drise-online.com – Denting bel tanda sekolah usai, berdentang. Serasa di penjara, ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap siswa. Dibeberapa kelas malah terdengar teriakan-teriakan riang dan tawa lepas seolah melepas beban berat untuk hari ini. Sebentar kemudian, anak-anak telah berhamburan keluar kelas.

Oji dan Lulu baru saja usai membereskan buku dan bersiap-siap keluar ruangan ketika Rajib yang belakangan dipanggil Ajibonk, si lelaki tulang lunak yang kerjaannya ngupdate fashion untuk remaja putri dan….ah, si Ajibonk maju kedepan kelas dengan gaya gemulai sambil memegang secarik kertas dengan lengan ditekuk dan ditopang lengan sebelahnya.

“hey hey hey”, Ia menyapu ruang kelas dengan tatapan genitnya. Rambutnya yang mengikuti gaya rambut anak korea dikibas-kibaskannya kesamping. Gayanya yang gemulai mampu mengundang senyum teman-teman sekelasnya. Oji memberengut

“hey hey hey…hey Rajib Singh! Itu kertas apaan? Baca aja cepat”, Oji berkata gusar. Ia bisa menebak, jika Ajibonk datang, alamat kekacauanakan terjadi.

“ihhh, nama eike bukan Rajib Singh, Oji. Rajib. Tapi, akika lebih suka dipanggil ajibonk. Lebih ajib,gitu lhoks”, tangan kanannya yang masih memegang kertas melambai dengan gemulai

“halah…udah, baca cepet!”, Oji makin gusar. Pengen cepat-cepat pulang.

“idihhh, sabar dikit nape? eh, denger baik-baik ya. Eike bacain. Ini pengumuman khusus untuk yang update trending topic dunia ”, Ia menjeda kalimatnya. Memandang kawan-kawannya dengan tatapan genit. Melirik Oji dan Lulu dengan tatapansinis. Beberapa orang yang tak sabar segera berlalu. Yang lainnya juga sudah tak begitu tertarik. Melihat hal tersebut, Rajib buru-buru meralat.

“hey hey hey…perhatian perhatian. Tolong dengerin eike duong…jadi gini lho, pengumuman ini terkait jadwalnonton bareng worldcup 2014!”, Rajib berteriak semangat diikuti wajah cerah yang lainnya.

OjidanLulu saling tatap. “kirain apaan”, Oji nyeletuk.

“emang nape? klo ga suka bola, ya gak usah denger. Sirik aja deh. Urusin tuh Rohis kalianyang…” belum tuntas perkataan Rajib, Oji beringasan memotong kata-kata Rajib

“eh, lu..gue agak aneh juga ada ya cowok gemulai tapi suka bola? Ikut-ikutan untuk eksistensi doing? Biar dibilang gaul? Semuanya denger, Gue bukannya ngelarang nonton bola. Olahraga mah boleh-boleh aja. Gue hanya ngingetin, jangan sampai pada melalaikan kewajiban yang lain karena ikut-ikutan gila bola. Apalagi di bulan ramadhan. Banyak yang lebih bermakna untuk dilakukan dibanding ngabisin waktu buat nonton bola. Bela-belain begadang Cuma buat nunggu bola. Ga mau bela-belain begadang, buat ngabisin malam dengan nyembah Allah.Dan catet ya,catet Ajibonk, gue ga pernah sirik sama acara-acara gituan”, Ojimenuntaskan kalimatnya dan segera berlalu. BersamaLulu yang melangkah keluar di ikuti suara riuh redam teman sekelas yang ramai mengerubuti Rajib.

………………….

“Ji, Neymar tu keren banget ya?”, Lulu seperti mendesis berbicara di samping Oji.

“lu suka bola, Ul?”, Oji menghentikan langkahnya sembari memandang Lulu yang juga balik menatapnya

“nontonbola kan boleh aja, Ji. Yang penting ga melalaikan kewajiban”, sahut Lulu.

“iya sih tapi… kita juga harus mampu nunjukin pribadi yang khas Ul. Kata mas Hadi, meski sesuatu itu boleh, tapi jika berkaitan dengan konspirasi, tetap kita harus jelasin ke teman-teman, Ul. Lu kan tau sepakbola itu bikin orang melalaikan banyak hal.Malah ada yang sampai kejebak pada permainan judi. Judi dibulan ramadhan lagi”, Oji menjelaskan panjang kali lebar. Lulu hanya manggut-manggut.

“world cup sejak kapan sih, Ul?”, Oji bertanya tanpa melihat lawan bicaranya. Keduanya berjalan menyusuri trotoar meninggalkan sekolah mereka. Lulu yang sedang sibuk dengan ponselnya tak begitu menghiraukan pertanyaan Oji.

“Ul??”, Oji mengulang pertanyaannya. Kali ini tangannya sengaja menjambak rambut Lulu yang dibentuk seperti Mohawk tiarap. Ia baru sadar, ada sedikit perubahan pada gaya rambut sahabatnya.

“aihhh, Ji, jangan maen jambak-jambak gitu dooong”, Lulu memprotes sembari menata ulang rambutnyayang baru saja di obrak abrik Oji.

“eh, gaya rambut lu baru cuy!”, tangan Oji kembali bergerak, buru-buru Lulu menepisnya.

“iya dong. Lu tau? Ni gaya rambut Neymar hehehe”, jawab Lulu dengan wajah meringis. Tangan kanannya sibuk mengusap rambutnya kearah depan. Seperti ayam jago kesiram air.

Oji mengerutkan jidat. Kedua keningnya nyaris bertemu.”Neymar?Neymar? Rambut lu kayak ayam jago keluar dari salon, Ul”, Oji senyam senyum memandang Lulu yang cemberut. Ia segera meraih pundak sahabatnya. Menepuknya lalu berkata ”lu demam Ul?”

“demam? Gue sehat-sehat aja”, ia meraba tengkuknya sendiri

“demam sepakbola”,sahut Oji

“oalaaah…kalau sebagai olahraga sih gue suka-suka aja, Ji. Tapi gue ga sampai galau lho ya kalau Neymar kalah”

“iya, tapi kalau udah sampai ikut-ikutan gaya gitu juga, hati-hati, Ul, ntar kelupaan”. Tambah Oji

“ya, galah…”

‘eh, temenin gue di warung Mang Udin yah. Mau beli pesenan emak buat buka puasa ntar”

“oqeylah klo begitu, Bro”

Keduanya tertawa lepas dan sekali lagi, Oji mengobrak abrik rambut Lulu.

………………………..

Oji memasuki gang kecil yang biasa Ia lewati. Sebentar lagi waktu ashar tiba.Beberapa anak terlihat semangat menggiring bola dengan suara riuh. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah yang tak begitu luas untuk bermain. Tak jauh dari situ, sekelompok laki-laki tengah mendiskusikan piala dunia dengan tak kalahsemangatnya. Di tengah-tengah mereka terdapat kertas yang berisi jadwal piala dunia dari group A hingga group H. dari tiga besar, hingga final (hapal banget). Kertas lainnya yang juga berisi jadwal pertandingan piala dunia telah ditempel pada dinding papan pos kamling.

“finalnya kapan, Li?”, Tanya Pak Ilham

“13 Juli, Pak. di Estadio do Maracana, Rio de Janeiro”sahut Ali seperti meracau merapalkan huruf yang terpampang pada jadwal pertandingan

“tau ga, menurut Ronaldo, Brasil akan mampu menjuarai Piala Dunia. Selain karena ini dihelat di kandang sendiri, Pemain andalannya itu lho yang keren. Si Neymar”, sahut Pak eman.

“wah, kalau saya tetap megang spanyol, Mas. Bertaburan bintang. Dari gelandang,bek, ampe penyerang hehe”, Mas Karno si tukang siomay yang lagi cuti selama ramadhan ikut nimbrung.

“kalau gue, yakin jerman yang menang, Bro”, Rio anak Pak RT melengkapi arisan para lelaki di siang menjelang sore. Hingga adzan ashar terdengar, pembahasan sepakbola belum berhenti juga.Oji hanya geleng-geleng kepala. Dimana-mana, trending topic dunia saat ini satu, BOLA. Seperti kata Ajibonk.

……………..

The world is ours, lagu piala dunia ala David correydan Millane Fernandez mengalun menghentak ruangan kelas. Yang muter jelas,Rajib and the gank. Beberapa siswa ikut bersenandung.

Run like you’re born to fly
Live like you’ll never die
Beranilah bermimpi
Menggapai semua cita

We are drawn by the rhythms
That beat through our hearts
Saat kita bersama
Tunjukkan semangatmu

Pada jam istrahat ini, kebanyakan siswa memilih menghabiskan waktu di ruang kelas atau menghabiskan waktu istrahat di taman sekolah. Oji dan Lulu sendiri terlihat sibuk mendiskusikan beberapa rangkaian kegiatan Rohis selama ramadhan ini. Di sudut sana, Rajib dan beberapa anak terlihat ramai. Oji hanya sesekali memandang mereka dengan tatapan sinis.

“eh, Ji.woles aja kali.ga usah panas gitu”

“bête gue liatnya,Ul. Pada curcol aja tuh kerjanya”

“ya, tapi kata mas Hadi, kita jangan terpancing, Ji. Makin ngelunjak klo digituin mah. Tetep dengan kata-kata ahsan”, Lulu senyam senyum berusaha arif. Oji hanya mendengus.

“eh, jadi gimana? besok kita harus memastikan lagi ke Pak Kamarudin. Ya sekedar mengingatkan gitu, agar beliau ga lupa membuka kegiatan rohis kita lusa”, Oji beralih ke pembahasan agenda Rohis

“iya. Panitia lainnya juga kemarin udah rapat. Masing-masing divisi udah merampungkan persiapannya. Tinggal besok, kita ke Pak Kepsek”

“siip. Alhamdulillah, semoga kegiatan kita sukses ya, Ul”, Oji menatap sahabatnya dengan wajah sumringah. Sebagai ketua panitia, ia merasa sangat bertanggung jawab atas kesuksesan kegiatan tersebut.

Di sudut lain, Rajib beraksi. Ia menirukan gerakan samba yang diikuti tawa riuh siswa lainnya..Mereka menyemangati Rajib yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya hingga tiba-tiba, bukkk! Kaki Rajib tak sengaja terantuk kaki meja, tubuhnya terjerembab menghantam kursi. Beberapa teman datang membantu Rajib untuk bangkit. Oji dan Lulu ikut mengerubungi Rajib yang telah didudukkan disebuah kursi. Ia meringis. Pelipisnya lebam. Detik selanjutnya, Ia menangis layaknya anak kecil.

………………….

Pak Kamarudin, wakil kepala sekolah Oji menyetujui permintaan Rohis untuk membuka rangkaian kegiatan Rohis dibulan ramadhan. Rencananya esok hari,sebagai pembukaan, Rohis akan membuat seminar bertajuk ramadhan, tonggak perubahan. Wajah Oji dan Lulu tampak cerah. Keduanya tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Ga pake lama, keduanya segera beranjak di ikuti Pak Kepsek nan baik hati. Tiba di pintu, Oji danLulu sekali lagi menyalami lelaki setengah baya itu

“makasih banyak, Pak. Semoga kegiatan Rohis ini bisa sukses”

“sayado’akan, kegiatan kalian sukses. Semoga banyak siswasiswi yang mengikutiacara ini. Saya justru salut dengan kalian”, kata Pak Kepsek sambil menepuk pundak Oji.Setengah membungkuk keduanya akhirnya meninggalkan ruang Kepsek.

………….

Pagi di hari ahad. Seluruh panitia Rohis terlihat sibuk menyiapkan keperluan acara. Mas Hadi, yangakan tampil sebagai pembicara pun sudah standby di TKP sejak pukul delapan. Yang paling cemas jelas Oji. Ketar ketir tiap melirik jam dan beralih ke deretan kursi peserta yang baru beberapa saja terisi. Hatinya ciut. Lulu sesekali menenangkan sahabatnya.

“nyantai aja, Ji. Memperjuangkan kebenaran tuga gampang”

“gue tau, Ul. Teman-teman tuga datang pasti karena nonton Bola. Tu,yang putrinya udah lumayan”, Oji berkata sepertimemelas. Lulu hanya tersenyum. Oji mengarahkan pandangannya kepada Mas Hadi yang sedang sibuk berbincang-bincang dengan Pak Kamaruddin. Ia melangkah mendekati keduanya,memohon izin untuk memulai acara.

Tepat pukul 09.00, acara segera dimulai. Sambutan Pak Kepsek sungguh membangkitkan kesadaran Oji. Bahwa memperjuangkan kebenaran itu sulit. Bahwa mengajak manusia ke jalankebenaran itu ga sepi dari ujian termasuk susahnya mengajak ummat untuk menghadiri majlis ilmu. Oji menunduk, membenarkan perkataan Kepsek. “Ah, harusnya gue ga boleh apatis”, batinnya. Terlebih materi yang dikemas menarik oleh Mas Hadi. Peserta dibuat antusias karena materi yang sensitive dengan keseharian mereka. Tentang sekolah, life style, fashion hingga football yang sengaja diciptakan untuk memalingkan kaum Muslimin. Bahwa kaum muda saat ini adalah generasi plagiat. Bahwa remaja saat inilebih tertarik dengan kebudayaan barat. Bahwa seluruh upaya barat, berhasil memalingkan kaum muda. Oji seperti teriris. Lulu ga bisa berkata apa-apa. Betapa mirisnya kondisi kaum muslimin. Betapa pedihnya Rasulullah jika menyaksikan ummatnya.

Di luar sana, ratusan bahkan ribuan manusia sedang terlena dengan sepakbola. Menyela kekhusyuan ramadhan. Bulan yang senantiasa dirindukan. The world is ourstak sepenuhnya salah namun akan lebih benar jikadifahami, bahwa dunia kita adalah milik Allah. Bumi ini milik Allah. Manusia hanya numpang. Tolong, fahami kewajiban jika status kitahanya “numpang”.Bukan pemilik. [Juanmartin]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38