Majalahdrise.com – Kita pasti tahu kisah Nabi Ibrahim yang membawa anaknya Ismail dan istrinya Hajar pindah ke Makkah. Awalnya, Makkah hanyalah sebuah lembah yang tandus, tetapi setelah memancurnya sumur zamzam, orang-orang tertarik untuk tinggal di sana. Orang-orang menganggap Ismail dan Hajar sebagai pemilik sumur zamzam itu, sehingga mereka sangat dihormati. Nabi Ibrahim dan Ismail kemudian diperintahkan membangun Ka’bah sebagai rumah Allah. Orang-orang hanya menyembah Allah, Tuhan yang Esa, dan mengamalkan agama nabi Ibrahim.

Zaman pun berganti. Tauhid yang diajarkan nabi Ibrahim dan Ismail masih tetap dipeluk dan dipegang erat-erat oleh bangsa Arab. Hanya saja telah banyak ajaran-ajaran mulia itu yang ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah keyakinan tauhid dan beberapa syiarnya saja.

Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfuri dalam kitab Ar Rahiq al Makhtoum kemudian mengisahkan, pada masa-masa itu datanglah seorang lelaki bernama Amr bin Luay. Dia adalah pemimpin bani Khuza’ah. Dia adalah seorang lelaki yang terkenal mulia, santun tutur katanya, baik budibahasanya, suka memberi, dan sangat memperhatikan urusan agama. Semua orang menyukai dan mematuhinya, karena menyangka dia adalah ulama yang terhormat dan wali yang mulia.

Pada suatu hari, Amr bin Luay berkunjung ke Negeri Syam. Di sana dia menyaksikan para penduduk Negeri Syam pada nyembah patung. Lah kemudian dia terinspirasi untuk nyembah patung juga. Dia menganggap nyembah patung itu sebuah kebenaran, karena dia mengetahui Negeri Syam adalah tempat turunnya kitab-kitab suci dan tempat diutusnya para nabi. Maka kemudian dia membawa sebuah patung dari sana yang bernama Hubal. Dia membawa patung itu ke Ka’bah dan menyembah patung itu di sana.

Penyembahan terhadap Hubal tersebar luas dengan sangat cepat hingga ke seluruh Hijaz. Hubal menjadi berhala pertama yang disembah orang Arab. Ketika Amr bin Luay membawanya pertama kali dari Syam, Hubal adalah sosok patung berbentuk manusia yang terbuat dari batu akik merah yang tangannya patah. Ketika tiba di Makkah, orang Arab membuatkan tangan dari emas untuknya.

Dari sini keliatan banget betapa bodohnya praktek penyembahan berhala. Ngapain juga nyembah tuhan yang nggak punya tangan, terus malah kita yang bikinin tangannya. Ngapain juga nyembah tuhan yang nggak bisa memberi manfaat apa-apa.

Untuk itulah Islam datang, dalam rangka membebaskan manusia dari penyembahan terhadap mahkluk (seperti Tuhan Bertangan Emas) dan mengajaknya menyembah al-Khalik Sang Pencipta (Allah subhanahu wata’ala).Karena itu banyak banget ayat Alquran yang menyatakan ungkapan minazh zhulumati ila nur, atau dari kegelapan menuju cahaya. Persis sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 257yang artinya: ”Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya”.

Berbahagialah kita sebagai seorang muslim. Kebayang kalo kita hidup dalam era jahiliyah yang erat dengan penyembahan berhala, dijamin nggak masuk hitungan calon penghuni surga. Makanya penting bagi kita untuk mengenal Islam lebih dalam, agar tetap hidup dalam terangnya cahaya Islam dan memantaskan diri jadi penghuni surga. Mau? #YukNgaji! [@SayfMuhammadIsa]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45