MajalahDrise.com – Driser, pastinya hapal dong kalo bulan April identik dengan datang bulan Perempuan. Eit, maksudnya bulan perempuan lantaran ada peringatan hari Kartini. Makanya, obrolan seputar kondisi wanita pun kerap mewarnai berbagai media. Terutama terkait emansipasi yang konon kabarnya terinspirasi dari perjuangan RA Kartini. Nah, biar infonya tambah lengkap, kali ini Drise berkesempatan ngorek informasi dunia kaum hawa dan segudang permasalahan yang menimpanya bersama Ustadzah Ir. Ratu Erma. Beliau adalah Narasumber Rubrik Muslimah Bicara di program radio Cermin Wanita Sholihah. Yuk kita simak!

 

Apa pendapat Ustadzah tentang kondisi Muslimah hari ini?

Kondisinya sangat tidak baik. Mereka dipermalukan, dihinakan, seluruh hak-haknya diabaikan. Muslimah hari ini tidak mengetahui hak-hak yang Islam berikan untuknya, kecuali hanya sedikit. Karena mereka dijauhkan dari nilai-nilai Islam yang benar, akibat bangsa kita mengadopsi ideologi kapitalis liberal. Identitas muslimah sebatas formalitas dalam penampilan atau tercantum di KTP, namun pemikiran dan perbuatannya didasarkan pada nilai sekuler. Berkerudung tapi berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Shalat, tapi tidak menutup aurat. Berpuasa, tetapi berdusta dan membantah oragtua dan lain-lain. Ada yang lebih miris, bahwa mereka menjadi korban eksploitasi ekonomi, korban kejahatan sosial, korban budaya liberal, korban kekerasan dan lain-lain.

 

Apakah tindak kekerasan perempuan itu akibat dari pandangan diskriminatif laki-laki kepada mereka?

Bisa jadi. Pandangan laki-laki yang salah adalah ketika ia memandang perempuan sebagai obyek eksploitasi. Atau pandangan bahwa perempuan adalah makhluk yang dapat memuaskan nafsu syahwatnya. Pandangan seperti ini hanya ada di masyarakat yang mengadopsi system demokrasi sekuler dan kapitalis liberal. Perempuan diangagp barang, seperti benda mati, yang bisa diberi perlakuan apa saja.

 

Di kalangan remaja puteri, pergaulan bebas hingga perzinaan kian merajalela. Tanggapan Ustadzah?

Benar. Naudzu Billahi min dzalik. Merebaknya free seks karena didukung lingkungan. Remaja sangat mudah mengakses film-film dan cerita cabul tanpa terkontrol. Tidak ada tindakan tegas dari pemerintah untuk menghilangkan situs porno, menutup café remang-remang, dan tempat maksiat lainnya. Malahan, pemerintah mengajarkan bagaimana cara berpacaran yang sehat, seks yang aman dengan pasangan, sengaja diajarkan melalui kurikulum kespro remaja di sekolah-sekolah. Belum lagi sekarang akses terhadap kondom sangat mudah. Puskesmas menyediakannya secara gratis. Semua ini mendukung hasrat muda-mudi untuk melakukan perzinaan. Sudahlah pendidikan agama saat ini tidak mumpuni untuk membuat remaja komit terhadap halal dan haram, dosa dan tidak dosa, ditambah dengan berbagai fasilitas yang mendukung, lengkap sudah. Orangtua sudah kewalahan, sulit mengarahkan dan mengatur perilaku anaknya. Oleh karena itu, untuk menghilangkan hal-hal yang memicu pergaulan bebas di kalangan remaja, peran pemerintah sangat penting. Akan sangat efektif dan efisien jika pemerintah bertindak menutup tempat maksiat, melarang adanya film, lagu, cerita dan sarana kepornoan, melakukan edukasi sistem pergaulan laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan Islam. Karena hanya Islam yang mengatur hubungan laki-laki dan perempuan dengan detil dan benar.

 

Ustadzah, emansipasi dan feminisme kian gencar disuarakan. Apa pengaruhnya terhadap masa depan remaja puteri?

Harus difahami bahwa ide emansipasi dan feminisme adalah ide impor dari Barat. Tidak cocok untuk menyelesaikan masalah perempuan di negeri muslim, termasuk Indonesia. Pengaruh ide ini negatif terhadap perempuan, karena ia ide berbahaya. Ide ini menanamkan persepsi bahwa perempuan sekarang terdiskriminasi. Kaum laki-laki lebih diunggulkan dari mereka. Itu sebabnya banyak perempuan yang tertinggal. Banyak yang taraf pendidikannya rendah, banyak yang miskin, dilecehkan dan sebagainya. Menurut feminis, faktor yang menghambat kemajuan perempuan adalah tugas perempuan di rumah tangga yang sudah dibakukan oleh Islam. Peran ini menghalangi perempuan untuk ke luar rumah, sehingga tidak bisa akses materi dan kedudukan. Akibat racun ini, akhirnya banyak muslimah yang terpengaruh, berbondong-bondong keluar rumah dan fokus mengejar karier, mendapat uang banyak supaya bisa memiliki semua kebutuhannya. Update fashion, kosmetik, gadget, kredit motor dan mobil, dan sebagainya. Muslimah meninggalkan tugas pokok dan pentingnya menjadi Ibu pendidik generasi, akibatnya hak anak-anaknya terabaikan, rumah tanga konflik karena suami-istri atau ayah dan ibu merasa sejajar tidak ada yang mau mengalah.

 

Seperti apa gambaran Muslimah yang ideal saat ini? Sukses di karir? Keluarga? Dakwah?

Muslimah sudah diberi tugas yang jelas dalam Islam. Kewajiban pokoknya setelah ia menjadi ibu adalah mendidik anak-anak untuk menjadi generasi solih dan memenej urusan di rumahnya untuk ketenangan dan ketentraman keluarga. Tugas cabang di luar rumah yang sama-sama wajib dilaksanakan permpuan, banyak. Seperti berdakwah, menuntut ilmu, mengoreksi pemimpin yang menyimpang, dan sebagainya. Saat ia belum menikah, ia punya kewajiban untuk taat dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Sehingga Muslimah ideal itu adalah yang sukses menjalankan tugas pokoknya dengan baik dan juga sukses menjalankan kewajiban-kewajiban cabangnya. Karir dalam pekerjaan, tidak dijadikan parameter keberhasilan atau kesuksesan Muslimah. Berkarir pada pekerjaan yang dihalalkan Islam, merupakan bentuk kontribusi muslimah dalam pembangunan masyarakat.

 

‘Perempuan sebagai tiang negara’ bagaimana remaja Muslimah memahami hal ini dalam keseharian?

Peran perempuan sebagai ibu pencetak generasi solih calon pemimpin umat, adalah peran strategis untuk sebuah Negara. Oleh karena itu remaja puteri harus bersiap diri dari sekarang baik pemikiran dan sikapnya untuk menjadi ibu yang nanti akan menjalankan peran strategisnya. Jangan terpengaruh dengan orientasi feminis, yang mengklaim peran ibu itu pengekangan. Disisi lain, Islam membuka peluang besar kepada perempuan untuk berkiprah di masyarakat, sesuai dengan ilmu dan keterampilannya untuk kemajuan Negara. Dalam Islam, peran perempuan di rumah ataupun di rumah mempunyai sifat strategis bagi kemajuan bangsa.

 

Barat seringkali menuding bahwa Syari’ah Islam membatasi kiprah perempuan. Bagaimana usaha Muslimah untuk menjawabnya?

Tudingan harus dijawab, dengan memisahkan antara fakta sebenarnya tentang kehidupan perempuan dalam naungan Syari’ah dan apa yang dituduh mereka. Faktanya, di masa hukum Islam diterapkan, kebutuhan ekonomi perempuan terjamin tanpa ia harus tereksploitasi dengan bekerja. Kehormatan mereka terjaga karena menjalani tugas utamanya di rumah. Sekalipun ia harus keluar rumah untuk melaksanakan kewajiban lainnya, kehormatannya tetap terlindungi dengan aturan berpakaian, terpisahnya laki-laki dari perempuan saat belajar, dan ketika mereka berinteraksi di pasar atau jalan misalnya, Islam melarang pandangan yang berdasar nafsu syahwat diantara mereka. Dan faktanya, perempuan tidak merasa dikekang dengan aturan ini, tetapi merasakan ketenangan. Mestinya kita balik menuding Barat sebagai ideologi yang menghancurkan martabat perempuan. Ia dibiarkan bebas berkeliaran di luar, dan mengekspresikan segala yang diinginkannya sehingga menghinakan dirinya. Jadi, tudingan itu harus dilawan. Hingga saat ini upaya untuk menjawab tudingan itu terus dilakukan. Pada bulan Februari sampai Maret lalu, Muslimah Hizbut Tahrir mengkampanyekan perempuan dalam Syari’ah Islam, menjawab tudingan Barat terhadap Islam dan menunjukkan kebenaran perlakuan Islam kepada perempuan. Puncaknya ditutup dengan konferensi internasional di lima Negara, termasuk di Indonesia. Kita membantah narasi Barat yang menyatakan bahwa muslimah tertindas oleh Syari’ah, dan kita bongkar makar mereka dengan menjajakan feminism Islam yang menyesatkan para perempuan.

 

Terakhir, apa pesan Ustadzah kepada Pembaca Majalah DRISE, terutama para Muslimah?

Ayo para remaja puteri ! sebenarnya yang akan menyelesaikan berbagai problem perempuan hari ini adalah penerapan Syari’ah Islam secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Dan seharusnya muslimah itu berbangga diri kepada perempuan lain di seluruh dunia, karena Islam telah memuliakan mereka dengan berbagai aturan yang telah ditetapkan untuknya. Hanya saja, masih banyak muslimah yang belum faham Islam dengan utuh. Untuk itu, mari kita fahami Islam, agar kita mencintainya, memilikinya dan memperjuangkannya. Agar ketika Syari’ah Islam disudutkan, kita mampu membelanya.

 

Biodata Singkat:

Nama                      : Ir. Ratu Erma Rachmayanti

Aktivitas                 : –   Ketua DPP Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

Narasumber Rubrik Muslimah Bicara di program radio Cermin Wanita Sholihah,

Pemerhati persoalan perempuan, tinggal di Bogor.

 

Di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi 46