Setiap tahun, yang namanya Ujian Nasional memang selalu Scenut buk saja menimbulk an main. P an keerut? Mules! Badan? Ng tegangan. Hati, kepala, rgasan ak demam ya cenat nggak meriang, tapi panas dingin. Dan ‘panggilan alam’ yang biasanya normal pun ngedadak jadi egois. Merampok ketenangan. Argh! Harus ke toliet deh demi kelegaan lahir dan batin! Beser ciiiyn! Ups!

Itulah pengalaman seru yang sempat redaksi D’Rise dengar dari Falah Achmad Bagusti, siswa SMAN 1 Babakan Madang, Sentul-Bogor yang cukup bikin ngikik. Cowok Rohis yang berusia 17 tahun ini terang-terangan bilang, “Banyak yang hilir mudik ke toilet! Ketegangan terjadi dalam satu ruangan, dan diantara kami, ada yang sampai histeris saat melihat soal Ujian Nasional (mungkin karena kurang persiapan).”

 Sedetik, redaksi D’Rise langsung teringat kisah UN pribadi di tahun 2007. Nostalgia. Lucu. Memang sih. Nggak semua orang yang ngadepin UN tuh kayak gitu. Nurul Imania Utami anak SMA Plus YPHB Bogor salah satunya. Dia merasa biasa-biasa ajah ngadepin UN dan yakin lulus Insyaa ALLAH karena sudah diiringi do’a dan usaha yang maksimal.

Masalahnya cuma satu. Kadang dia merasa laper ajah pas ngerjain soal meski sebelumnya sudah sarapan di rumah. Weh?! Tapi seru katanya! Karena meski dalam kondisi yang begitu, dia masih bisabisanya dapat ilham. Entah ilham seperti apa yang dia maksud, hehe. Cerita dari Asti lain lagi. “Setiap pengawas di ruang saya tuh pasti menegur teman saya yang lagi tidur. Terus kalau ada dua pengawas yang ngobrol kan berisik banget, ya udah kita kayak bikin pertunjukkan. Ada yang geser-geser dan mukul-mukul meja, berdeham nggak jelas, pokoknya riweuh!”

Redaksi D’Rise tertawa lagi. Membayangkan kelas XII IPA 4, MAN 2 Bogor ini meradang, menggila. Karena itu imut sekali dan menggemaskan, hahaha, peace! Dan jauh dari itu semua, redaksi D’Rise yakin, kalau orang tua dan guru mereka pun pasti merasakan hati yang sama tegangnya, sama cemasnya. Hmm! Kalang kabut? Ah, apa lah itu namanya yang jelas bukan hanya milik sang murid saja kekhawatiran itu. Tetapi juga kepunyaan orangtua dan pihak sekolah tentunya (yang mengharapkan seluruh anak didiknya menjadi anak yang BERHASIL).

Tetapi sedih campur pedih rasanya karena pemerintah tuh belum bisa diajak kompak. Sistem pendidikan di negeri ini masih belum mengacu pada basic (karakter) kurikulum yang benar. Iya tujuan sudah kembar, ingin membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa. Tapi antara tujuan nggak matching dengan tataran praktisnya. Input-proses-output aneh berantakan. Failure system. Tapi enggan diganti. Huh! Kisah Klasik Untuk Masa Depan UN semakin tahun semakin ‘variatif’ kisahnya. Level kesulitan di tiap tingkatan selalu saja nggak bersahabat. Meski banyak yang mengakui aroma keadilan untuk POS UN sekarang (karena adanya barcode khusus pada soal UN demi meniadakan kecurangan). Tapi karena tidak total, semuanya jadi percuma.

Pemerintah luput. Program pembinaan yang tonggak keberhasilannya adalah kepribadian mulia pada siswa didik, tidak terjadi pada instrumen pendidikan yang selama ini diusung dan dipertahankan. Terlebih, dukungan faktor luar seperti suburnya gaya hidup hedonisme membuat siswa banyak lalai dan salah kaprah mengenai makna keberhasilan hakiki. Ini yang bikin tambah ngilu.

Miris berlapis-lapis. Sebab masih banyak teman dan adik kita yang jadinya lebih tunduk dengan kelulusan UN dan menggadaikan harga dirinya di mata penciptanya sendiri. My God! Ok deh nggak lulus UN sekilas rasanya akan sangat malu luar biasa. Entah kemana lagi muka harus diletakkan jika tidak lulus. Namun, serius deh. Kalau dipikir ulang secara lebih mendalam, kayaknya rugi berat kalau di mata ALLAH kita malah menjadi pecundang. Menipu diri sendiri dan tidak percaya dengan kemampuan diri sendiri.

Yap! Nyontek itu begitu. Padahal, salah satu bentuk menghargai diri sendiri adalah usaha keras dan percaya penuh pada kekuatan yang ALLAH sudah beri kepada kita. Negeri ini sudah rusak. Kita sebagai rakyat, meski masih duduk di bangku MA/SMA, baru bisa sampai UN tanggal 15-18 April 2013 kemarin, tapi harus bisa cerdas memahami keadaan. Kita menyaksikan kerusakan di negeri ini, masa kiita mau ikutikutan rusak juga? Kan nggak relevan dengan cita-cita kita yang mendamba surga. Harusnya kita bisa menjadi remaja pengubah.

Tidak hanya membuat diri baik tetapi negeri dan dunia ini juga baik. Dengan dakwah, dengan Islam 100%. Jadi bukan hanya sekedar menjadi seorang pelajar tetapi juga pengemban dakwah yang berjuang untuk menyuarakan Islam. Jika sistem pendidikan di negeri si Unyil ini nggak ada perubahan, maka UN akan selalu menjadi kisah klasik untuk masa depan. Terus-terusan menghasilkan permasalahan yang tak kunjung terpecahkan. Hanya sistem pendidikan Islam yang bisa merubahnya menjadi kisah cantik pengukir masa depan. Pasti! []