Majalahdrise.com – Jika ada kemauan, selalu ada pintu yang  membawa kita pada jawaban kehidupan.  Episode hidupku, tidak ada yang mampu  menerkanya, termasuk diriku sendiri. Apa  yang terjadi padaku, ialah episode yang  sepantasnya aku syukuri, sebab tak semua  mungkin mendapat kesempatan ini.  Kala itu, aku hanyalah anak yang baru  saja melepas masa-masa remaja dan  memasuki usia dua puluh. Awal mula, aku  terdaftar sebagai mahasiswa UPI Padang,  jurusan teknik informatika. Bahkan, bukan  sekedar terdaftar, aku sudah mengabdi  pada jurusan itu selama 2 semester.

Semua  itu kini hanya tinggal cerita ketika teman  sepupunya banyak cerita, yang ujung-ujungnya menawariku berangkat ke Jerman  untuk studi. Siapa sih yang ngga kenal Jerman  yang terkenal baik dari sisi budaya,  kemajuan IPTEK, dan pendidikannya.  Pikiranku mengawang ke negara yang dulu  dipimpim oleh sang dictator Hitler yang  melegenda. Dalam hatiku, andai aku bisa lanjut kuliah disana ya, mungkin entar deh  pas S2 aja. Masa mau di dalam negeri terus.

Sesekali mahasiswa perlu tantangan keluar  negeri, mencari ilmu ke negeri orang. Aku dan sepupuku ini mendapat  tawaran dari Euro Management yang tau  cara mengurus dokumen serta persyaratan  jika mau kuliah disana. Wah, jiwaku  semakin tertantang dengan potensi disana.  Apalagi sepupuku pun tak kalah  antusiasnya. Akhirnya, orangtuaku  menyuruh berpikir matang-matang  mengenai keputusan penting iini.  Jangan sampai ada penyesalan jika  aku menolaknya, jangan sampai  pula ada keterpaksaan jika harus  melepas apa yang ada.

Entah,  makin hari hatiku terpaut pada  negera eropa itu. Aku pun mantap  pergi ke Jerman, perkuliahan yang  lama aku tinggalkan. Syarat pertama yang harus  aku kantongi tentu saja perihal  bahasa. Hidup di Jerman akan sulit  bahkan terbuang kalau tidak tau  bahasa setempat. Perjalanan ini  aku awali dengan kursus 4 bulan Alhamdulillah sertifikan bahasa Jerman  level B1 berhasil aku kantongi. Sebelum  benar-benar menjadi anak didiknya, Jerman  ingin meyakinkan para pendatang asing  tidak ada kendala bahasa selama  perkuliahan.

Untuk itulah para calon  mahasiswa dibekali (alias diseleksi) di  Studentkolleg maksimal 4 semeester. Jadi,  maksimal duat tahun, harus cas-cis-cus  bahasa orang Jerman seolah-olah anak  kampung halamannya sendiri. Aku pun bergiat dalam ujian pertama  ini, dan Alhamdulillah lulus studentkolleg.  Udara Jerman dengan segar dapat kuhirup.  Hidup di negeri orang harusnya pintar-pintar menempatkan diri. Apalagi Negara  ini terkenal dengan kedisiplinannya dan  tantangan budaya. Beradaptasi tanpa  kehilangan jati diri, bahkan tujuan pelajar  datang kesini pastilan untuk menaikan level  alias kualitas kehidupan. Beraneka rupa nasib para pendatang  asing yang aku lihat. Ada muslimah asal  Indonesia, yang dulunya berjilbab, pas  sampe sini malah dibuka.

Sebaliknya, ada  yang tadinya tampil seksi, begitu hidup  disini malah bertaubat. Ada juga yang  sudah berhijab, tapi genitnya minta ampun.  Hehe. Itulah kehidupan, setiap pilihan pasti  mengandung konsekuensi, makin  menunjukkan,siapa dirimu sebenarnya. Di  musim kemarin, Amerika Serikat telah  mengesahkan pernikahan sesame jenis,  dan tidak lagi memasukkan LGBT sebagai  “kelainan”. Adalah pemandangan biasa aku  melihat pasangan lesbi dan homo  bermesraan di tempat umum. Risih? Pasti.  Astaghfirullah… Ada satu kejadian lucu dan  memalukan yang sampai sekarang masih terekam dalam ingatan.

Kala itu di  siang hari menjelang tengah hari  di hari jumat. Mesjid berada di  tengah kota dan harus melewati  pusat perbelanjaan, yang artinya  padat banget. Karena terburu-buru, aku lewati saja trotoar lebar  yang tampak lengang. Sebagian  orang ada juga yang lewat di  trotar itu, aku merasa tak masalah  di awalnya. Jerman oh Jerman,  tetap saja kedisiplinan umum  harus diterapkan. Walhasil, bukannya  sampai dengan cepat di tujuan, aku malah  kena tilang.

Apalagi polisinya perempuan,  minta ampun deh, ngomel-ngomel panjang.  Lumayan, uang denda sebessar 15 Euro  melayang. Masih banyak cerita seru dan juga  haru di tempat ini. Jerman memberiku  banyak warna, tinggal aku yang memilih  warna macam apa yang akan kujalani.  Apakah kepada jalan kebaikan, ataukah  sebaliknya. “Berdiri di atas kaki sendiri,  berjalan dengan pedoman”, begitulah  motto hidupku menjalani segalanya.  [Seperti yang dituturkan Ikhsan kepada  redaktur/Alga Biru]

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 52