalah perang-perang yang terkenal seperti Battle of Thermopylae, antara Leonidas dari Sparta melawan Xerxes penguasa Persia, yang dikemas secara hiperbolis dalam film 300. Mungkin juga perang saudara antara pasukan Amerika Serikat melawan Konfederasi Amerika alias American Civil War. Atau yang paling terkenal Perang Dunia II.

Wajar kalau perang-perang tersebut lebih dikenal, saking seringnya difilmkan dan diangkat oleh berbagai media. Akan tetapi yang mengabadikan peperangan kaum muslimin jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Bahkan kalau dicari di google dengan keyword “the greatest battle”, atau “top ten war in history”, dll, sedikit sekali yang objektif dengan memasukkan peperangan kaum muslimin dalam daftar mereka. Padahal, banyak diantara peperangan yang dilakukan umat Islam itu dinilai sebagai salah satu pertempuran yang sangat berpengaruh dalam menentukan masa depan dunia.

Salah satu perang yang dianggap sangat menentukan alur sejarah peradaban dunia adalah perang Yarmuk (Battle of Hieromyax). Perang diakui oleh sejarawan Barat sebagai perang yang paling gemilang dalam sejarah. Bayangin aja, pasukan yang jauh lebih kecil jumlahnya mampu membabat habis pasukan lawan yang jumlahnya jauh lebih besar melalui taktik dan strategi perang yang brilian. Mancabs!

Kemenangan Islam dalam perang Yarmuk juga semakin mengukuhkan prestasi sang Jendral, Khalid bin Walid, sebagai salah satu komandan kavaleri dan panglima perang terbaik sepanjang sejarah. Tak heran jika Erwin Rommel, komandan kavaleri Jerman dalam Perang Dunia II yang terkenal dengan Blitzkrieg (perang kilat) di Eropa, rupanya terinspirasi dari elite mobile guard-nya Khalid bin Walid. Dalam perang Yarmuk pun, pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid memegang kunci kemenangan.

Dalam Perang Yarmuk, Daulah Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab melawan Kekaisaran Bizantium yang dipimpin oleh Heraklius. Perang ini terjadi selama 6 hari penuh, tepatnya pada 15-20 Agustus 636 M, empat tahun setelah Rasulullah SAW mangkat. Medan pertempuran terletak di dataran Yarmuk, sebelah timur laut Galilee, 65 km dari dataran tinggi Golan. Perang ini dianggap sebagai perang yang sangat penting karena menandakan gelombang besar pertama penaklukan dan penyebaran Islam ke wilayah-wilayah di luar Jazirah Arab.

Ahli sejarah kemiliteran abad pertengahan asal Inggris, David Nicolle, dalam buku Yarmuk 636 A.D.: The Muslim Conquest of Syria, menjelaskan bahwa perang Yarmuk adalah turning point (titik balik) sejarah. Seandainya Bizantium yang menang, maka dominasi dan pengaruh peradaban Yunani-Romawi akan terus berlanjut di wilayah Timur Tengah, dan antara kontak bangsa Eropa dengan bangsa Asia Timur –yang dibuka oleh peradaban Islam- akan tertunda.

 

Seandainya pasukan Muslim kalah di Yarmuk, penaklukan kaum Muslimin ke Mesir dan Palestina akan tertahan, bahkan mungkin tidak akan terjadi untuk jangka waktu yang lama. Kekalahan di perang Yarmuk juga akan mempengaruhi kekuatan kaum Muslimin dalam perang Qadisiyah, yang terjadi tiga bulan setelah perang Yarmuk. Atau malah perang Qadisiyah tidak terjadi sama sekali. Seandainya dalam perang Qadisiyah pasukan Islam dikalahkan juga, maka Islam tidak akan menyebar ke wilayah Mesopotamia dengan mulus. Akibatnya agama Islam akan tertahan di wilayah Arab untuk sementara.

Padahal, setiap penyebaran Islam melalui penaklukan yang dilakukan kaum Muslimin selalu diikuti dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Catatan sejarah menunjukkan setiap daerah yang ditaklukkan Daulah Islam berkembang dengan sangat cepat, bahkan beberapa diantaranya menjadi mercusuar peradaban dunia, seperti Cordova dan Baghdad. Kalo saja penyebaran Islam tertahan di wilayah Arab, bisa-bisa wilayah di luar jazirah Arab masih zamannya Flinstone sampe sekarang. Makanya, jangan parno dulu dengan kata jihad karena sesungguhnya penaklukkan yang dilakukan oleh Khilafah kelak semata-mata untuk kebaikan masyarakat dunia. Catet tu![Ishaak]

BOX: Lima Banding Satu

Perang Yarmuk menunjukkan bahwa jumlah pasukan tidak menjamin kemenangan dalam sebuah pertempuran. Jumlah pasukan Islam saat itu sekitar 24.000 – 40.000 orang, sementara pasukan Bizantium berjumlah sekitar 100.000 – 400.000 orang, yang terdiri dari gabungan tentara Bizantium, dan orang-orang Armenia, Slavia, Franks, Georgia, dan Kristen Arab Ghassan. Akan tetapi berkat strategi perang yang brilian, perjuangan yang gigih, serta pertolongan dari Allah SWT, pasukan Islam yang berjumlah jauh lebih sedikit itu mampu memporakporandakan pasukan Bizantium.

Perkiraan modern menyebutkan bahwa pasukan Bizantium yang binasa mencapai 45%, sementara pasukan Islam hanya kehilangan 4000 mujahidin saja. Dengan kemenangan dalam perang ini wilayah Palestina, Suriah dan Mesopotamia akhirnya dikuasai oleh Kekhalifahan Islam, yang mengawali penyebaran Islam ke seluruh dunia.[]

Di Muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #11




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nine + sixteen =