MajalahDrise.com – Kalender atau almanak alias tanggalan, merupakan sistem pengorganisasian waktu-waktu untuk tujuan penandaan serta perhitungan waktu dalam jangka panjang. Kalender tertua di dunia berusia sekitar 8000 tahun SM. Memang sudah sejak zaman jebot, manusia sudah merasakan pentingnya mengatur waktu, karena itulah manusia menciptakan kalender untuk memudahkan kehidupan mereka, baik sebagai penanda peristiwa yang sudah berlalu, maupun membantu merencanakan sesuatu di masa depan. Tapi apa jadinya kalo kalendernya itu sendiri dibuat dengan sistem yang rumit? Bisa-bisa penggunanya malah keder alias bingung. Nyok kita intip kalender-kalender di dunia yang malah bikin orang jadi keder.

Kalender Pawukon Bali

Kalender pawukon adalah kalender aritmatik murni. Kalender ini tidak mencatat angka tahun mulainya, dan berputar siklik (nemu-gelang) tanpa berhenti. Satu tahun pawukon = 210 hari, terbagi dalam satuan 7 harian bernama wuku yang berjumlah 30. Masing-masing wuku memiliki nama, tidak berbeda jauh dengan nama wuku di Jawa, dari mana perhitungan ini berasal. Kalender pawukon tidak memperhitungkan phase bulan maupun musim. Wih, baca istilah-istilahnya aja udah bingung. Yang jelas, kalender ini memang kental dengan kepercayaan Hindu. Bahkan bagi yang meyakininya, Pawukon dijadikan sarana untuk “mengintip nasib”.

 

Kalender Metris Revolusioner Perancis

       Tahun 1793, ketika Revolusi Perancis masih hangat-hangatnya, Kalender Gregorian dianggap terlalu ‘religius’ dan ‘kuno’, sehingga dengan semangat sekulerisme, mereka pun memutuskan untuk mengkonversi hitungan minggu, jam, menit dan detik ke dalam sistem metrik. Jadilah French Revolutionary calendar, dimana 1 minggu= 10 hari, 1 hari = 10 jam, 1 jam = 100 menit, dan 1 menit = 100 detik. Mereka juga mengganti nama-nama bulan bahkan menamai masing-masing hari dalam 1 tahun! Bukan cuma hari kerja mereka dalam seminggu bertambah, rakyat Prancis pun harus mengingat 365 nama hari yang berbeda. Nggak heran kalender ini cuma bertahan 14 tahun saja.

 

Kalender Soviet yang Ribet

       Mungkin demi meningkatkan produktivitas kerja dan melenyapkan pengaruh agama, tahun 1929 Uni Soviet (sekarang Rusia) menerapkan Kalender Revolusioner Soviet dengan sistem rotasi 5 hari. Hari-hari rakyat soviet diisi dengan 4 hari kerja dan 1 hari libur, kemudian kerja lagi 4 hari lantas 1 hari libur dan terus begitu seterusnya. Karena sistem rotasi kerja ini banyak orang yang lupa waktu dan kebingungan. Yang bikin parah, setiap orang diberi jadwal kerja secara acak, sehingga hari kerja dan libur setiap orang dalam satu keluarga bisa berbeda-beda. Bukan cuma antusiasme kerja rakyat yang menciut, efisiensi kerja pun menyusut karena peralatan industri tak mampu menangani jadwal kerja yang non stop. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah komunis itu malah memberlakukan sistem yang lebih parah, yaitu kalender rotasi 6 hari, yang malah semakin memperkacau penentuan jadwal kerja. Akhirnya tahun 1940 pemerintah Soviet sadar dan menghapuskan Kalender Soviet yang ribet itu.

 

Kalender Yunani Kuno

       Yunani kuno dengan polis-polisnya (negara kota) dikenal memiliki rasa kesukuan yang tinggi, mungkin karena itulah masing-masing negara kota itu memiliki sistem penanggalan sendiri. Bayangkan, kalau masing-masing kota memiliki tanggalan berbeda, nama bulan yang berbeda, perhitungan tahun berbeda, jadwal tahun kabisat yang berbeda, pasti membingungkan orang yang bepergian ataupun birokrasi antar kota. Ups, tapi ternyata tinggal di satu kota seumur hidup juga belum tentu selamat dari kebingungan. Sebab, satu kota bisa jadi memiliki beberapa sistem penanggalan yang berbeda! Misalnya Athena yang memiliki 3 sistem tanggalan. Saking bikin bingung, para sejarawan Yunani malah menggunakan permainan Olimpiade (yang diselenggarakan 4 atau 5 tahun sekali) sebagai patokan peristiwa. Misalnya “kota Carthago dibangun 38 tahun sebelum Olimpiade pertama”. Keder deh. []

 

BOX
Kalender Hijriyah Islamiyah

Umat Islam menggunakan kalender Hijriyah yang berdasarkan pada peredaran bulan (lunar/qamariyah). Disebut Hijriyah, karena tahun pertama penanggalan Islam dimulai dari peristiwa Hijrah. Sebelum datangnya Islam, orang Arab Jahiliyah sudah terbiasa dengan penanggalan qamariyah. Mereka mengenal praktek interkalasi (Nasi’) yaitu menambahkan bulan ke-13 atau lebih tepatnya memperpanjang satu bulan tertentu selama 2 bulan pada setiap sekitar 3 tahun agar bulan-bulan qomariyah tersebut selaras dengan perputaran musim atau matahari. Tapi praktek ini sering disalahgunakan oleh kaum Quraisy agar memperoleh keuntungan dengan datangnya jamaah haji pada musim yang sama di tiap tahun, dimana mereka bisa mengambil keuntungan perniagaan yang lebih besar. Praktek ini juga berdampak pada ketidakjelasan masa bulan-bulan Haram. Pada tahun ke-10 setelah hijrah, Allah menurunkan ayat yang melarang praktek Nasi’ ini (QS At-Taubah: 38-39) dan menggenapkan hitungan bulan menjadi 12. []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #43