drise-online.com – Ini merupakan salah satu episode kisah perang Tabuk yang terjadi di bulan Rajab 9 H. Perang ini adalah satu-satunya perang saat Rasulullah saw mengumumkan dan mengerahkan seluruh kekuatan kaum musliminuntuk menghadang serang kerajaan Romawi. Lantaran perang ini terjadi di tengah kesulitan yang tengah melanda kaum Muslimin.

Saat sahabat-sahabat nabi & kaum muslimin lainnya menyiapkan diri untuk ikut berpartisipasi dan berkontribusi dalam perang tabuk, tersebutlah Ulyah bin Yazid. Seorang yang sangat faqir, tidak memiliki apa-apa diatas dunia ini, dari golongan Anshor kabilah Aus. Kesedihan mendalam merayap dalam hatinya tatkala dia menyaksikan semua orang telah membeli perlengkapan perangnya. Tameng, besi, unta, dll. Sedangkan dirinya… apa yang dia mau persiapkan..? Kalau hendak membeli, mau beli pakai apa? Uang satu dirham pun ia tidak punya. Apalagi pagi itu dia mendengar Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengatakan : man jahhaza jaisyul usroh ghufiro Allahu lahu falahul jannah ( “Barang siapa yang membantu perbekalan pasukan yang kesulitan, Allah mengampuninya dan baginya surga”). Maka semakin terbenamlah serasa dirinya ke dalam bumi, hancur luluh serasa hatinya, sedih hatinya, semua orang mendapatkan surga kecuali dirinya.Semakin panas dingin badannya mendengar sabda Nabi saw mensyaratkan siapa yang mau ikut berperang harus membawa alat dan kendaraan perang sendiri.Galau mode: ON!

Dilihat juga oleh Ulyah bin Yazid ketika dia duduk di masjid Nabawi, dia melihat Nabi saw dikelilingi para sahabat, ketika datang Umar bin Khattab dengan membawa setengah dari harta yg dimilikinya.Tak lama setelah itu, datanglah Abu Bakar sambil membawa semua harta yang dia punya. Tak ketinggalan sahabat Utsman bin Affan membawa seribu dinar dalam pakaiannya, bahkan kafilah dagangnya yang hendak berangkat ke Syam sejumlah dua ratus ekor unta lengkap dengan barang-barangnya dia keluarkan sedekahnya, ditambah lagi dengan seratus ekor unta, lalu ditambahnya lagi seribu dinar uang kontan.

Tidak lama kemudian datang pula Abdurahman bin Auf sang dermawan, membawa 200 uqiyah perak, datang pula ‘Abbas bin Abdul Mutholib paman Nabi saw, Tholhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah, yang mereka semua berinfaq di depan mata Ulyah. Dia juga melihat kedatangan orang-orang yang kurang berada membawa infaq semampunya, dimulai oleh ‘Ashim bin Adiy mebawa 70 wasaq kurma, ada yang membawa dua mud bahkan satu mud kurma, tidak satu pun kaum muslimin yang tidak memberi kecuali kaum munafiqin.

Melihat hal itu pulanglah Ulyah membawa semua kesedihannya. Ketika senja telah beralu dan malam pun tiba, pikirannya masih galau dan tak bisa tidur. Akhirnya dia bangkit, lantas berwudhu dan melaksanakan sholat malam agar bisa bermunajat kepada Allah Yang Maha Pemurah dan mengadukan segala kesulitannya kepada Sang Khaliq.

Di dalam sholatnya Ulyah pun menangis. Dia sebutkan kefaqirannya, dia sebutkan kelemahannya, dia sebutkan ketidakberdayaannya, dia minta kepada Allah jangan sampai kefaqirannya dan ketidakmampuannya berinfaq pada persiapan perang Tabuk ini menggeser kedudukannya dibanding sahabat-sahabatnya kelak di surga “jikalau aku Engkau buat susah di dunia, janganlah pula Engkau jauhkan aku dari surgamu”.

Diantara doanya adalah:
“Ya Allah, Engkau perintahkan kami untuk berjihad, Engkau perintahkan kami untuk berangkat ke Tabuk, sedangkan Engkau tidak memberikan aku sesuatu apapun untuk bekal berangkat berperang bersama Nabi-MU shallallohu ‘alaihi wasallam…
maka malam ini saksikanlah ya Allah…
sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari perlakuan zhalim mereka terhadap diriku, maka inilah kehormatanku aku infaqkan di jalan-Mu,
jika ada seorang muslim menghinakan dan merendahkan diriku,
maka aku infaqkan itu semua di jalanMu
Ya Allah..tidak ada yang dapat aku infaqkan sebagaimana orang lain telah berinfaq, kalau sekiranya aku punya sebagaimana mereka punya akan aku infaqkan untukMu,
maka yang aku punya hanya kehormatan sebagai seorang muslim, kalau Engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah kehormatan ini aku sedekahkan untukMu malam ini…”

Esok subuhnya Nabi saw memimpin sholat berjama’ah, hadir pula Ulyah. Alloh tidak pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Kejadian di tempat yang sepi tersebut dikabarkan oleh Alloh kepada Nabi saw melalui Malaikat Jibril. Nabi saw mendekati Ulyah dan berkata, “sungguh ya Ulyah, sedekahmu malam tadi telah diterima oleh Allah Ta’ala sebagai sedekah yang maqbul..!!”

Bagaikan aliran listrik yang langsung mengalir ke jantung Ulyah bin Yazid, laksana halilintar dahsyat menghantam dirinya, karena dia sama sekali tidak mengira, cahaya kebahagiaan langsung memancar dari dirinya.“Benarkah ya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam..benarkah sedekahku yang tadi malam yang tidak ada apa-apanya itu diterima Alloh…??” tanyanya penasaran seolah-olah tidak percaya.

Maka Nabi pun menyerahkan 6 ekor unta kepada Ulyah bin Yazid dan tujuh orang temannya untuk berangkat ke medan jihad, peperangan Tabuk…peperangan yang atas izin Allah dimenangkan oleh kaum muslimin, ditandai dengan menyerahnya negara-negara boneka Romawi, dan semakin berkurangnya daerah kekuasaan kerajaan Romawi.

Driser, Islam nggak pernah diskriminatif untuk urusan surga, neraka, pahala, atau dosa. Siapa saja bisa mulia atau hina dihadapan Allah swt. Pembedanya, ketaqwaan. Ulyah bin Yazid udah ngasih pelajaran pada kita arti sebuah ketaqwaan yang tak dibatasi oleh materi. So, gimana pun kondisi kamu, jangan pernah minder untuk berkontribusi dalam dakwah. Allah swt pasti kasih jalan keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi. Yuk berdakwah! [@Hafidz341 dr berbagai sumber]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40