majalahdrise.com – Eeran mahasiswa sebagai pelaku  kebangkitan tak bisa disangkal lagi.  Jiwa muda mereka cukup aktif  mengkritisi ketidakadilan yang dilakukan  pemerintah. Sayangnya, tak semua  mahasiswa mampu menunjukkan perannya  dengan baik. Sebagian malah keliru  menyalurkan sikap kritisnya. Biar nggak salah  kaprah. Kita akan ulik lebih jauh kondisi  mahasiswa saat . Untuk itu, edisi kali ini drise  akan ngobrol dengan ustdzh Nida Saadah.  Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia  sekaligus dosen yang peduli dengan kondisi  mahasiswa. Yuk simak!

Apa pendapat ustadzah tentang kiprah  mahasiswa dalam tatanan kehidupan  praktis?

Mahasiswa saat ini terkesan tidak peka  dengan persoalan di sekitarnya. Karena sibuk  dengan tugas dan jadwal kuliah. Jangankan  persoalan sekitarnya, untuk memahami  situasi kampusnya juga terkesan sangat  kurang. Contohnya banyak mahasiswa yang  tidak tahu bahwa pendidikan adalah tanggung  jawab negara, termasuk sampai ke jenjang  pendidikan tinggi. Sehingga tidak seharusnya  ditempuh dengan biaya mahal. Banyak juga  mahasiswa yang tidak tahu, kenapa sekarang  mereka dituntut bersiap diri memasuki pasar  bebas MEA, dst.

Apa sebenarnya yang menjadi titik persoalan  di negeri ini?

Negeri ini makin dicengkeram korporasi.  Termasuk dalam dunia pendidikan tinggi.  Riset dan ilmu tidak lagi dikembangkan untuk  melayani kebutuhan masyarakat secara  mudah dan berkualitas. Tapi penelitian  dikembangkan berdasarkan kebutuhan  korporasi (perusahaan). Untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Fungsi negara  sudah hilang. Kami dengar akan dilaksanakan KMIP di  berbagai titik kota di Indonesia, apa visi dan  misi diselenggarakan acara tersebut?

Kongres Mahasiswi Islam Untuk Peradaban  (KMIP) Oktober 2015 diadakan di lebih dari 25  kota dari berbagai propinsi di Indonesia.  Temanya adalah Intelektual Muda, Tegakkan  Khilafah (Selamatkan Intelektual Muda dari  Cengkeraman Neokolonialis-Feminis). Acara ini  bertujuan menyadarkan para mahasiswi  bahwa ada yang salah dengan pengelolaan  pendidikan tinggi hari ini. Dan mahasiswi juga  bertanggung jawab melakukan perubahan jika  tidak ingin menjadi korban korporasi dan  program feminis.

Apa saja yang diagendakan di acara tersebut?  Apakah hanya melibatkan mahasiwi  (muslimah) saja atau mahasiswa secara  umum?

Pada acara tersebut akan didiskusikan tentang  kesalahan pengelolaan model triple-helix pada  pendidikan tinggi, yang telah memandulkan fungsi negara. Dan telah mengkomersialisasi  ilmu. Model pengelolaan triple helix ini sejalan  dengan upaya mengeksploitasi para  perempuan dengan berbagai program feminis.  Pada acara tersebut juga didiskusikan tentang  potret pendidikan tinggi dalam peradaban  Khilafah Islam. Yang berhasil menjadikan  pengembangan riset dan ilmu meninggikan  peradaban dan memuliakan manusia. Apa  pula rahasianya, sehingga para perempuannya  juga bisa menjadi kontributor peradaban  tanpa menghadapi sekian dilema. Di akhir  acara dilakukan penandatanganan butir  kesepakatan para aktifis mahasiswi berbagai  kampus yang akan diaudiensikan ke lembaga  pemerintahan setempat.  Poin intinya berisi  tuntutan menata sistem pendidikan tinggi  dalam bingkai syariah-khilafah.   Untuk dukungan seruan penegakan  syariah-khilafah, di dalam acara kami  tampilkan juga dukungan seruan perjuangan  dari mahasiswi Malaysia, Turki, Sudan,  Palestina, Australia, Belanda, hingga Amerika.    Para peserta kongres ini adalah dari  kalangan mahasiswi Islam. Tapi juga tidak  tertutup jika ada mahasiswi non muslim yang  ingin hadir.

Bagaimana respon masyarakat terutama  kaum intelektual mahasiswa dalam  memahami konsep syariah dan khilafah ?

Selama ini dari berbagai forum diskusi yang  kami adakan, kalangan mahasiswi antusias  dengan pembahasan tentang syariah-khilafah.  Pertanyaan yang sering mengemuka adalah  bagaimana pengaturan praktis syariah-khilafah terhadap berbagai persoalan hari ini.

Dan bagaimana upaya implementasinya. Jika di kalangan mahasiswa masih ada yang  mengalami islamophobia, apa tanggapan ustadzah terhadap fenomena ini?

Berarti mahasiswa tersebut butuh lebih  banyak membaca dan mendengar secara  utuh dari berbagai sudut pandang keilmuan.  Dan membuka hatinya untuk menerima  kebenaran Islam. Karena sudah banyak  literatur yang mengemukakan kegagalan  peradaban Barat hari ini. Banyak pula literatur  yang membahas keunggulan peradaban  Islam. Mahasiswa dengan intelektualitasnya  semestinya bisa bersikap tepat dalam  memahami siapa musuh sebenarnya yang  telah menghancurkan negeri ini.

Apa harapan ustadzah setelah  terselenggaranya acara tersebut?

Sanggupkah kita menata Indonesia menjadi  lebih baik. Semoga makin banyak mahasiswi di seluruh  Indonesia yang tercerahkan dengan  pembahasan di acara kongres mahasiswi  tersebut. Dan sadar bahwa dirinya sebagai  perempuan telah dieksploitasi habis-habisan  oleh korporasi jahat. Indonesia dengan berbagai sumber daya alam  yang melimpah, sumber daya manusia yang  mayoritas dalam usia produktif, mampu  menjadi negara besar. Dan memimpin  peradaban dunia dalam skala negara yang  lebih besar lagi. Dengan syarat, punya visi,  misi, dan program yang jelas, mandiri dan  tidak didikte korporasi. Rincian detil itu ada di  tatanan sistem hukum syariah, dalam konsep  kenegaraan Khilafah. Mohon beri pesan dan saran kepada seluruh  pembaca DRISE di Nusantara Kepada seluruh pembaca, sudah saatnya kita  campakkan peradaban Barat yang rusak dan  merusak ini ke tong sampah. Mari wujudkan  kehidupan yang lebih baik dalam perjuangan  penegakan syariah-khilafah.