Ustadz Ismail Yusanto-Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

‘Hidup untuk Dakwah, Dakwah untuk Tegaknya Syariah & Khilafah…”

Ismail Yusanto Namanya sudah tidak asing lagi di arena percaturan politik Nasional dan Internasional. Sebagai juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, pembawaannya yang cool, calm, and confident dalam menyampaikan ide syariah dan khilafah, bikin hati D’Rise bergetar dan membuat mata D’Rise berkaca-kaca. Subhanallah…jalan dakwah ini memang luar biasa, karena itu pilihlah sebagai jalan hidupmu. Hontou ni. Berikut petikan wawancara dengan ust. Ismail Yusanto. Silahkan disimak!

1.       Masalah di negeri ini sangat banyak seperti negeri-negeri Islam lainnya. Ada yang bilang, “Urus sajalah dulu negeri sendiri baru negeri orang lain.” Tanggapan Ustadz?

Jawab: Memang, masalah yang dihadapi oleh umat Islam di negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, sangatlah banyak. Benar juga, bahwa kita harus konsentrasi terhadap apa yang dihadapi oleh umat Islam di negeri ini. Karena pada dasarnya dakwah memang harus dimulai dari kalangan yang paling dekat dari diri kita. Tapi tidak berarti hal itu membuat kita boleh abai terhadap persoalan yang terjadi di luar diri kita atau di luar negeri kita, karena beberapa alasan. Satu, sesungguhnya umat Islam itu bersaudara. Maka ketika saudara kita tengah didzalimi, misalnya, meski mereka tinggal jauh dari negeri ini, kita tidak boleh tinggal diam. Dua, akibat perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, dunia kita saat ini sudah menjadi desa besar. Keadaan satu negara sangat tergantung dan dipengaruhi oleh negara lain. Maka, sangat boleh jadi, persoalan di dalam negeri kita ini, di antaranya dipengaruhi oleh keadaan negara lain. Oleh karena itu, kita tidak lagi bisa sekadar peduli terhadap keadaan di dalam negeri. Ketiga, meski itu bukan di dalam negeri kita, tapi persoalan itu sesungguhnya adalah persoalan kita. Misalnya, penjajahan atas wilayah Palestina. Coba kalau penjajahan itu sampai merusak Masjidil Aqsha, masak kita mau tinggal diam? Keempat, apapun persoalan yang menimpa umat saat ini, sesungguhnya hanyalah akibat dari sebuah sebab yang lebih besar, yakni tidak adanya kehidupan Islam dimana di dalamnya diterapkan Syari’ah di bawah naungan Khilafah. Oleh karena itu, perjuangan umat saat ini harus diarahkan untuk tegaknya kembali kehidupan Islam itu sehingga setiap persoalan yang ada bisa diatasi secara tuntas.

2.       Ada juga orang yang bilang, “..kita fokus saja dengan peran kita sebagai rakyat, tak usah sok ikut campur urusan pemerintah..”, Gimana tuh Tadz?

Jawab: Memang, setiap orang memiliki peran dan tanggungjawab yang berbeda-beda, dan karenanya akan dimintai pertanggungjawab akan peran dan tanggungjawab itu. Tapi hal itu tidak berarti membolehkan kita untuk tak acuh terhadap keadaan di sekeliling kita, karena sebagai Muslim kita wajib melakukan amar makruf nahi mungkar. Dan yang paling utama, amar makruf nahi mungkar itu ditujukan kepada para penguasa, terlebih bila kita tahu mereka akan melakukan kebijakan yang bertentangan dengan Syari’ah, maka wajib bagi kita sebagai rakyat untuk menentangnya.

  • 3.       Sebagai Jubir HTI, Ust pernah mengalami kejadian buruk yang mengancam perjuangan dakwah seperti yang dialami Jubir HT Pakistan-Naveed Butt? Oh ya..apakah ada perkembangan terbaru terkait Naveed Butt?

Jawab: Alhamdulillah, hingga saat ini saya belum pernah mengalami hal buruk seperti yang dialami oleh Jurubicara-jurubicara HT di berbagai negara, seperti di Pakistan. Mungkin karena negeri kita baru lepas dari era otoritarianisme Orde Baru, sehingga cara-cara seperti itu sudah tidak lazim lagi. Allahu a’lam, keadaan yang kondusif seperti ini akan berlangsung sampai kapan. Mudah-mudahan sebelum berubah, Khilafah sudah berdiri.

Ada pun mengenai keadaan Naveed Butt, kemarin saat MK, saya sempat tanyakan kepada tamu kita dari Pakistan, beliau menjawab, tidak ada satu pun orang yang tahu dimana posisinya dan bagaimana keadaannya. Keluarga juga tidak tahu. Di Pakistan, keadaan seperti ini acap terjadi. Seseorang hilang tak tentu rimbanya. Memang penguasa di sana sangat dzalim. Kita doakan semoga beliau selamat dan bisa segera kembali kepada keluarganya serta aktif kembali berdakwah. Sejauh ini yang kita lakukan adalah memprotes dan mempertanyakan kepada penguasa Pakistan, tapi mereka sendiri juga tidak pernah bisa memberikan penjelasan yang memuaskan.

4.       Ada pendapat: “Demokrasi sama dengan Islam”, benarkah?

Jawab: Ini pendapat memang sering kita dengar. Tentu pendapat yang mengatakan demokrasi sama dengan Islam, tidaklah benar. Dari akarnya saja sudah beda. Demokrasi lahir dari sekularisme, sedang Islam bertumpu pada kalimah tauhid Laa ilaaha illa-Llah. Mungkin benar ada satu atau dua unsur dari demokrasi, misalnya tentang musyawarah, yang kebetulan ada juga dalam Islam. Tapi adanya unsur-unsur yang sama itu tidak cukup untuk kita menyimpulkan bahwa kedua hal yang sesungguhnya berbeda itu berarti sama. Apalagi pada kenyataannya musyawarah di dalam Islam sangatlah berbeda dengan praktek musyawarah dalam demokrasi. Musyawarah dalam Islam adalah hanya salah satu cara pengambilan keputusan yang terkait dengan hal-hal teknis pelaksanaan Syari’ah. Misalnya, ketika bepergian, kita boleh bermusyawarah mau shalat di masjid mana. Tapi jangan sekali-kali bermusyawarah mau shalat atau enggak. Sedang musyawarah dalam demokrasi merupakan cara pengambilan keputusan untuk semua hal, termasuk hal-hal yang dalam Islam sudah jelas status hukumnya, seperti haramnya riba, atau tentang pernikahan. Hal itu, di dalam demokrasi, masih bisa dimusyawarahkan apakah pernikahan sesama lelaki dan sesama perempuan (same sex marriage) itu boleh atau tidak. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya di lebih dari 10 negara Eropa saat ini, nikah sejenis telah disahkan. Sementara dalam Islam, nikah sesama jenis, dilarang keras dan pelakunya akan dihukum mati.

  • 5.       Sebagian orang memiliki kecemasan berlebihan terhadap Khilafah jika memimpin dunia. Khawatir terjadi diskriminasi non muslim. Tanggapan Ustadz?

Jawab: Ini ketakutan yang tak berdasar. Fakta sejarah, warga non muslim di sepanjang Khilafah Islam bisa hidup damai sejahtera. Spanyol misalnya, pernah lebih dari 700 tahun dikuasai Islam disebut Espanyol in three religions, karena selain Islam yang berkuasa, hidup damai sejahtera pula orang-orang Yahudi dan Nasrani. Irak pernah lebih dari 400 tahun menjadi pusat daulah Khilafah, dan selama itu pula hidup damai sejahtera orang-orang Nasrani yang diantaranya melahirkan tokoh bernama Thariq Azis (pernah menjabat sebagai deputi PM di masa Saddam Husein). Secara normatif, tidak ada satu pun alasan yang bisa dijadikan dasar untuk rasa takut itu. Islam melarang memaksa non Muslim masuk Islam. Islam mewajibkan perlindungan non Muslim ahludz dzimmah, harta jiwa dan kehormatannya. Pendek kata, kalau mau hidup tenteram, damai sejahtera, hiduplah di bawah al-Khilafah.

  • 6.       Untuk acara Muktamar Khilafah 2013 kemarin, seperti apa pencapaiannya?

Jawab: Ada beberapa capaian yang kita dapatkan dari Muktamar Khilafah lalu. Yang utama tentu saja adalah adanya peningkatan kesadaran umat, khususnya mereka yang hadir pada acara muktamar di berbagai kota di Indonesia itu, tentang arti pentingnya Khilafah bagi terwujudnya kembali ‘Izzul Islam wal Muslimin (Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin). Semua orang yang kita temui atau kita wawancarai usai acara, serempak menyatakan hal senada. Bahwa tegaknya kembali Khilafah sangatlah penting. Oleh karena itu, penting pula untuk terus berjuang hingga cita-cita mulia itu terwujud.

Peningkatan kesadaran umat berlangsung cukup signifikan. Hal itu terlihat dari membludaknya peserta setiap acara MK di berbagai daerah, juga gegap gempitanya respon peserta yang hadir di sepanjang acara. Gelora Bung Karno seakan hendak runtuh tatkala secara serempak peserta yang hadir meneriakkan takbir dan yel-yel “Khilafah, Khilafah, Khilafah” berulang-ulang. Itu semua menunjukkan bahwa mereka satu hati dan pikiran dengan semua ide atau gagasan yang dicetuskan dalam MK.

Kedua, adalah tumbuhnya kepercayaan umat terhadap Hizbut Tahrir. Di tengah krisis kepercayaan terhadap partai politik, termasuk partai politik Islam, akibat berbagai kasus korupsi, Hizbut Tahrir ingin menunjukkan diri (dalam arti positif) sebagai kelompok yang masih bisa diharapkan untuk membawa umat kepada terwujudnya cita-cita.

Dan kepercayaan serta dukungan itu nyata. Coba perhatikan, sungguh mustahil menggerakkan umat, yang sebagiannya berasal dari daerah yang cukup jauh, bahkan ada yang harus menempuh perjalanan darat lebih dari 24 jam, untuk hadir dalam acara Muktamar, apalagi mereka harus membeli tiket. Bila dalam diri mereka tidak ada kepercayaan kepada HT mereka tidak akan ikut bersama HT dalam Muktamar kemarin. Kepercayaan umat itu sangat penting karena kepercayaan akan melahirkan dukungan.

Ketiga, melalui Muktamar ini, berbagai pihak bisa melihat, bahwa Hizbut Tahrir terbukti mampu menyelenggarakan acara besar dengan aman, megah, meriah dan terkendali. Ini akan menepis kekhawatiran atau tudingan sementara pihak yang menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah kelompok radikal yang akan membuat onar negeri ini. Kekhawatiran dan tudingan miring seperti itu kadang tidak cukup dibantah dengan lisan, tapi juga harus dengan tindakan. Penyelenggaraan Muktamar yang sukses, insya Allah akan menepis semua itu. Bila hal ini bisa terus kita jaga dan kita tingkatkan, pada gilirannya siapa pun yang berpikir sehat dan obyektif, tidak akan bisa menilai secara negatif kehadiran HT, bahkan akhirnya akan merasa bahwa HT diperlukan untuk membawa negara ini ke arah yang lebih baik.

  • 7.       Pesan-pesan untuk D’Riser (pembaca D’Rise)?

Jawab: Tidak ada kemuliaan kecuali hidup dengan dan untuk Islam, dan tidak ada kemuliaan Islam kecuali dengan penerapan Syari’ah dan tidak ada penerapan Syari’ah secara kaffah kecuali di bawah naungan daulah Khilafah. Oleh karena itu, tetaplah berjuang untuk tegaknya Syariah dan Khilafah. Kalau hidup tidak untuk dakwah, lalu mau untuk apa? Kalau dakwah bukan untuk tegaknya Syari’ah dan Khilafah lalu mau dakwah untuk apa? Dan bagaimana Syari’ah dan Khilafah bisa tegak bila dakwah tidak dilakukan secara istiqamah? Karena itu, tetaplah dakwah secara istiqamah untuk tegaknya Syari’ah dan khilafah. [Hikari]