“Kami telah baiat  kepada Rasulullah SAW,  tidak takut akan  ancaman siapa pun  dalam menaati Allah!”  [Ubadah bin Shamit RA]  

Perkataan Ubadah ra di atas  menunjukkan gimana konsistennya  Psalah satu tokoh Anshar ini  dalam  memegang ketaatannya kepada Allah dan  Rasul-nya. Sehingga beliau dikenal sebagai  penentang kezhaliman yang dilakukan para  penguasa dimasanya terhadap rakyatnya.  

Seperti yang terjadi pada Muawiyah.  Ketika masa kekuasaan Muawiah,  Ubadah ra membandingkan kepemimpinan  Muawiyah dengan Umar bin Khathab  terdapat jurang pemisah di antara  keduanya menganga lebar. Untuk itu,  berkata Ubadah bin Shamit RA, “Kami  telah baiat kepada Rasulullah SAW, tidak  takut akan ancaman siapa pun dalam  menaati Allah!” maka Beliaulah yang  berani tegak mengawasi Muawiah dalam  kepemimpinannya.  

Dalam sebuah Hadist dikatakan :  suatu ketika kami mengikuti perperangan  dan di dalamnya ada Muawiyah. Lalu kami  mendapatkan ghanimah yang banyak  diantaranya ada wadah yang terbuat dari  perak. Muawiyah kemudian menyuruh  seseorang untuk menjual wadah tersebut  ketika orang-orang menerima bagian harta  ghanimah maka orang-orang ramai  menawarnya . Hal itu terdengar oleh  Ubadah bin Shamit maka ia berdiri dan  berkata

“Sesungguhnya saya pernah  mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi  wa Sallam melarang jual beli emas dengan  emas, perak dengan perak, gandum  dengan gandum, jewawut dengan  jewawut, kurma dengan kurma, garam  dengan garam kecuali dengan takaran yang  sama dan tunai, barangsiapa melebihkan  maka ia telah melakukan riba”.

Oleh  karena itu orang-orang menolak dan tidak  jadi mengambil wadah tersebut. Hal itu  sampai ke telinga Muawiyah maka dia  berdiri dan berkhutbah, dia berkata:  “Kenapa ada beberapa orang  menyampaikan hadis dari Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam padahal kami  telah bersama Beliau dan kami tidak  pernah mendengar hal itu dari Beliau”.  Kemudian Ubadah bin Shamit berdiri dan  mengulangi ceritanya dan berkata:  

“Sungguh kami akan selalu meriwayatkan  apa yang kami dengar dari Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun  Muawiyah membencinya” atau dia berkata  “Saya tidak peduli walaupun akan dipecat  dari tentaranya di malam hari yang gelap  gulita”. Hammad mengatakan: ini atau  yang seperti itu ”. (HR. Muslim No. 1587, Al  Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No.  10260, Ibnu Abi Syaibah dalam Al  Mushannaf, 5/297)  

Diriwayatkan juga Qabishah bin  Dzuaib bercerita, “Ubadah bin Shamit  (radhiallahu anhu) mengingkari suatu  perbuatan Muawiyah (radhiallahu anhu).  Ubadah berkata kepada Muawiyah: Saya  tidak akan tinggal di negeri ini  (Syam).Maka ia pun meninggalkan Syam  dan pulang menuju Madinah. Begitu ia  sampai di Madinah, Umar bertanya: Apa  yang membuatmu pulang? Ubadah  menceritakan perbuatan Muawiyah yang  diingkarinya. Umar memerintahkan:

” Kembalilah  ke tempatmu semula (Syam). Karena akan  buruk sebuah negeri tanpa keberadaanmu  atau orang sepertimu. Dia tidak berhak  mengaturmu.” (Siyar a’lam an-Nubala’,  adz-Dzahabi 2/7) Driser, apa yang dilakukan oleh  Ubadah bin Shamit terhadap muawiyah  adalah bagian dari rasa sayangnya sebagai  seorang muslim pada penguasa.

Agar para  penguasa ingat dengan amanah yang  diembannya dan tidak berkhianat. Seperti  sabda rasul. “Di hari Kiamat kelak setiap  pengkhianat akan membawa bendera  yang dikibarkannya tinggi-tinggi sesuai  dengan pengkhianatannya. Ketahuilah,  tidak ada pengkhianatan yang lebih besar  daripada pengkhianatan seorang  penguasa terhadap rakyatnya.” (H.R  Muslim)  Ketika Umar bin Khathab menjadi  Amirul Mukminin,

Umar tidak bisa  mengajak Ubadah bin Shamit untuk  duduk di pemerintahan. Karena emang  Ubadah sendiri menjauhkan dirinya dari  jabatan kekuasaan  dan kemewahan  (sesuai janjinya). Ubadah lebih memilih  berangkat ke Suriah untuk menyebarkan  ilmu, pengertian dan cahaya bimbingan  di negeri itu bersama Mu’adz bin Jabal  dan Abu Darda.  Driser, seorang Ubadah bin Shamit  layak jadi teladan kita dalam  menyampaikan kebenaran Islam.

Sahabat  Anshar yang wafat pada tahun 34  Hijriyah di Ramlah, Palestina. Kita akan  selalu meneladaninya sebagai  seorang  penegak kebenaran dan pelurus  penyelewengan. Nggak pake takut siapa  yang dihadapi. kalo ada yang berbuat  zhalim, terutama penguasa terhadap  rakyatnya, Ubadah ada dibarisan  terdepan untuk mengingatkan. Pastinya  bukan popularitas atau pujian yang  dikehendaki oleh Ubadah. Melaikan  ridho Allah dan predikat pimpinan para  syuhada.

Rasul saw bersabda: “Pemimpin  para syuhada adalah Hamzahbin Abdul  Muthalib dan seorang laki-laki yg berdiri  di hadapan penguasa dzalim,lalu ia  memerintahnya( dengan kema’rufan)  dan melarangnya (dari  kemunkaran),kemudian penguasa itu  membunuhnya.” (Al-Hakim dari Jabir).