Majalahdrise.com – D’Riser tau nggak sih, tanggal 1 Desember diperingati sebagai World AIDS Day alias Hari AIDS Sedunia. Yup, walaupun baru-baru ini dunia digalaukan dengan virus Ebola yang nggak kalah dahsyat dari AIDS, bukan berarti dunia sudah aman dari serangan negara api, eh, virus HIV. Penyakit AIDS merupakan wabah yang sangat berbuahaya D’Riser, sehingga digolongkan ke dalam 8 masalah Kesehatan Global (Global Health Issues).

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), yaitu virus yang menghancurkan atau mengganggu fungsi dari sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya dengan Ebola yang akan menular hanya dengan kontak cairan tubuh secara langsung dengan penderita yang menunjukkan gejala-gejala sakit parah, penularan HIV seringkali tak disadari karena bisa jadi orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali! Ngeriii!

Virus ini bisa menyebar melalui penyaluran cairan reproduksi, darah, dan air susu ibu (ASI). Tapi, seorang yang terinfeksi virus HIV tidak akan langsung menderita AIDS. Virus HIV akan menggerogoti sistem kekebalan tubuh rata-rata dalam waktu 10 tahun atau kurang. Ketika sistem imun tubuhnya sudah sangat rusak, barulah orang itu akan menderita AIDS. Penderita AIDS (biasa disebut ODHA) akan rentan dari berbagai penyakit ganas yang biasanya tidak menjangkiti orang-orang dengan sistem imun yang sehat. Bila tidak dirawat, rata-rata ODHA hanya bisa bertahan hidup 3 tahun saja. Sereem!

Virus Ebola

Seperti halnya Ebola, HIV/AIDS juga belum ada obat penyembuhnya lho, yang baru ada sekarang hanyalah terapi dan perawatan untuk memperlambat penyebaran virus HIV. Padahal, sudah puluhan tahun berlalu sejak penyakit ini pertama kali ditemukan. Menurut pelacakan tim peneliti dari universitas Oxford, Virus yang sudah menginfeksi hampir 75 juta orang di dunia ini berasal dari kota Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1920.

HIV diyakini merupakan mutasi dari SIV (simian immunodeficiency virus) yang menjangkiti simpanse, yang menular kepada manusia karena proses berburu. Virus ini kemudian semakin menyebar akibat merajalelanya pelacuran dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril di kota yang sedang tumbuh tersebut. Seiring dengan berkembangnya sarana transportasi masuk dan keluar Kinshasa, virus HIV pun menyebar di wilayah Afrika dan akhirnya ke seluruh dunia.

Virus HIV memasuki Amerika di kisaran tahun 1980an, dan menyebar terutama di kalangan homoseksual (gay) dan pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik. Sebelumnya di tahun 1960, Amerika mengalami apa yang disebut “revolusi seksual” (sexual revolution) atau “pembebasan seksual” (sexual liberation), yang menggugat dan menjungkirbalikkan norma-norma sosial dan tata krama seksualitas. Yang semula tertutup menjadi terbuka. Yang semula terbatas menjadi bebas. Yang semula sembunyi-sembunyi, menjadi perayaan. Bahkan film porno pun ditayangkan untuk umum di bioskop. Hororr!

Maka dari itu, nggak heran bila di Amerika virus mematikan ini menyebar lebih cepat dibanding di negara lain. Bahkan karena banyak menjangkiti kaum gay, Pemerintahan Reagan pun menganggap AIDS sebagai “azab” dari Tuhan. Di Indonesia, kasus AIDS pertama ditemukan di Bali, yang diderita oleh seorang wisatawan asal Belanda. Dari tahun ke tahun, jumlah ODHA di Indonesia terus meningkat. Data Kemenkes, jumlah kasus HIV/AIDS yang tercatat sejak 1987 hingga Juni 2014 di Indonesia sebanyak 198.584 orang, dimana kasus HIV sebanyak 142.961 orang dan AIDS 55.623 orang. Naudzubillah…

Penderita AIDS di dunia maupun di Indonesia, mayoritas diakibatkan karena perilaku yang menyimpang, baik homoseksual, biseksual maupun seks bebas dan pelacuran. Dari para pelaku maksiat ini, AIDS bisa menyebar kepada “orang tak berdosa” melalui transfusi darah, pernikahan bahkan pada janin yang masih dalam kandungan.

Karena itu, solusi terbaik untuk mengatasi masalah AIDS ini adalah solusi preventif, alias mencegah penyebaran virus HIV sampai ke akar masalah diantaranya yaitu menghilangkan praktek seks bebas dan homoseksual. Islam, sejak 14 abad yang lalu sudah mengharamkan zina dan liwath (homoseksual) dengan tegas dan keras. Bukan cuma itu, celah-celah yang bisa mengantarkan terhadap zina dan liwath pun ditutup sedemikian rupa, misalnya melarang lelaki & perempuan berkhalwat (berduaan), melarang pacaran, melarang untuk tidur dalam satu selimut baik antara laki-laki maupun perempuan, sampai pada larangan untuk melihat aurat.

Inilah salah satu hikmah dari ketatnya aturan Islam dalam urusan seksual, tidak lain untuk melindungi manusia dari kehancuran akibat perbuatan manusia sendiri. Padahal ketika kerusakan itu terjadi, yang kena bukan hanya para pelaku kebejatan itu, tapi termasuk juga orang-orang lain di sekitar mereka. Makanya D’Riser, daripada maksiat, mendingan taat, InsyaAlloh selamat dunia akhirat.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42