Kulihat ibu pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang

Mas intan yang kau kenang

Kini ibu sedang lara

Merintih dan berdoa

Melihat anak Indonesia

Banyak yang tidak sekolah

Pendidikan hanya untuk kaum berada (kaya)

Kayaknya pas deh lagu di atas menggambarkan kondisi  pendidikan kita. Sorry yang tiga bait bawah Cuma tambahan.  KHehehe.. Memang gambaran suram pendidikan nyata di  depan kita. Belum lagi pelajar sekarang. Amit-amit jabang bayi.

Males, nggak mood belajar, main-main melulu. Nggak lagi hormat  sama guru. Jengkelin lagi. Wis komplit lah. Kalaupun mau sekolah  harus jadi orang berada. Punya duit banyak bias dipastikan lenggang  kangkung sekolah. Bagi mereka yang gak punya duit dijamin memble  dan kece. Jadi jongos terus. Capek kan?   Masih mending kamu-kamu yang punya niatan tulus ikhlas  dalam belajar dan sekolah. Syukuri dan sadarilah.

Itu nikmat dari  Allah loh. Coba tuh lihat teman-temanmu yang tergeletak karena  minuman keras. Terhempas di jalan-jalan karena tawuran remaja.  Terjerembab dalam gemerlap dunia: seks bebas, perzinaan, dan  prostitusi. Belum lagi gaya hidup alay dan hedonis. Seolah menjadi  menu harian mereka.

Kalo gak alay dan hedonis dicap kampungan,  kuno, dan ketinggalan jaman.   Ternyata nih pendidikan yang ada di negeri kita nih ga  berkah ya? Coba deh lihat aja. Banyak orang yang pinter malah  minteri (menggunakan untuk kejelekan). Mereka yang tersangkut  korupsi bukan orang-orang bego loh. Lihat aja rata-rata mereka  lulusan kampus. Wuih? Bukankah ilmu itu seharusnya menjadikan  orang semakin takut pada Allah. Renungi baik-baik nih. “Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hamba-Nya  hanyalah ulama’ (orang berilmu) Fathiir:28

Siapa yang pantes salah?

Kalo demikian yang terjadi kira-kira yang salah siapa ya?  Pelajarnya yang kian terpuruk dalam gemerlap dunia kah? Guru yang  salah memberikan ilmu kah? Atau sekolah yang salah dalam  memberikan pengajaran? Atau pemerintah yang abai untuk  mengurusi urusan rakyatnya? Jangan-jangan sistemnya juga yang  buat orang-orang tersesat?   Menyalahkan pelajar pun tak cukup. Wong mereka  menerima pendidikan apa adanya.

Apalagi menyalahkan guru?  Malah gak bener. Wong guru tuh nggak mungkin memberikan ilmu  yang salah. Sekolah juga tidak salah. Wong itu hanya tempat belajar.  Pemerintah kelihatannya juga salah kebijakan. Buktinya guru dan  pelajar dibuat dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang  berganti-ganti. Akhirnya mereka jadi kelinci percobaan. Tung punya  itung sistem pendidikan kita ternyata sekular.

Apalagi sistem  pemerintahannya kapitalis dan sekular. Agama dipisahkan dalam  pengaturan pendidikan. Buktinya ilmu dan tata cara belajar sudah  teracuni pemikiran-pemikiran barat yang sekular.   Pentesan aja persoalan pendidikan gak pernah terurai  wong sistemnya salah. Selama sistem dan landasannya salah pasti  melahirkan kebijakan atau orang-orang yang salah. Bisa juga  menyesatkan hidup. Catet tuh!

Kalo demikian apa jadinya negeri ini?  Bayangin aja 5, 10,15,25, atau 50 tahun lagi bangsa ini jadi apa? So  butuh revolusi nih khususnya dalam sistem pendidikan. Eits bukan  revolusi berdarah-darah loh.    Kalo sistem kapitalis-sekuler nyata-nyata tak bisa  menuntaskan problem pendidikan. Malah nambahin masalah baru.  Apalagi sistem sosialisme yang justru mengungkung kebebasan  mendapat pendidikan. Trus apa kita mau ngambil sistem usang itu?  Nggak lah yaw. Satu-satunya tawaran ada pada Islam yang membawa  rahmat.

Tawaran Islam

Ada beberapa aspek penting solusi pendidikan Islam.

1.Landasan Pendidikan Landasannya aqidah Islam. Menanamkan keimanan dan  ketaatan hanya pada Allah. Standar baik-buruk sesuai dengan  syariatnya. Matep toh!

  1. Tujuan Pendidikan Membentuk kepribadian baik nafsiyah maupun fikriyah sesuai dengan islam. Perilaku anak didik dan guru menjadi  baik dan terpuji. Jika masyarakat sehat kepribadiaannya  maka negara juga sehat, aman, dan tentram. Selain itu untuk  membekali pelajar agar mampu mempunyai skill dan  kemampuan dalam hidup. Tidak hanya mereka pintar, tapi  juga dilandasi iman dan skill yang mumpuni.
  2. Sinergi Sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.  Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas.  Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan kondisi faktual  obyektif pendidikan. So, anak-anak dididik dengan cara yang  baik di rumah. Makanya rumah itu sekolah pertama. Jangan  abaikan pendidikan bagi anak-anak. Sekolah menjadi  wahana untuk menempa dan mempersiapakan anak-anak  menjadi pemimpin umat. Merekalah yang akan menerangi  kehidupan ini. Yang nggak kalah pentingnya tuh masyarakat.  Mereka menjaga anak-anak tumbuh dalam balutan iman  dan keterikatan dengan syariat. Biar ga keblinger.

So,  penjaga terakhir adalah negara. Negara memberikan  fasilitas, kemudahan, dan kebebasan seluas-luasnya bagi  rakyat untuk mengeyam pendidikan. Karena mereka punya  tanggung jawab pada rakyatnya. Manteb toh. Gimana gak manteb wong dari Allah  yang menciptakan manusia. Biar pendidikan anak muda gak  keblinger dan amburadul. Untukmu Pendidikanku terapkan  aja Sistem pendidikan Islam dalam bingkai Khilafah Islam.  Garansi 100%.[]

*) Pengajar Bhs.Jepang di SMAN 5 Surabaya