Majalahdrise.com – Kalau bicara tentang petualang terhebat di dunia, mungkin nama yang langsung “klik” bagi sebagian orang adalah Marco Polo atau jangan-jangan Dora the Explorer. Padahal, di abad yang sama Islam punya tokoh yang jauh lebih hebat lho daripada Marco Polo. Siapa dia? Yup, dialah Ibnu Battutah.

Pada abad 14 M Ibnu Battutah mengembara sejauh 75.000 mil atau sekitar 120.000 km melintasi sebagain besar belahan bumi bagian timur, 3 kali lebih jauh dari perjalanan Marco Polo. Kalau dicocokkan dengan peta dunia saat ini, maka selama 30 tahun pengembaraannya Ibnu Battutah telah mengunjungi sekitar 40 negeri, 2 kali lebih banyak dari Marco Polo. Catatan perjalanannya itu kemudian dibukukan dengan judul Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa-’Aja’ib al-Asfar, atau singkatnya Rihlah Ibnu Battutah saja.

Pria kelahiran Tangier, Maroko pada 17 Rajab 703 H/ 25 Februari 1304 itu bernama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim At-Tanji, bergelar Syamsuddin bin Battutah. Ibnu Battutah hidup pada masa akhir Abad Keemasan Islam, yang merupakan ledakan prestasi ilmiah dan budaya dalam sejarah dunia. Sejak kecil, Ibnu Battutah dibesarkan dalam keluarga yang taat menjaga tradisi Islam.Maka tak heran bila Ibnu Battutah juga pernah diangkat menjadi Qadhi (hakim) di beberapa wilayah yang dikunjunginya, yang menunjukkan kefaqihannya dalam ilmu agama.

Pengembaraan ibnu Battutah dimulai ketika usianya menginjak 21 tahun, dengan tujuan utama yakni melakukan ibadah haji ke Makkah. Dari Tangier, Afrika Utara dia menuju Iskandariah. Lalu kembali bergerak ke Dimyath dan Kaherah.Setelah itu, dia menginjakkan kakinya di Palestina dan selanjutnya menuju Damaskus, lantas ke Ladzikiyah hingga sampai di Allepo. Ibnu Battutah kemudian bergabung dengan kafilah haji ke Tanah Suci. Sesampainya di Makkah kemudian ia menetap selama dua tahun.

Setelah cita-citanya tercapai, Ibnu Battutah, ternyata tak langsung pulang ke Tangier, Maroko. Ia lebih memilih untuk meneruskan pengembaraannya mengelilingi berbagai negeri, baik negeri muslim maupun negeri non muslim. Perjalanannya meliputi wilayah Afrika Utara, Tanduk Afrika, Afrika Barat, Timur Tengah, Eropa Timur dan lembah sungai Volga, Asia Selatan, Asia Tengah, hingga ke China dan Asia Tenggara.

Setiap kali mengunjungi sebuah negeri atau negara, Ibnu Battutah mencatat dengan detail mengenai kehidupan penduduk, pemerintah, dan ulama-ulamanya. Selain menceritakan hal-hal menakjubkan yang dijumpainya, Ia juga mengisahkan rintangan-rintangan yang pernah dialaminya seperti ketika berhadapan dengan penjahat, kabur dari bajak laut Eropa, hampir pingsan bersama kapal yang karam dan nyaris dihukum penggal oleh pemerintah yang zalim.

Petualangan dan perjalanan panjang yang ditempuh Ibnu Battutah sempat membuatnya terdampar di Samudera Pasai – kerajaan Islam pertama di Nusantara. Ia menginjakkan kakinya di Aceh pada tahun 1345. Sang pengembara itu singgah di bumi Serambi Makkah selama 15 hari.Dalam catatan perjalanannya, Ibnu Battutah melukiskan Samudera Pasai sebagai ”Negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah,”. Kedatangan penjelajah kondang asal Maroko itu mendapat sambutan hangat dari para ulama dan pejabat Samudera Pasai.

Sebelum abad 13 M, petualangan panjang seperti yang dilakukan Ibnu Battutah bisa dibilang mustahil. Peluang besar untuk itu mulai ada seiring dengan meluasnya wilayah yang dikuasai Daulah Islam. Ditambah lagi setelah bangsa Mongol dan kelompok nomaden lain yang membentuk kerajaan besar dan stabil di wilayah Eropa dan Asia turut memfasilitasi wisata, perdagangan dan pertukaran budaya. Sehingga berkat dakwah Islam lah perjalanan sejauh Ibnu Batutah untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia menjadi mungkin.

Kafilah-kafilah perjalanan dari jalur darat maupun laut menciptakan jaringan transportasi dan komunikasi yang membentang di belahan bumi timur. Kota-kota di Afrika, Eropa dan Asia dikunjungi secara teratur oleh para pedagang, diplomat, dokter, seniman, pengrajin,ulama maupun jamaah haji. Semua ini memfasilitasi pertukaran barang dan ide-ide pada skala yang tidak terlihat sebelumnya dalam sejarah dunia.

Tak seperti hari ini, ketika kita terikat dengan nasionalisme dan kewarganegaraan yang sempit, Ibnu Battutah adalah warga Darul-Islam, yang identitasnya adalah Islam itu sendiri, bukan sekedar tempat kelahiran. Maka kemana pun ia pergi, ia hampir selalu menemukan saudara seiman yang akan membantunya ketika dalam kesulitan.

Satu hal yang patut kita teladani dari Ibnu Battutah, adalah kesadarannya untuk selalu terikat dalam koridor hukum Islam. Keberadaannya di suatu negeri antah berantah sekalipun, tidak lantas membuatnya meninggalkan syariat Allah apapun alasannya. Nah, catet tuh. Penting juga kita ingat, perjalanan Ibnu Battutah tidak akan terjadi bila tidak ada negara yang sebelumnya telah mendakwahkan Islam dan membebaskan negeri-negeri tersebut dan menyatukannya di bawah naungan satu bendera. Negara itulah yang disebut Khilafah. [Ishaak]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46