Ubadah bin Shamit : Penentang Kezaliman | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Bohlam Inspirasi >> Ubadah bin Shamit : Penentang Kezaliman

Ubadah bin Shamit : Penentang Kezaliman




MAJALAH REMAJA | TABLOID | BACAAN | ISLAM | TRENDI | GAUL | MUSLIM | DAKWAH | ONLINE | ANAK | MUDA | CERPEN ISLAM | SMART| HTTP://MajalahDrise.Com

MAJALAH REMAJA ISLAM

MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE – “Kami telah baiat kepada Rasulullah SAW, tidak takut akan ancaman siapa pun dalam menaati Allah!” [Ubadah bin Shamit RA]

Perkataan Ubadah ra di atas menunjukkan gimana konsistennya salah satu tokoh Anshar ini  dalam memegang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-nya. Sehingga beliau dikenal sebagai penentang kezhaliman yang dilakukan para penguasa dimasanya terhadap rakyatnya. Seperti yang terjadi pada Muawiyah.
Ketika masa kekuasaan Muawiah, Ubadah ra membandingkan kepemimpinan Muawiyah dengan Umar bin Khathab terdapat jurang pemisah di antara keduanya menganga lebar. Untuk itu, berkata Ubadah bin Shamit RA, “Kami telah baiat kepada Rasulullah SAW, tidak takut akan ancaman siapa pun dalam menaati Allah!” maka Beliaulah yang berani tegak mengawasi Muawiah dalam kepemimpinannya.

Dalam sebuah Hadist dikatakan : suatu ketika kami mengikuti perperangan dan di dalamnya ada Muawiyah. Lalu kami mendapatkan ghanimah yang banyak diantaranya ada wadah yang terbuat dari perak. Muawiyah kemudian menyuruh seseorang untuk menjual wadah tersebut ketika orang-orang menerima bagian harta ghanimah maka orang-orang ramai menawarnya . Hal itu terdengar oleh Ubadah bin Shamit maka ia berdiri dan berkata “Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam kecuali dengan takaran yang sama dan tunai, barangsiapa melebihkan maka ia telah melakukan riba”. Oleh karena itu orang-orang menolak dan tidak jadi mengambil wadah tersebut. Hal itu sampai ke telinga Muawiyah maka dia berdiri dan berkhutbah, dia berkata: “Kenapa ada beberapa orang menyampaikan hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam padahal kami telah bersama Beliau dan kami tidak pernah mendengar hal itu dari Beliau”. Kemudian Ubadah bin Shamit berdiri dan mengulangi ceritanya dan berkata: “Sungguh kami akan selalu meriwayatkan apa yang kami dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun Muawiyah membencinya” atau dia berkata “Saya tidak peduli walaupun akan dipecat dari tentaranya di malam hari yang gelap gulita”. Hammad mengatakan: ini atau yang seperti itu ”. (HR. Muslim No. 1587, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 10260, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 5/297)

Diriwayatkan juga Qabishah bin Dzuaib bercerita, “Ubadah bin Shamit (radhiallahu anhu) mengingkari suatu perbuatan Muawiyah (radhiallahu anhu). Ubadah berkata kepada Muawiyah: Saya tidak akan tinggal di negeri ini (Syam).Maka ia pun meninggalkan Syam dan pulang menuju Madinah. Begitu ia sampai di Madinah, Umar bertanya: Apa yang membuatmu pulang? Ubadah menceritakan perbuatan Muawiyah yang diingkarinya.

Umar memerintahkan: ” Kembalilah ke tempatmu semula (Syam). Karena akan buruk sebuah negeri tanpa keberadaanmu atau orang sepertimu. Dia tidak berhak mengaturmu.” (Siyar a’lam an-Nubala’, adz-Dzahabi 2/7)

Driser, apa yang dilakukan oleh Ubadah bin Shamit terhadap muawiyah adalah bagian dari rasa sayangnya sebagai seorang muslim pada penguasa. Agar para penguasa ingat dengan amanah yang diembannya dan tidak berkhianat. Seperti sabda rasul. “Di hari Kiamat kelak setiap pengkhianat akan membawa bendera yang dikibarkannya tinggi-tinggi sesuai dengan pengkhianatannya. Ketahuilah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar daripada pengkhianatan seorang penguasa terhadap rakyatnya.” (H.R Muslim)

Ketika Umar bin Khathab menjadi Amirul Mukminin, Umar tidak bisa mengajak Ubadah bin Shamit untuk duduk di pemerintahan. Karena emang Ubadah sendiri menjauhkan dirinya dari jabatan kekuasaan  dan kemewahan (sesuai janjinya). Ubadah lebih memilih berangkat ke Suriah untuk menyebarkan ilmu, pengertian dan cahaya bimbingan di negeri itu bersama Mu’adz bin Jabal dan Abu Darda.

Driser, seorang Ubadah bin Shamit layak jadi teladan kita dalam menyampaikan kebenaran Islam. Sahabat Anshar yang wafat pada tahun 34 Hijriyah di Ramlah, Palestina. Kita akan selalu meneladaninya sebagai  seorang penegak kebenaran dan pelurus penyelewengan. Nggak pake takut siapa yang dihadapi. kalo ada yang berbuat zhalim, terutama penguasa terhadap rakyatnya, Ubadah ada dibarisan terdepan untuk mengingatkan. Pastinya bukan popularitas atau pujian yang dikehendaki oleh Ubadah. Melaikan ridho Allah dan predikat pimpinan para syuhada. Rasul saw bersabda: “Pemimpin para syuhada adalah Hamzahbin Abdul Muthalib dan seorang laki-laki yg berdiri di hadapan penguasa dzalim,lalu ia memerintahnya( dengan kema’rufan) dan melarangnya (dari kemunkaran),kemudian penguasa itu membunuhnya. (Al-Hakim dari Jabir). Allahu Akbar! [Ridwan]

Dimuat di edisi September 2012




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

two × 2 =