Banyak sekali orang hebat di dunia. Sayangnya, tak mudah  untuk menemukan manusia prestatif ini. Karena memang  mereka jarang sekali disorot media televisi. Liputan di  B layar kaca lebih banyak mengumbar gaya hidup hedonis dan  hiburan dengan segala bentuk acara. Sangat jarang menayangkan  kisah inspiratif dari kaum muda yang berhasil meraih prestasi di  kancah internasional.

Kalopun ada stasiun TV yang  menayangkan, jam tayangnya bukan prime time. Udah gitu  channelya nggak pupuler lagi. Tenggelam dah! Tak banyak orang yang tahu siapa Ali Khumaeni. Padahal,  sebenarnya beliau itu orang yang Insyaa ALLAH hebat dan keren.  Dilansir oleh viva.co.id, kompasiana.com dan detiknews.com, Ali  Khumaeni adalah mahasiswa prestatif asal Kendal yang berhasil  menyabet penghargaan untuk kedua kalinya di kancah  internasional.

Setelah sebelumnya Ali mendapatkan  penghargaan sebagai Young Scientist Award dari International  conference on laser probing di Nagoya, Jepang, pada Oktober  2008, sekarang Ali berhasil meraih penghargaan tingkat  internasional bidang aplikasi Laser Plasma Spectroscopy atau  Laser-Induced Breakdown Spectroscopy (LIBS) di kota Memphis,  Tennessee, AS, pada 13-17 September 2010. Waah… Yang begini harusnya yang diacungi jempol. Yang  layak dapat kata “wow” sambil koprol bagi yang mampu.  Menurut pengakuan temannya yang menjadi  penguat data artikel di kompasiana.com, katanya Ali  ini adalah sosok yang agamis.

Tawadhu’ dan  sederhana. Tuh, yang begini baru pahlawan. D’Rise  yakin, ada banyak sekali orang-orang semacam Ali  yang tak terungkap. Layaknya bintang di angkasa.  Banyak, namun hanya sedikit saja yang terlihat oleh  mata. Sayangnya, pemerintah kurang bisa menghargai para  pahlawan muda bangsa yang sudah sungguh-sungguh ingin  membangun Indonesia. Makanya, banyak ilmuwan muda  nusantara yang ‘mengabdikan’ prestasinya untuk  perkembangan ilmu pengetahuan negara lain seperti di  Jepang. Ngenes! Fenfen Fenda Florena, 23 tahun mahasiswa Fisika  UNPAD pun angkat bicaranya tentang hal ini. “Banyak faktor sih.  

Selain karena fasilitas untuk mengembangkan penelitian disana  lebih tersedia, juga karena minimnya apresiasi pemerintah dan  rendahnya ekspektasi masyarakat terhadap para ilmuwan. Coba  bandingkan, income yang didapat seorang ilmuwan di Indonesia  dengan income yang didapat seorang ilmuwan di Singapura,  Perancis, Jepang atau Jerman. Wuih, jauh banget! Ya, mau  bagaimana lagi. Di negara kita, tipe pemerintah dan  masyarakatnya teknosentris, lebih menghargai para sarjana dan  ahli rekayasa/teknik dibandingkan dengan ilmuwan. Dan terlepas dari semua fenomena ini, seharusnya kita  menyiapkan diri dan juga menyiapkan generasi muda di sekitar  kita untuk kelak memiliki keahlian khusus di bidangnya masing-masing.

Ketika khilafah tegak, Banyak sekali pos-pos departemen  yang harus terisi, misal departemen penerangan, departemen  industri dan sebagainya. Siapa lagi yang akan mengisi bangku-bangku kosong daulah dalam menjalankan kebijakan penerapan  Islam selain kita?

So, hayu kita sama-sama meningkatan valensi  diri dan bertransformasi menjadi pribadi-pribadi islami yang  ekspertis dalam bidangnya. Kita yang menantikan, merindukan  dan memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah. Kita adalah  muslim-negarawan sejati!” Kak Rindyanti Septiana, 24 tahun, Alumni Fakultas  Syariah/IAIN Medan pun turut berkomentar, “Orang pinter di  negeri ini banyak banget. Mulai dari pinter ambil uang rakyat,  pinter nipu ngobral janji saat ajang kampanye, apalagi pinter  cari muka alias cari simpatik rakyat. Lantas gimana nasib orang  cerdas? Kasihan banget, sayang seribu kali sayang karena  mereka hanya didukung oleh keluarga juga sekolahnya untuk  berkarya dan berpretasi. Karena pemerintah memang abai.  Kalimat ampuh yang sering disampaikn bahwa APBN negara  untuk pendidikan sangat minim jadi nggak bisa deh bantu ini itu.  Padahal, seharusnya negara memberi dukungan sepenuhnya  baik materil maupun non materil. Nggak heran kalau kita  menyaksikan remaja yang berprestasi udah banyak dibidik  negara-negara luar untuk diberikan beasiswa dan akhirnya  bekerja untuk memajukan negaranya. Ironis!” Yap! Sepakat dengan kedua teman D’Rise ini.

Banyak sekali  keanehan dan ketidaknormalan yang terjadi di negeri  ini dan dunia. Harusnya kita sudah mampu melihat  ini sebagai sebuah masalah yang perlu dirubah.  Menjadi prestatif di bidang apa pun adalah hak.  Fastabiqul khayrat menjadi legislasi yang telah  ALLAH berikan kepada kita untuk menjadi baik-terbaik. Tinggal kita yang seharusnya semakin ulet  untuk bersungguh-sungguh demi menebarkan manfaat  dan kebaikan. Semoga ini menjadi renungan untuk kita  semua. Dan kita tak ragu lagi untuk berprestasi demi  kemajuan Islam terutama. ALLAHU AKBAR! [Hikari]